Yang Perlu dingatkan saudara2 kita yang Keras ini adalah; Berbeda beda dlm pemahaman Islam itu adalah sunatullah. Yang harus kita ingatkan mereka adalah "Jangan mengharamkan atau melarang orang lain menjalanan keyakinan agamanya serta jangan menuduh orang lain kafir" Itu saja.
Kalau Ulama2 NU dapat menyinakna mereka itu, alhamdulullah. tapi keyakinan agama mereka itu sulit untuk di robah.. Katanya mereka wajib mengikuti sunnah Rasul dlm menegakan amar makruf nahi mungkar dgn dasar Hadits palsu (menurut saya) Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran,hendaklah is mengubah dengan TANGAN MU:jika tidak mempu, hendaklah dengan lisannya; jika tidak mampu hendaklah dengan hatinya.Akan tetapi,yang demikian adalah selemah lemahnya iman.HR.Muslim" ( mengubah dengan tangan diartikannya dengan membuat undang2, melarang, mengusir lawannya dan bahkan membakar rumah2,kantor2 dan merusak Kafe2 dan restaurant2 yang berbuka bulan puasa.) Kalau hadits ini dinyatakan oleh ulama2 NU bahwa hadits ini palsu saya kira umat tdk akan lagi mengikuti Hadits itu. Selama Hadits itu adalah adalah kewajiban untuk menegakan amar makruf nahi mungkar bagi mereka. Di Indonesia, FPI cs menghakimi Ahmadiyah dan merusak restauran2 yang berbuka bulan puasa. http://www.youtube.com/watch?v=qnCzdoScFq0&feature=related wassalam --- In [email protected], sofwan nadi <de_a...@...> wrote: > > Betul Gus Gaul... akur > > > > > ________________________________ > From: Nasrulloh Afandi <gusg...@...> > To: [email protected] > Sent: Monday, September 7, 2009 2:02:54 PM > Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun > > Â > > Biaya hidup(dengan tanda petik) Yang saya maksud adalah tidak harus uang, > > Tapi bisa kualitas ilmiah, bisa popularitas untuk menaikan harga jual buku yg > ditulisnya, bisa juga jabatan politik dengan segala imimg-imingnya, dll, > bukan begitu? > > Untuk Mas Abdul Latif, > Saya berharap: Tidak hanya Islam keras yang dirangkul NU --- wong masih > sesama Islam kok--, > > Namun juga harus bisa merangkul yang di luar Islam sekalipun. Atau bagaimana > methodologi dakwahnya? he he... > > Â > > --- On Sun, 9/6/09, sofwan nadi <de_a...@yahoo. com> wrote: > > From: sofwan nadi <de_a...@yahoo. com> > Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun > To: kmnu2...@yahoogroup s.com > Date: Sunday, September 6, 2009, 7:37 PM > > Â > > Mas Nasrul... ada betulnya..pada kata "untuk kelangsungan biaya hidup > sebagian anggota NU"... > > Tapi mohon ini hanya berlaku untuk orang per orang... bukan berarti bahwa > semua orang berbeda itu karena demi uang.... ada juga karena fondasi > keilmuannya. .. > > Jadi husnudhon itu diutamakan untuk perilaku kita menilai orang... > > Sedangkan kewaspadaan itu adalah nasehat agar kita tidak tertipu oleh nafsu > sendiri. > > Kalau Mas Nasrul... berpendapat bahwa pemikiran liberal itu virus ganas... > maka pemikiran fanatisme taqlid juga virus ganas... bukti keganasannya sudah > terbukti menjerat sebagian kita untuk menilai orang yang tidak seperti diri > kita, tidak berfikir seperti kita.. dibilangnya salah. Selanjutnya, kita > menjadi sungkan bersilaturahmi dengan mereka... > > Saya jadi ingat pada Pak Syafii Maarif dari Muhammadiyah. .. Dulu Tuan Guru > ini cukup keras... tapi sekarang beliau rutang runtung dengan Gus Dur... > bahkan kata orang PKS "Dia sudah pro-Liberalisme" ... > > Hati-hati Mas Nasrul... jangan terlalu benci pada sesuatu... nanti bisa > terbalik menjadi terlalu suka... Ini hukum alam lho... Inipun pesan dari > Junjungan Kita. > > ____________ _________ _________ __ > > From: Nasrulloh Afandi <gusg...@yahoo. com> > > To: kmnu2...@yahoogroup s.com > > Sent: Saturday, September 5, 2009 11:43:28 AM > > Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun > > Untuk kelangsungan jamiyah NU, liberal dan politik adalaha virus ganas, bukan? > > Tapi untuk kelangsungan "biaya hidup'' sebagian anggota NU, tentu politik dan > liberal adalah lahan yang sanagat menjanjikan dan penuh vitamin , kali? > > he he... > > --- On Fri, 9/4/09, sofwan nadi <de_a...@yahoo. com> wrote: > > From: sofwan nadi <de_a...@yahoo. com> > > Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun > > To: kmnu2...@yahoogroup s.com > > Date: Friday, September 4, 2009, 8:27 PM > > Betulkah Politik dan Liberal virus ganas? > > Mohon dibaca kembali postingan di milist ini tentang Macam Gelombang > Kehidupan dan Gaya Kita Menghadapinya. > > Membicarakan sesuatu dengan hitam dan putih... memang cukup selamat bagi si > pemikir, tetapi tidak sedikit menakutkan bagi orang lain. Karena cara > berfikir seperti itu, hanya memberi pilihan pada orang lain dua hal, > dihitamkan atau diputihkan. > > Cara berfikir hitam putih.. telah memakan korban yang sangat dahsyat... > > Siapakah yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib kw? dia adalah si > penghafal Alquran yang menetapi salat malam dengan disiplin. Hebatnya, > sebagian perawi hadits yang dipandang kredibel (tsiqoh) adalah tergolong para > pendukung pembunuh Khalifah Ali. Contoh, Imron bin Thohin adalah pendukung > gerakan ini yang riwayat-riwayatnya muncul di kitab Shahih. Silahkan baca > pada Muqaddimah Fathul Bary. > > Siapakah yang membunuh Khalifah Utsman b Affan ra? dia adalah sekumpulan > sahabat dan tabiin terkemuka. > > Tragedi sejarah begitu mengerikan.. .. karena itu arus sejarah yang carut > marut perlu diwaspadai ... agar kita selamat dari kedegilannya. > > Saya mengerti hal ini... setelah berhubungan dengan buku-buku Aljarh > wat-ta'diil. .. mengerikan. Karena itulah saya berterima kasih kepada > sebagian para kiyai NU yang sempat memberi keleluasan kepada saya untuk > berdialog langsung dengan hal-hal yang pelik.. yang jarang santri melakukan. > > Kesimpulan saya: Hitam dan Putih hanya milik Allah... bagian pikiran manusia > hanya bergerak di daerah abu-abu. Urusan menghitamkan atau memutihkan.. > dikembalikan kepada Pengadilan Allah di Padang Mahsyar. Saya tidak mau > mengambil hak prerogatif Allah ini. > > Jadi adakah virus yang ganas dari Politik dan Pemikiran Liberal? > > Kalau virus, boleh jadi. Tapi bisa dijinakkan sebagai vaksin. Kalau disebut > "ganas" itu menjadi sangat menarik bagi orang Sunda, ganas artinya nanas... > Mas. Cobalah berjalan dari Kota Kabupaten Subang menuju Bandung di sana > banyak yang jualan ganas. He..he.. > > ____________ _________ _________ __ > > From: Nasrulloh Afandi <gusg...@yahoo. com> > > To: kmnu2...@yahoogroup s.com > > Sent: Friday, September 4, 2009 10:25:04 PM > > Subject: Re: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun > > Jika pak Gus Said bin kiyai AQil bin kiyai Siradj terpilih jadi ketua umum > PBNU nanti, nanti Insya Allah akan bisa merangkul Islam keras dan santun. > > Apalagi, gus Said juga (sudah) tidak liberal lagi, dan kurang bisa > berpolitik, Insya Allah NU aman dari dua virus ganas itu he he... > > Nasrul > > From: Kinantaka <kinant...@gmail. com> > > Subject: [kmnu2000] Islam Keras dan Santun > > To: kmnu2...@yahoogroup s.com > > Date: Thursday, September 3, 2009, 11:44 PM > > Islam Keras dan Santun > > Jumat, 4 September 2009 | 02:47 WIB > > Said Aqiel Siradj > > Tema radikalisme Islam kembali mencuat. Sebutannya pun bisa beragam, seperti > > ekstrem kanan, fundamentalis, dan militan. Ada juga yang menyebut radikal > > dengan sebutan Neo-Khawarij dan Khawarij abad ke-20. > > Radikalisme sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan > > Islam sebagai biang keladi radikalisme. Yang pasti, radikalisme berpotensi > > menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. > > Gerakan radikalisme bukan sebuah gerakan spontan, tetapi memiliki faktor > > pendorong. Gejala kekerasan âagamaâ bisa didudukkan sebagai gejala > > sosial-politik daripada gejala keagamaan. Akar masalahnya bisa ditelusuri > > dari sudut sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia. > > Faktor lain adalah sentimen keagamaan dan solidaritas keagamaan untuk kawan > > yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Namun, hal ini lebih tepat disebut > > faktor emosi keagamaan, bukan faktor agama an sich, meski gerakan > > radikalisme selalu mengibarkan simbol agama seperti jihad dan mati syahid. > > Emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas, bersifat. Jadi, > > sifatnya nisbi dan subyektif. > > Faktor kultural juga memiliki andil besar yang melatarbelakangi munculnya > > radikalisme. Secara kultural, di masyarakat selalu ditemukan usaha untuk > > melepaskan diri dari jerat jaring-jaring kebudayaan yang dianggap tidak > > sesuai. Faktor kultural adalah sebagai antitesa terhadap budaya sekularisme > > Barat yang dicap sebagai musuh besar. > > Islam Indonesia > > Islam adalah agama âpendatangâ karena berasal dari Timur Tengah. Namun, > > berkat proses transformasi yang berjalan damai, Islam menjadi bagian tak > > terpisahkan kehidupan bangsa Indonesia. Sesuai makna dasar Islam, dari kata > > aslama, bermakna âdamaiâ, ternyata para pembawa panji-panji Islam tempo > dulu > > mampu menyebarkan agama Islam dengan damai. > > Penyebaran Islam di Indonesia berjalan lancar dan tidak menimbulkan > > konfrontasi dengan pemeluk agama sebelumnya. Masuk melalui pantai Aceh, > > Islam dibawa para perantau dari berbagai penjuru, seperti Arab Saudi dan > > sebagian dari mereka ada yang berasal dari Gujarat. > > Penyebab proses Islamisasi berjalan damai karena kepiawaian para mubalig > > dalam memilih media dakwah, seperti sosial budaya, ekonomi, dan politik. > > Dalam penggunaan media budaya, sebagian mubalig memanfaatkan wayang sebagai > > salah satu media dakwah. Sunan Kalijaga, misalnya, mampu menarik simpati > > rakyat Jawa yang amat akrab dengan budaya dan tradisi Hindu-Buddha. > > Para pembawa panji Islam juga memanfaatkan aspek ekonomi untuk mengembangkan > > nilai-nilai dan ajaran Islam. Dari berbagai literatur terungkap, aspek itu > > menempati posisi strategis dalam upaya Islamisasi di Nusantara. Salah satu > > faktor yang mendorong minat masyarakat Nusantara mengikuti agama para > > pedagang itu karena tata cara dagang serta perilaku sehari-hari lainnya > > dianggap menarik sanubari masyarakat setempat. > > Setelah kokoh menancapkan pengaruhnya di Indonesia, peran Islam lambat laun > > meningkat ke wilayah politik melalui upaya mendirikan kerajaan Islam, antara > > lain Kerajaan Pasai, Demak, Mataram, dan Pajang. Lalu, semua itu mengalami > > keruntuhan karena adanya berbagai faktor, baik konflik internal di antara > > anggota keluarga kerajaan maupun faktor eksternal seperti serbuan kolonialis > > Portugis dan Belanda. Namun, posisi Islam tetap kukuh dan kian menyatu > > dengan kehidupan masyarakat dan hampir selalu memperlihatkan wajahnya yang > > ramah dan santun. Gejolak yang sifatnya radikal nyaris tak terdengar. > > Dakwah santun > > Memahami Islam secara tekstualistik akan mendatangkan sikap ekstrem. > > Padahal, Al Quran tidak melegitimasi sedikit pun perilaku dan sikap yang > > melampaui batas. Dalam konteks ini, ada tiga sikap yang dikategorikan > > âmelampaui batasâ. > > Pertama, ghuluw, bentuk ekspresi berlebihan manusia dalam merespons > > persoalan hingga mewujud dalam sikap-sikap di luar batas kewajaran > > kemanusiaan. > > Kedua, tatharruf, sikap berlebihan karena dorongan emosional yang > > berimplikasi kepada empati berlebihan dan sinisme keterlaluan dari > > masyarakat. > > Ketiga, irhab, yang mengundang kekhawatiran karena bisa membenarkan > > kekerasan atas nama agama. Irhab adalah sikap dan tindakan berlebihan karena > > dorongan agama atau ideologi. > > Idealnya, seorang Muslim harus memahami ajaran Islam secara utuh, hingga > > berdampak sosial yang positif bagi dirinya. Alangkah kering dan gersangnya > > agama jika aspek eksoterik dalam Islam hanya sebatas legal-formal dan > > tekstualistik. Sebuah ayat tentang jihad akan terasa gersang jika > > pemahamannya dimonopoli tafsir âperang mengangkat senjataâ. Padahal, jihad > > pada masa Rasulullah merupakan wujud pembebasan rakyat untuk menghapus > > diskriminasi dan melindungi hak-hak rakyat demi terbangunnya tatanan > > masyarakat yang beradab. > > Puncak keberagamaan seseorang terletak pada sikap arif dan bijaksana > > (al-hikmah). Di sinilah perlunya mengedepankan aspek esoteris Islam. Sisi > > ini merupakan pemahaman keislaman yang moderat, serta bentuk dakwah yang > > mengedepankan qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan maârufa > > (perkataan yang baik), qaulan maisura (perkataan yang pantas), qaulan > > layyinan (perkataan yang lemah lembut), qaulan baligha (perkataan yang > > berbekas pada jiwa), dan qaulan tsaqila (perkataan yang berat). Semua sikap > > itu telah diamanatkan dalam Al Quran. > > *Said Aqiel Siradj Ketua PBNU* > > * * > > http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/09/04/ 02471945/ islam.keras. > dan.santun > > [Non-text portions of this message have been removed] > > ------------ --------- --------- ------ > > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _ > > http://www.numesir. org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan > KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > > ~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~ > > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus > meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: > > kmnu2000-unsubscrib e...@yahoogroups. com > > Yahoo! Groups Links > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
