Assalamu Alaikum ----- Original Message ----- From: saidiman saidiman To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, July 08, 2008 4:55 PM Subject: [kmnu2000] Abdurrahman Wahid
Prof. James Haire (Charles Stuart University, New South Wales) berkali-kali memberi pujian kepada Gus Dur yang ia nilai paling gigih dalam memberi perlindungan terhadap kelompok minoritas. * Yang perlu dilindungi itu bukan minoritasnya akan tetapi kebenaranya, kalau memang minoritas itu berada pada posisi benar tentu harus dilindungi. Begitu juga mayoritas kalau yang mayoritas itu benar tentu juga harus dibela. Kalau pembelaan terhadap minoritas dengan mengesampingkan kebenaran atau kesalahan itu namanya pembelaan yang ngawur/bukan pada tempatnya. Sementara Dr. Larry Marshal (La Trobe University, Australia) menyebut Gus Dur sebagai pemikir cemerlang yang memiliki pandangan luas. Marshal bahkan sangsi Indonesia bisa melahirkan pemikir-aktivis seperti Gus Dur dalam jangka waktu seratus tahun ke depan. * Alhamdulillah hanya ada satu Gusdur di Indonesia, kalau ada dua atau tiga Gusdur di Indonesia, saya tidak bisa membayangkan akan terjadinya perang saudara sesama islam. Apresiasi semacam itu justru agak berbeda dengan situasi mutakhir di Indonesia. Belakangan ini Gus Dur tampak sedang berada pada fase-fase yang cukup sulit. Setelah tersingkir dari jabatan struktural Nahdlatul Ulama (NU), diganti oleh bekas loyalisnya, Hasyim Muzadi, kini Gus Dur harus menghadapi tekanan politik dari kemenakannya, Muhaimin Iskandar, di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Musuh-musuh ideologisnya bahkan secara terang-terangan berani memperolok-olok mantan presiden ini di depan publik. Pada sebuah acara talk show di sebuah stasiun televisi, Rizieq Shihab menyebut Gus Dur “buta mata, buta hati.” Olok-olok dan penghinaan ini kemudian diikuti oleh pengikut-pengikut Rizieq di pelbagai daerah yang tanpa sungkan membawa poster olok-olok tersebut ke jalan-jalan. * Sebelum Habib Rizieq menohok Gusdur dengan kata-kata pedas di SCTV, Gusdur dalam jumpa pers menyebut Habib Rizieq dengan "Kelompok bajingan", bahkan diulang sampi dua kali Barangkali memang Gus Dur tidak sedang berada pada waktu dan tempat yang tepat. Aktivitas dan pemikirannya terlalu jauh meninggalkan zamannya. Hanya masyarakat maju dan tercerahkan yang bisa mengapresiasi perjuangannya. * "Quulu Linnaasi Biqodri Uquulihim" Berkatalah/bertindaklah kepada manusia dengan mamahami kemampuan berpikirnya. Jadi jangan salahkan ummat yang awam jika tidak bisa memahami pemikiran Gusdur, karena pemikiran Gusdur jauh melayang keangkasa yang tak tentu tujuannya. Menyelesaikah persoalan Indonesia aja tidak mampu, bagaimana menyelesaikan persoalan dunia. Apapun alasanya Gusdur tidak mampu mengakomodir para pembantunya(menteri) ketika menjadi presiden, yang berujung pembangkangan terhadapnya, bagaimana menangani persoalan international? yang penuh trik dan intrik Ketika Gus Dur berjibaku dengan isu-isu perdamaian bagi negeri tercinta, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap gagasan-gagasannya justru melemah. Dalam pelbagai survey opini public, suara Gus Dur malah anjlok ke titik terendah. Jika di dalam negeri Gus Dur dicaci dan direndahkan, untuk masyarakat internasional pecinta perdamaian, Gus Dur adalah pemimpin. * Masyarakat Indonesia lebih tahu figur seorang Gusdur dari pada masyarakat international. Tentu Gusdur sangat dieluh-eluhkan oleh kelompok sekularisme dan liberalisme international karena ide-ide Gusdur sangat menguntungkan mereka. Wassalamu Alaikum Wa al-Rohmah wa al-Barokah Ibnu Zahid Abdo el-Moeid
