Untuk mas fawaid, perpektif itu kaya, Dan terserah kepada kita mau pakek yang 
mana. Suka-suka gue dong....
Mas Hamzah sahal yang baik. Gus Dur adalah teks yang bebas ditafsirkan oleh 
siapapun. Bukan hanya kelompoknya saidiman yang menafsirkannya, kelompok PKB 
yang pro terhadapnya juga seringkali mempolitisasi gus dur. 
Ia teks yang bebas ditafsir oleh siapapun, bukankah begitu yang dulu diajarkan 
dibangku kuliah. 
Saya pun bisa menafsirkan gus dur dengan kemauan dan kepentingan saya sendiri. 
Persoalannya; sejauhamana proses penafsiran itu digunakan untuk hal-hal yang 
manfaat. Jadi, biarkan tafsir itu bebas, tak perlu dibatasi. Pak hamzah juga 
berhak menafsirkan gus dur. Misalnya, untuk nembak cewek bisa pakek rekomendasi 
gus dur, biar manjur...kan udah lama jomblo (Semoga salah)
Salam
 
 
Hatim
 
 


--- On Wed, 7/9/08, Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [kmnu2000] Abdurrahman Wahid
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 9, 2008, 3:16 PM






HIDUP GUS DUR!

INDONESIA TANPA GUS DUR TIDAK AKAN RAMAI DAN MENARIK....

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] s.com [mailto:[EMAIL PROTECTED] s.com] On
Behalf Of hamzah sahal
Sent: Wednesday, July 09, 2008 2:43 PM
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: Re: [kmnu2000] Abdurrahman Wahid

salam,
saya melihat ada tanda-tanda fasisme dalam tulisan-tulisan saudara anam.
jangan begitu kawan. indonesia milik semua.

begini, kalau gak ada kelemehannya, gus dur malaikat donk, bukan wali.
gus dur harus "melakukan" kesalahan, dan kesalahannya harus banyak. 
kalau sedikit, dia akan jadi nabi, bukan wali.

yang saya tidak suka dari saidiman dan para seniornya di sana adalah,
tampak ada usaha mengeksploitasi semua yg ada di diri gus dur. gus dur
dibincangkan, dibicarakan, kalamnya ditafsiri untuk mendukung gerakan
liberalnya saidiman dan para seniornya itu. 

dalam talk show di 68h gus dur pernah menolak dengan "ilmiah" bahwa
dirinya dan nu bukanlah liberal. lutfi syaukani, yg pada waktu itu
menjadi lawan bicaranya, yg melontarkan bhw nu itu liberal, diam saja. 

kawan-kawan liberal mengeksploitasi gus dur, seperti kawan-kawan di
garis politik-praktis bermadzah uang mengekslpoitasinya.

salam hangat utk semua,

hamz`

----- Original Message ----
From: Ahmad Fawaid <fawaid.sjadzili@ gmail.com>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Wednesday, July 9, 2008 1:33:27 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Abdurrahman Wahid

Betul sekali bung Anam, kita memang tidak perlu mengeneralisir
persoalan.
Setiap persoalan akan dibaca dalam perspektif, dan tentu saja akan
berbeda
ketika dibaca oleh lainnya. Biarkanlah perspektif untuk suatu persoalan,
dan
silahkan perspektif lain membaca persoalan itu. Ini artinya perspektif
itu
tidak tunggal, termasuk dalam melihat Gus Dur dan apa saja. Ada
perspektif
Saidiman, Perspektif Anam, dll. Dan ternyata, untuk sosok Gus Dur saja
banyak perspektif dalam membacanya, begitu juga dalam membaca NU. Kita
hanya
berhak mengafirmasi dan membantah, tapi bukan melarang perspektif itu
hadir.

AFS

On Wed, Jul 9, 2008 at 12:46 PM, Kh Anam <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

> Bung Saidiman,
> Anda yang bergelut dengan JIL sehari-harinya selalu berfikir tentang
> pembelaan terhadap minoritas dan kebebasan beragama akan melihat
> Abdurrahman
> Wahid (Gus Dur) sebagai sosok yang luar biasa. Anda akan
mengenyampingkan
> hal lain dalam Gus Dur misalnya otoriternya, atau posisi Gus Dur
sebagai
> tukang bikin isu yang tidak berdasar. Anda akan membiikin pembenaran
untuk
> semua itu. Dan kali ini anda sampai pada derajat yang sangat tidak
ilmiah
> yakni "fanatik".
>
> Akan berbeda 180derajat dengan kelompok Islam garis keras dalam
melihat
> sosok yang sama.
>
> Anda menyebut Prof. Muddathir Abdel-Rahim dari malaysia Malaysia
sedang
> mengelu-elukan Gus Dur, kalau anda mau membandingkan pasti berbeda
dengan
> kesan para pemimpin partai Islam se-Malaysia (PAS) terhadap sosok yang
> sama.
>
> Pihak Barat Amerika yang sedang gencar membincang "toleransi dan
demokrasi"
> untuk bisa mengintervensi negara-negara lain akan menempatkan Gus Dur
> sebagai sosok yang ideal. Sementara bagi Iran yang gencar melawan
Barat
> dengan Nuklirnya, atau para memimpin Amerika latin yang menyerang
sistem
> ekonomi neoliberal gaya Amerika, Gus Dur malah tidak ada apa-apanya.
>
> Demikianlah. Banyak juga orang Indonesia yang bergelut di bidangnya
> sendiri,
> dan tidak ada kaitanya dengan Gus Dur, malahan tidak memikirkan Gus
Dur
> sama
> sekali.
>
> Saya masih percaya bahwa kesan atas seseorang selalu tergantung pada
apa
> yang sedang bergelayut dalam pikiran si-pemberi kesan, apa yang
> diharapkannya, yang dicita-citakannya sendiri.
>
> Jadi menurut saya, tidak perlu mengeneralisir persoalan.
>
> Salam,
> Anam
 














      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke