11 Juli 2008
Kiai Sahal: Pilih Orang yang Bersih

SM/dok Sahal Mahfudh

PATI- Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KHMA Sahal Mahfudh 
merasa prihatin dan menyesalkan sikap dan perilaku sejumlah pengurus NU 
yang tidak konsisten menjaga Khittah 1926.

''Keterpurukan dan carut-marut NU terjadi karena pengurusnya tidak mampu 
memegang amanat para kiai dan syahwat politiknya terlalu besar. 
Seolah-olah mereka memperjuangkan aspirasi dan kepentingan NU, padahal 
sesungguhnya mereka memperjuangkan kepentingan politiknya sendiri,'' 
tegasnya, kemarin.

Ia mengatakan hal itu kepada wartawan di Pati, menanggapi persiapan 
pelaksanaan Konferensi Wilayah (Konferwil) Ke-13 Nahdlatul Ulama Jateng. 
Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati itu 
menyarankan Pengurus Cabang untuk memilih figur rois Syuriyah dan ketua 
Tanfidziyah yang bersih dari tarik menarik kepentingan politik dan 
konsisten menjaga amanat para kiai terutama Khittah 1926.

''Menyeret-nyeret jam'iyyah ini kepada politik praktis seperti pilkada 
Jawa Tengah lalu itu artinya tidak istikamah,'' tegasnya. Orang-orang 
seperti itu, menurut dia, tidak pantas menjadi pemimpin Jam'iyyah 
Nahdlatul Ulama.

Yang lebih memprihatinkan lagi, lanjut dia, kecenderungan politik uang 
(money politics) juga mulai merasuki sejumlah warga NU. Ia mencontohkan 
di Jatim beberapa ormas Islam mendapat jatah mobil, bahkan dapat uang Rp 
1 miliar secara terang-terangan.

''Kok tidak punya rasa malu. Kami sudah tegur secara keras orang-orang 
yang terlibat. Di Jateng jangan sampai terjadi seperti itu,'' katanya.
Dia juga menyayangkan sikap sejumlah figur Pengurus Wilayah NU Jateng 
yang menjadi tim sukses dalam pilkada.

''Mereka ke sana-kemari terang-terangan menggunakan struktur jam'iyyah 
untuk kepentingan politik. Mereka itulah yang sesungguhnya jelas merusak 
NU. Faktanya jagonya kalah dalam pilkada,'' tegasnya.

Secara tegas ia minta cabang-cabang untuk tidak memilih orang-orang yang 
jelas telah merusak NU dalam Pilkada Jateng belum lama ini. Menurutnya, 
ke depan selain dibutuhkan orang-orang yang bersih dari tarik menarik 
politik, NU harus punya jaringan (networking) yang kuat baik dengan 
kalangan pengusaha, birokrasi pemerintahan maupun swasta, pengalaman dan 
selalu tawadhuk kepada kiai.

Kiai kharismatik itu mengimbau pihak-pihak di luar NU untuk menghormati 
proses demokrasi yang berjalan di kalangan para kiai. ''Jangan sampai 
konferwil dikotori oleh perilaku dan sikap-sikap yang tidak berakhlakul 
karimah.''

Konferwil akan berlangsung 11-13 Juli 2008 di Pondok Pesantren 
Al-Hikmah-2, Benda, Sirampog, Brebes. Menurut informasi Ketua Umum PBNU 
KH Hasyim Muzadi yang dijadwalkan akan membuka acara itu berhalangan 
hadir. PBNU akan diwakili Ketua PBNU Prof Dr H Said Aqil Siradj dan KH 
Ahmad Bagdja.

Sejumlah nama yang muncul sebagai calon ketua tanfidziyah yaitu Drs H 
Ali Mufiz MPA (sekarang wakil ketua PWNU dan Gubernur Jateng), Prof Dr H 
Abdul Djamil MA (sekarang a'wan Syuriyah PWNU dan Rektor IAIN 
Walisongo), Drs H Achmad (mantan wagub dan mantan ketua PWNU Jateng), 
Prof Dr H Mudjahirin Thohir MA (sekarang wakil ketua PWNU Jateng), Dr H 
Noor Achmad MA (sekarang aĆ­wan Syuriyah PWNU dan Rektor Universitas 
Wahid Hasyim Semarang) serta Dr H Abu Hapsin MA.

Di kalangan cabang-cabang juga beredar kabar meski Ketua PWNU Jateng Drs 
H Moh Adnan MA sudah menyatakan tidak akan maju, belakangan menyatakan 
akan maju sebagai ketua lagi.(H9-60)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke