Jakarta, NU Online
Sejumlah tokoh muda atau politikus lintas partai politik, satu kata 
mengeritik iklan politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang 
menampilkan beberapa tokoh dan pahlawan nasional.

Politikus muda Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Marwan Ja'far, 
misalnya, menyebut langkah PKS sebagai tindakan `mengambil milik 
orang lain tanpa izin'. Walau tidak disengaja, katanya, hal itu 
merupakan perbuatan berdosa.

Ditampilkannya sosok Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syeikh KH 
Hasyim Asy'ari dalam iklan tersebut, menurutnya, termasuk dalam 
perbuatan `mengambil milik orang lain tanpa izin'.

"Ini namanya ghosob, yaitu perbuatan mengambil milik orang lain tanpa 
izin walau tidak disengaja, dan itu dosa," tegas Ja'far dalam diskusi 
Dialektika Demokrasi bertajuk 'Iklan Politik: Tokoh Nasional Milik 
Siapa?' di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (14/11).

Selain itu, tambah Ja'far, antara NU dan PKS terdapat perbedaan 
ideologis yang sangat tajam. "Ini politik kekanak-kekanakan yang luar 
biasa. Jika di lapangan tidak sesuai dengan ideologi NU, itu suatu 
kemunafikan," terangnya.

Hal senada dikatakan Ketua Departemen Pemuda DPP Partai Demokrasi 
Indonesia Perjuangan (PDIP), Budiman Soedjatmiko, yang juga hadir 
pada kesempatan itu. Menurutnya, iklan politik tersebut cukup jelas 
telah berupaya membohongi rakyat.

Ditampilkannya mantan presiden Soeharto sebagai guru bangsa, ujarnya, 
cukup untuk disebut upaya mengelabui rakyat. Sebab, selama berkuasa, 
mantan penguasa Orde Baru itu melakukan pembunuhan demokrasi, 
pelanggaran hak asasi manusia dan lain-lain.

"Meski belum terbukti secara hukum Soeharto melakukan korupsi, tapi 
siapa yang menjamin bahwa Soeharto itu bersih? Ini bukan masalah maaf 
memaafkan dan rekonsiliasi, tapi meletakkan sejarah pemimpin bangsa 
ini secara benar dan proporsional," jelas Budiman.

"Jadi, kalau Soeharto dalam iklan PKS sebagai guru bangsa ditambah 
menampilkan tokoh-tokoh nasional seperti Soekarno, KH Hasyim Asy'ari, 
KH A. Dahlan, Tan Malaka, dan lain-lain, itu jelas membohongi 
masyarakat," imbuhnya.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Matahari Bangsa (PMB), Yusuf 
Warsim, mengungkapkan bahwa iklan adalah salah satu media untuk 
"berjualan". Konsekuensinya adalah di dalamnya mesti terdapat banyak 
kebohongan.

Karena itu, PMB, kata Yusuf, pada pemilu 2009 nanti tidak akan 
"jualan" tokoh dan simbol-simbol, apalagi dengan menampilkan 
Soeharto. "Soeharto itu mempunyai masalah besar yang belum selesai 
terhadap bangsa dan negara ini. Bahkan, saya tidak bisa memaafkan 
Soeharto, karena beliau bertindak represif. Saya pernah diinterogasi 
aparat ketika turun dari mimbar khotbah Jumat akibat mengeritik 
Orba," tandas Yusuf.

Wakil Sekretaris Jenderal PKS, Fachri Hamzah, berbeda pendapat. 
Menurutnya, iklan politik itu bertujuan "memecahkan" politik aliran 
dan sekat-sekat politik yang terjadi dalam masyarakat. PKS, katanya, 
merupakan partai pluralis.

"PKS memang tidak mempunyai tokoh. Karena itu, tidak menjual tokoh-
tokoh PKS," ungkap Fachri. (nif)

Kirim email ke