Aswb

mari membahas masalah apapun dengan kacamata dada ( maaf,yang saya maksud bukan 
BH )...

Setiap apa yang tertangkap oleh indera, baik mata, telinga atau hidung dan 
lidah, tentunya  sedikit banyak akan bereaksi dengan dada. Imbasnya dada ini 
melonjak kegirangan atau mengerut kecut kembut -kembut

Lha, Quran sendiri adalah obat penyakit dada. Yang berfungsi men "salam'kan 
kalbu alias menetralisir gejolak reaktif yang berbuntut like atau dislake. Dan 
Quran  bertujuan mengarahkan  sampai tahap dada ini hanya berhak diisi oleh 
kalimat tauhid, tempat bersaksi, tempat mutmainah.Qolbun salim..

Kalau dalam hal GD, rata2 baik yang like atau dislike sebenarnya posisi mental 
( hatinya ) sama saja. Alias sama - sama tertambat pada sosok GD. Bedanya, 
satunya fanatik, satunya antifanatik.  

Walaupun sama-sama mempunyai pembenaran sudut pandang, tapi ya tetep saja 
center pointnya masih GD. Pusat penumpahan rasa masih GD. Belum naik kelas...

Akibatnya, tentu ketika nama GD disebut sekilas saja...wuih pasti hatinya sama2 
bergejolak hebat...daya nalarnya masing2 pihak  dalam memberikan penilaian 
bagaikan kecepatan buraq. Pakai ilmu pasti, maksudnya pasti seneng atau pasti 
benci.

Ah...kita sudah terlalu lupa Siapa yang membuat GD....kita belum naik kelas...

Sehingga ketika nama Sang Pembuat GD di sebut, hati kita tak pernah rontok 
sujud tersungkur meluap luap dan bersaksi bahwa Dialah sebenarnya Maha 
Penggerak. La haula wa la quwwata ila billah....

semua hanya wayang yang tak punya kuasa gerak bila mesin penggerak yang bernama 
Ruh itu selesai tugasnya...tak peduli GD atau HR

Tapi kalau kita ini terlalu pandai atas kebebalan pembelaan diri beserta 
perolehan2nya, mungkin ayat diatas sekedar cuci mulut ...tak pernah benar-benar 
menjadi center point yang mengguncangkan hidup kita.Bahkan diam-diam secara 
terorganisir halus, ayat tersebut kita bungkus rapi dan kita taruh ditempat 
paling tersembunyi yang kita sendiri menyengajakan diri agar segan menjamahnya.

Jadi, mari kita bertauhid ala Ibrahim As yang berani memenggal kepala anaknya, 
Ismail yang bermakna kita harus berani memenggal perolehan2 kepala yang sangat 
kita cintai ini, agar terbuka kefitrahan hati.

Mari meniru keperkasaan Ibrahim As menebas berhala -berhala dalam diri yang 
berisi patung dewa keberuntungan ( like &  fanatik ) dan patung bencana ( 
dislike & antifanatik ) beserta derivatif analisa keilmuannya.

 Untuk kita gantikan dengan kalimat tauhid Lailahailallah....

Gus dur ? la....
Habib Rizieq ? la...
AKKB ? la...
FPI ? la...

Hasbunallah, cukup Allah saja....

Berguncangkah dada kita ketika disebut Allah  ? atau guncangan hati kita masih 
pada tahap bila disebut GD atau HR ?

Mari menunjuk dada sendiri2

Wassalam, sekedar memaknai syahadat

Dody Ide

http://padhangjingglang.blogspot.com 








--- Pada Rab, 9/7/08, Shofi Muhyiddin <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Dari: Shofi Muhyiddin <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Re: [kmnu2000] Abdurrahman Wahid
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 9 Juli, 2008, 4:41 PM

assalamualaikum....
saya tidak menyalahkan siapapun
dan saya setuju dengan pendapat kang fawaid dan kang anam,memang kita tidak
perlu mengeneralisir persoalan,tapi saya kurang setuju dengan kang anam,kalau
kita memang tidak perlu mengeneralisir permasalahan,kenapa harus memberi
predikat kang saidiman dengan "derajat yang tidak ilmiyah
(fanatik)",harusnya kita biarkan saudara-saudara kita berpendapat,toh
menurut saya semua orang itu tidak terlepas dari kefanatikan,misalnya kang
saidiman yang getol membela gus dur,dan mungkin anda sendiri yang getol membela
yang lain,bukannya itu juga dinamakan fanatik????terus kok bisa fanatik
tergolong dalam derajat tidak ilmiyah,lha terus ilmiyahnya bagaimana?
maka dari itu,biarkanlah bila ada perbedaan dalam tubuh kita,toh perbedaan
dalam hal furu'...maaf dan terima kasih.
wassalamualaikum...
CAH BODOH


--- On Wed, 7/9/08, Ahmad Fawaid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Ahmad Fawaid <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [kmnu2000] Abdurrahman Wahid
To: [email protected]
Date: Wednesday, July 9, 2008, 6:33 AM

Betul sekali bung Anam, kita memang tidak perlu mengeneralisir persoalan.
Setiap persoalan akan dibaca dalam perspektif, dan tentu saja akan berbeda
ketika dibaca oleh lainnya. Biarkanlah perspektif untuk suatu persoalan, dan
silahkan perspektif lain membaca persoalan itu. Ini artinya perspektif  itu
tidak tunggal, termasuk dalam melihat Gus Dur dan apa saja. Ada perspektif
Saidiman, Perspektif Anam, dll. Dan ternyata, untuk sosok Gus Dur saja
banyak perspektif dalam membacanya, begitu juga dalam membaca NU. Kita hanya
berhak mengafirmasi dan membantah, tapi bukan melarang perspektif itu hadir..


AFS


On Wed, Jul 9, 2008 at 12:46 PM, Kh Anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bung Saidiman,
> Anda yang bergelut dengan JIL sehari-harinya selalu berfikir tentang
> pembelaan terhadap minoritas dan kebebasan beragama akan melihat
> Abdurrahman
> Wahid (Gus Dur) sebagai sosok yang luar biasa. Anda akan mengenyampingkan
> hal lain dalam Gus Dur misalnya otoriternya, atau posisi Gus Dur sebagai
> tukang bikin isu yang tidak berdasar. Anda akan membiikin pembenaran untuk
> semua itu. Dan kali ini anda sampai pada derajat yang sangat tidak ilmiah
> yakni "fanatik".
>
> Akan berbeda 180derajat dengan kelompok Islam garis keras dalam melihat
> sosok yang sama.
>
> Anda menyebut Prof. Muddathir Abdel-Rahim dari malaysia Malaysia sedang
> mengelu-elukan Gus Dur, kalau anda mau membandingkan pasti berbeda dengan
> kesan para pemimpin partai Islam se-Malaysia (PAS) terhadap sosok yang
> sama.
>
> Pihak Barat Amerika yang sedang gencar membincang "toleransi dan
demokrasi"
> untuk bisa mengintervensi negara-negara lain akan menempatkan Gus Dur
> sebagai sosok yang ideal. Sementara bagi Iran yang gencar melawan Barat
> dengan Nuklirnya, atau para memimpin Amerika latin yang menyerang sistem
> ekonomi neoliberal gaya Amerika, Gus Dur malah tidak ada apa-apanya.
>
> Demikianlah. Banyak juga orang Indonesia yang bergelut di bidangnya
> sendiri,
> dan tidak ada kaitanya dengan Gus Dur, malahan tidak memikirkan Gus Dur
> sama
> sekali.
>
> Saya masih percaya bahwa kesan atas seseorang selalu tergantung pada apa
> yang sedang bergelayut dalam pikiran si-pemberi kesan, apa yang
> diharapkannya, yang dicita-citakannya sendiri.
>
> Jadi menurut saya, tidak perlu mengeneralisir persoalan.
>
> Salam,
> Anam
>
> 2008/7/8 saidiman saidiman <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> >   Abdurrahman Wahid
> >
> > Ada yang menarik dari konferensi tahunan ketujuh yang diadakan oleh
> > Globalization for the Common Good, From the Middle East to Asia
Facific:
> Arc
> > of Conflict or Dialogue of Cultures and Religions?, 30 Juni – 3
Juli
> 2008,
> > di Melbourne, Australia. Para peserta dan pembicara yang berasal dari
> > universitas-universitas terkemuka pelbagai Negara ini hampir selalu
> menyebut
> > nama mantan presiden Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur),
> > sebagai contoh ideal pemuka agama tradisional yang begitu gigih
> > memperjuangkan semangat toleransi dan perdamaian.
> >
> > Prof. Muddathir Abdel-Rahim (International Institute of Islamic
Thought
> and
> > Civilization, Malaysia) menunjuk Gus Dur sebagai sosok yang berhasil
> > membalik prasangka banyak kalangan tentang wajah Islam yang cenderung
> > dipersepsi tidak ramah terhadap isu-isu toleransi dan perdamaian.
Prof.
> > Abdullah Saeed (The University of Melbourne) juga mengakui posisi
penting
> > Gus Dur dalam upaya kontekstualisasi nilai-nilai universal
al-Qur'an. Dr.
> > Natalie Mobini Kesheh (Australian Baha'i Community) mengatakan
bahwa
> > satu-satunya pemimpin Islam dunia yang begitu akomodatif terhadap
> komunitas
> > Baha'i adalah Gus Dur. Prof. James Haire (Charles Stuart
University, New
> > South Wales) berkali-kali memberi pujian kepada Gus Dur yang ia nilai
> paling
> > gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas.
Sementara
> Dr.
> > Larry Marshal (La Trobe University, Australia) menyebut Gus Dur
sebagai
> > pemikir cemerlang yang memiliki pandangan luas. Marshal bahkan sangsi
> > Indonesia bisa
> > melahirkan pemikir-aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus
> tahun
> > ke depan. Apresiasi dan pujian dari masyarakat intelektual dunia ini
> bukan
> > sekali ini saja. Gus Dur kerapkali menerima sejumlah penghargaan dari
> banyak
> > lembaga internasional yang bersimpati terhadap perjuangannya selama
ini.
> >
> > Apresiasi semacam itu justru agak berbeda dengan situasi mutakhir di
> > Indonesia. Belakangan ini Gus Dur tampak sedang berada pada fase-fase
> yang
> > cukup sulit. Setelah tersingkir dari jabatan struktural Nahdlatul
Ulama
> > (NU), diganti oleh bekas loyalisnya, Hasyim Muzadi, kini Gus Dur
harus
> > menghadapi tekanan politik dari kemenakannya, Muhaimin Iskandar, di
> Partai
> > Kebangkitan Bangsa (PKB). Musuh-musuh ideologisnya bahkan secara
> > terang-terangan berani memperolok-olok mantan presiden ini di depan
> publik.
> > Pada sebuah acara talk show di sebuah stasiun televisi, Rizieq Shihab
> > menyebut Gus Dur "buta mata, buta hati." Olok-olok dan
penghinaan ini
> > kemudian diikuti oleh pengikut-pengikut Rizieq di pelbagai daerah
yang
> tanpa
> > sungkan membawa poster olok-olok tersebut ke jalan-jalan.
> >
> > Gus Dur tidak hanya menuai tantangan dari musuh-musuh politik dan
> > ideologisnya. Madina, sebuah majalah yang dikenal moderat dan
kerapkali
> > menampilkan gagasan-gagasan pembaruan Islam, tidak menyebut namanya
dalam
> > daftar 25 tokoh Islam damai di Indonesia. Gus Dur tersingkir dari
> nama-nama
> > beken seperti Abdullah Gymnastiar, Arifin Ilham, atau Helfy Tiana
Rosa.
> > Bahkan di kalangan kelompok moderat Indonesia sekalipun, Gus Dur tak
> jarang
> > terabaikan.
> >
> > Meski begitu, apa yang terjadi pada konferensi Melbourne dan
forum-forum
> > internasional lain bukan sekedar apresiasi dan pujian, melainkan
harapan.
> > Gus Dur dianggap sebagai harapan bagi masa depan perdamaian di
Indonesia
> dan
> > dunia Islam pada umumnya. Melalui aktivitas pembelaan terhadap
kelompok
> > pinggiran, Gus Dur telah memberi bukti bahwa Islam juga punya
semangat
> > toleransi dan perdamaian, bahkan dalam bentuk yang paling tradisional
> > sekalipun.
> >
> > Posisi Gus Dur sebagai politisi dan pejuang HAM sekaligus adalah
sesuatu
> > yang memang langka. Dan kemampuannya melakukan pembedaan secara
jernih
> > mengenai posisinya itu adalah sesuatu yang mengagumkan. Perjuangannya
> untuk
> > tetap membela hak-hak minoritas tak pernah surut kendati tampak tidak
> > menguntungkan secara politik. Ketika kebanyakan politisi angkat
tangan
> dan
> > bungkam terhadap kasus minoritas Ahmadiyah, Gus Dur justru tampil di
> garda
> > depan sebagai pembela hak-haknya. Bagi Gus Dur, adalah hak pengikut
> > Ahmadiyah untuk hidup sebagaimana rakyat Indonesia pada umumnya.
> Jaminannya
> > adalah Konstitusi. Perkataan Gus Dur dalam sebuah konferensi pers
mungkin
> > akan sulit dilupakan para pejuang HAM dan demokrasi: "Selama
saya masih
> > hidup, saya akan tetap membela keberadaan Jemaat Ahmadiyah, karena
itu
> > sesuai dengan amanat Konstitusi." Bagi Gus Dur, hak hidup semua
orang
> dengan
> > latar belakang primordial apapun adalah harga mati.
> >
> > Barangkali memang Gus Dur tidak sedang berada pada waktu dan tempat
yang
> > tepat. Aktivitas dan pemikirannya terlalu jauh meninggalkan zamannya.
> Hanya
> > masyarakat maju dan tercerahkan yang bisa mengapresiasi
perjuangannya.
> > Ketika Gus Dur berjibaku dengan isu-isu perdamaian bagi negeri
tercinta,
> > antusiasme masyarakat Indonesia terhadap gagasan-gagasannya justru
> melemah.
> > Dalam pelbagai survey opini public, suara Gus Dur malah anjlok ke
titik
> > terendah. Jika di dalam negeri Gus Dur dicaci dan direndahkan, untuk
> > masyarakat internasional pecinta perdamaian, Gus Dur adalah pemimpin.
> > Saidiman
> > www.saidiman.wordpress.com
> >
> > Send instant messages to your online friends
> http://uk.messenger.yahoo.com
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> ------------------------------------
>
> ______________________________________________________________________
> http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir
> dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda
> harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
> [EMAIL PROTECTED]
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>


-- 
A. Fawaid Sjadzili
http://fawaidku.blogspot.com


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links




      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links




      
___________________________________________________________________________
Dapatkan situs lowongan kerja - Yahoo! Indonesia Search.
http://id.search.yahoo.com/search?p=lowongan+kerja&cs=bz&fr=fp-top

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke