Assalamu Alaikum

Ngapunten yai, bisa jadi analogi Kyai Mus ada benarnya. Yakni yang 
dilakonkan Gusdur sekarang adalah maqom hakikat, seperti halnya nabi Khidir 
dengan nabi Musa, sampai kapanpun syari'at dengan hakikat tidak akan 
nyambung. Nabi Khidir memang lebih mengetahui masalah yang sebenarnya dari 
pada nabi Musa yang hanya melihat dari aspek lahirnya 
permasalahan(Syari'at).

Akan tetapi dengan latar belakang nabi Khidir yang mengedepankan hakikat, 
Alloh tidak mengutus beliau untuk menyebarkan hakikat tersebut kepada 
ummatnya. Justru Nabi Musa yang diperintah untuk menyebarkan kepada kaumnya 
dengan syari'at.

Jadi lakon-lakon Gusdur yang cenderung mengutamakan hakikat selayaknya tidak 
untuk konsumsi publik. Seperti nabi Khidir yang hanya 
mengutarakan/memperlihatkan hakikat kepada nabi Musa. Dan nabi Khidir pun 
tidak men folluw up ajaran hakikat yang jalankannya. Beliau memperlihatkan 
hakikat kepada nabi Musa ketika nabi Musa diperintah Alloh untuk menemuinya 
dan berguru padanya.

Sekali lagi mohon maaf jika ada yang kurang berkenan atas komentar kami.

Wasssalam
Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

Jawa Pos Edisi Jum'at, 11 Juli 2008
Kolom Opini


Celaka 13!
Oleh A. Mustofa Bisri *

Sejak PKB dideklarasikan, saya selalu disebut-sebut sebagai salah seorang 
deklarator; bahkan tidak jarang foto saya ikut mejeng di belakang gambar Gus 
Dur di baliho-baliho atau spanduk-spanduk. Kabarnya, kemarin di MLB Parung 
maupun Ancol pun terpasang spanduk yang juga ada gambar saya.

Meskipun saya tidak hadir di Ciganjur saat deklarasi PKB yang konon sangat 
meriah, dulu saya diam saja disebut-sebut sebagai salah satu deklarator. 
Saya pikir, wong hanya begitu saja; lagi pula deklarator disebut-sebut kan 
sebelum ada muktamar. Nanti kalau sudah ada muktamar kan tidak akan 
disebut-sebut lagi.

Ternyata, saya salah. Sampai 7 (tujuh) kali muktamar PKB (kebanyakan 
muktamar luar biasa), nama saya sebagai deklarator masih disebut-sebut.

Semula PKB kompak dan hasilnya lumayan. Namun, mungkin karena hasilnya 
lumayan itulah, kekompakannya mulai terganggu.

Misalnya, mulai timbul kubu-kubuan. Mulai kubu Gus Dur/Alwi v kubu Matori; 
kubu Gus Dur/Alwi v kubu Saifullah/beberapa kiai; kubu Gus Dur/Muhaimin v 
kubu Saifullah/Anam/Alwi/beberapa kiai; sampai terakhir kubu Gus 
Dur/Yenny/Ali Masykur v Muhaimin cs.

Saya pun mulai malu dan dari saat ke saat semakin malu dikait-kaitkan dengan 
pendeklarasian PKB. Klimaksnya adalah menyaksikan tontonan perkelahian 
telanjang Yenny dengan Muhaimin di depan para pimpinan partai dan khalayak 
Indonesia. Maka, sebelum amplop nomor undian PKB dibuka, saya pun sudah 
ingin nyeletuk: "Celaka 13!"

Sebelumnya, saya terheran-heran mendengar komentar dari DPP PKB yang 
menyatakan kaget jago PKB di Pilgub Jawa Tengah kalah. Saya terheran-heran 
kok ya ada pimpinan PKB yang kaget mendengar calon PKB kalah; wong 
calon-calonnya sendiri tidak kaget. Berarti memang ada pimpinan PKB di atas 
yang tidak mudheng dengan kondisi riil di bawah.

Pantas saja mereka seperti tidak prihatin dengan kebingungan konstituen 
mereka sendiri di bawah dan dengan ndableg-nya terus bertikai yang entah 
berebut apa.

Tiba-tiba saya teringat analisis seorang kawan yang melihat Gus Dur /PKB 
dari prespektif "kewalian". Dia memulai dengan menceritakan kisah Nabi Musa 
dan Nabi Khidir.

Seperti dikisahkan dalam kitab suci Alquran, Nabi Musa tidak kunjung paham 
dengan apa yang dilakukan Nabi Khidir sebagai orang yang akan diikutinya. 
Berkali-kali Nabi Musa yang ilmunya "baru" syariat menegur dan mengecam apa 
yang dilakukan Nabi Khidir yang berilmu hakikat. Melihat Nabi Khidir merusak 
perahu nelayan yang ditumpanginya, Nabi Musa kontan menegur dengan nada 
menyalahkan. Melihat Nabi Khidir membunuh anak kecil, Nabi Musa menegur dan 
mengecam.

Pun juga melihat Nabi Khidir memperbaiki dinding orang yang akan roboh, Nabi 
Musa menegur dan mengecam. Akhirnya, Nabi Khidir pun mengucapkan selamat 
berpisah kepada Nabi Musa.

Intinya, kawan saya ini ingin menganalogkan apa yang dilakukan Gus Dur 
dengan apa yang dilakukan Nabi Khidir dan ketidakpahaman orang dengan 
ketidakpahaman Nabi Musa.

''Kalau kiai-kiai yang dulu mati-matian mendukung Gus Dur itu paham, mereka 
tidak akan mendirikan partai baru,'' katanya. ''Mereka mendirikan partai 
baru karena jengkel dengan kelakuan awur-awuran Gus Dur dalam memimpin PKB. 
Padahal, Gus Dur memang sengaja membuat mereka jengkel agar mereka benci dan 
meninggalkan kehidupan kepartaian yang awur-awuran.''

''Sekarang ini,'' kata si kawan melanjutkan "analisis''-nya, ''justru 
menjelang Pemilu 2009 Gus Dur seperti sengaja membunuhi anak-anaknya sendiri 
dan merusak perahunya yang bernama PKB. Karena ''perahu'' itu milik 
orang-orang miskin; jangan sampai dirampas dan dipakai oleh orang-orang yang 
hanya ingin memperkaya diri, termasuk anak-anaknya sendiri."

Meskipun analisis itu kedengaran konyol dan ngoyoworo, melihat kelakuan para 
pimpinan PKB yang sama-sama ngotot berebut benar sampai saat ini dan 
mengingat semakin dekatnya jadwal pemilu, saya kok jadi khawatir: 
jangan-jangan... Wah, celaka tiga belas!

*. KH Mustofa Bisri , pengasuh pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang. 
Dikenal sebagai budayawan dan tokoh senior NU 


Kirim email ke