http://www.suaramerdeka.com/

Kiai Sahal: Pilih Orang yang Bersih


 
SM/dok
Sahal Mahfudh
  PATI-
Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KHMA Sahal Mahfudh
merasa prihatin dan menyesalkan sikap dan perilaku sejumlah pengurus NU
yang tidak konsisten menjaga Khittah 1926.

’’Keterpurukan dan carut-marut NU terjadi karena pengurusnya tidak
mampu memegang amanat para kiai dan syahwat politiknya terlalu besar.
Seolah-olah mereka memperjuangkan aspirasi dan kepentingan NU, padahal
sesungguhnya mereka memperjuangkan kepentingan politiknya sendiri,’’
tegasnya, kemarin.

Ia mengatakan hal itu kepada wartawan di Pati, menanggapi persiapan
pelaksanaan Konferensi Wilayah (Konferwil) Ke-13 Nahdlatul Ulama
Jateng. Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Margoyoso, Pati
itu menyarankan Pengurus Cabang untuk memilih figur rois Syuriyah dan
ketua Tanfidziyah yang bersih dari tarik menarik kepentingan politik
dan konsisten menjaga amanat para kiai terutama Khittah 1926. 

’’Menyeret-nyeret jam’iyyah ini kepada politik praktis seperti pilkada
Jawa Tengah lalu itu artinya tidak istikamah,’’ tegasnya. Orang-orang
seperti itu, menurut dia, tidak pantas menjadi pemimpin Jam’iyyah
Nahdlatul Ulama. 

Yang lebih memprihatinkan lagi, lanjut dia, kecenderungan politik uang
(money politics) juga mulai merasuki sejumlah warga NU. Ia mencontohkan
di Jatim beberapa ormas Islam mendapat jatah mobil, bahkan dapat uang
Rp 1 miliar secara terang-terangan. 

’’Kok tidak punya rasa malu. Kami sudah tegur secara keras orang-orang
yang terlibat. Di Jateng jangan sampai terjadi seperti itu,’’ katanya.
Dia juga menyayangkan sikap sejumlah figur Pengurus Wilayah NU Jateng yang 
menjadi tim sukses dalam pilkada. 

’’Mereka ke sana-kemari terang-terangan menggunakan struktur jam’iyyah
untuk kepentingan politik. Mereka itulah yang sesungguhnya jelas
merusak NU. Faktanya jagonya kalah dalam pilkada,’’ tegasnya.

Secara tegas ia minta cabang-cabang untuk tidak memilih orang-orang
yang jelas telah merusak NU dalam Pilkada Jateng belum lama ini.
Menurutnya, ke depan selain dibutuhkan orang-orang yang bersih dari
tarik menarik politik, NU harus punya jaringan (networking) yang kuat
baik dengan kalangan pengusaha, birokrasi pemerintahan maupun swasta,
pengalaman dan selalu tawadhuk kepada kiai.

Kiai kharismatik itu mengimbau pihak-pihak di luar NU untuk menghormati
proses demokrasi yang berjalan di kalangan para kiai. ’’Jangan sampai
konferwil dikotori oleh perilaku dan sikap-sikap yang tidak berakhlakul
karimah.’’

Konferwil akan berlangsung 11-13 Juli 2008 di Pondok Pesantren
Al-Hikmah-2, Benda, Sirampog, Brebes. Menurut informasi Ketua Umum PBNU
KH Hasyim Muzadi yang dijadwalkan akan membuka acara itu berhalangan
hadir. PBNU akan diwakili Ketua PBNU Prof Dr H Said Aqil Siradj dan KH
Ahmad Bagdja.

Sejumlah nama yang muncul sebagai calon ketua tanfidziyah yaitu Drs H
Ali Mufiz MPA (sekarang wakil ketua PWNU dan Gubernur Jateng), Prof Dr
H Abdul Djamil MA (sekarang a’wan Syuriyah PWNU dan Rektor IAIN
Walisongo), Drs H Achmad (mantan wagub dan mantan ketua PWNU Jateng),
Prof Dr H Mudjahirin Thohir MA (sekarang wakil ketua PWNU Jateng), Dr H
Noor Achmad MA (sekarang aíwan Syuriyah PWNU dan Rektor Universitas
Wahid Hasyim Semarang) serta Dr H Abu Hapsin MA. 

Di kalangan cabang-cabang juga beredar kabar meski Ketua PWNU Jateng
Drs H Moh Adnan MA sudah menyatakan tidak akan maju, belakangan
menyatakan akan maju sebagai ketua lagi.(H9-60)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke