Sangat
ironis memang, dikala menengok situasi dan kondisi bangsa ini yang kian
terpuruk sementara di lain sisi segelintir orang tengah asik
berfoya-foya di atas tangisan manusia Indonesia lainnya. Sebut saja
sebuah pernikahan termegah salah satu anggota keluarga konglomerat yang
sampai menghabiskan dana 10 milyar rupiah.
Tidak ada
salahnya memang jika seseorang menikmati harta kekayaannya untuk apa
saja, namun bagaimana jadinya jika hal itu tidak dibarengi dengan sikap
kebersahajaan dan keprihatinan, yang ada hanya tingkah pongah dan
kesombongan yang kian menumpuk dan memupuk hari demi hari.
Pola hidup sederhana, itulah yang telah hilang dari budaya bangsa.
raibnya tenggang rasa diantara sesama semakin menjadi seiring dengan
kemelaratan negeri ini. Sementara orang berada terus menghisap uang
rakyat, tak jarang uang negara juga ikut disikat.
Berbagai
macam musibah melanda tanah air, bermacam kesenangan dunia pun mewabah
di Indonesia. Dimana letak surga, diantara tangisan airmata korban
bencana atau keserakahan hawa nafsu yang terus mendesah. Kemana nurani
hati jika semuanya tersarat dengan birokrasi dan manipulasi. Indonesia,
elegi ironi Nusantara.
__________________________________________________________
Not happy with your email address?.
Get the one you really want - millions of new email addresses available now at
Yahoo! http://uk.docs.yahoo.com/ymail/new.html
[Non-text portions of this message have been removed]