Ketika faksi2 dalam Islam berselisih, mereka berlomba2 mencari pembenarannya 
dalam Alquran dan hadits. Pemalsu2 hadits bermunculan. Masing2 faksi 
mencurigai kelompok yang lain. Syiah menuduh Sunni memalsukan hadits2 yang 
memuja Muawiyah, dan sebaliknya Sunni menuduh Syiah memalsukan hadits2 yang 
menyucikan Imam Aly AS.

Dari sini lahir sikap saling mencurigai. Sunni tak mau menerima Syiah, dan 
sebaliknya Syiah tak menerima Sunni. Masing2 memiliki haditsnya sendiri2. 
Sunny cenderung bisa menerima Khawarij karena perselisihan dengannya tidak 
terlalu meruncing. Akan tetapi bagi Syiah, mereka adalah pembunuh Imam 
Besarnya, Sayidina 'Aly AS. Muawiyah nyaris kalah kalau saja tidak muncul 
Khawarij.

Salah satu sikap Sunny yang dianggap Syiah tidak fair adalah penerimaan 
mereka terhadap perawi khawarij, dan cenderung antipati terhadap perawi 
Syiah. Padahal keduanya sama2 ahli bid'ah dalam pandangan Sunny. Akan tetapi 
Sunny berdalih, bahwa menurut "pengalaman" mereka, khawarij jauh lebih bisa 
dipercaya daripada Syiah.

Ada bid'ah yang dalam dirinya terkandung unsur2 yang menjadikan pelakunya 
kehilangan otoritas membawa berita, seperti zina dan suka berbohong. Tapi 
ada juga bidah yang tidak demikian, seperti bid'ah2 yang lahir dari 
perbedaan akidah dan memahami agama. Syiisme dan khawarijisme, setidaknya 
dalam pandangan Imam Ghozali dan Ibn Hajar, bukan bid'ah yang dengan 
sendirinya menjadikan penganutnya kehilangan hak meriwayatkan hadits.

Jadi permasalahannya bukan untung-tidaknya menerima riwayat seorang Imran.


---- Original Message ----- 
From: "sofwan nadi" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Monday, October 12, 2009 12:01 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Adakah Khawarij menyusup ke Ahlussunnah walJamaah?


Terima kasih, Mas.
Satu kesulitan masih tersisa. Mengapa para kiyai mustholahul hadits membuat 
kriteria 'Adalah begitu rupa sehingga berbenturan dengan fakta tersebut?

Kalau seorang pelajar bodoh seperti saya, sehingga ikut memainkan kriteria 
'Adalah untuk mendloifkan Imron bin Thohin, apa bahayanya? Padahal tanpa 
Imron bin Thohin dan semua kaum Khawarij dikeluarkan dari hadits-hadits yang 
diambil...apa ruginya bagi Islam?

Allah tidak pernah rugi untuk dikufuri dan tidak pernah untung untuk 
disembah... Karena itu, mengapa kita ketakutan Islam ini runtuh bila tidak 
mengambil berita-berita dari kaum Khawarij?

Saya membaca buku Musthofa Assiba'i... Beliau disana membela sangat Abu 
Huroiroh dengan pernyataan...menghancurkan kredibilitas Abu Huroiroh itu 
berarti akan menghancurkan sendi-sendi Islam karena beribu-ribu riwayat 
daripadanya (aw kama qoola)

Setelah membaca pernyataan Assiba'i, saya tercenung, betapa hebatnya Abu 
Huroiroh...sehingga menentukan keuntungan bagi Allah dan kerugian 
atas-Nya..... (Cam-kan pencenungan saya tsb). Padahal maha suci Allah dari 
kriteria seperti itu.

Saya bukan Mu'tazili, Syi'i atau manapun... Saya hanya sedih banyak 
pernayataan para ustadz/ muallif yang tidak sejalan dengan aqidah yang meng 
qudus kan Allah.


Kirim email ke