Baik... Tapi ketidak-adilan sikap keilmuan kita terhadap Khawarij dan Syii telah dipelihara sampai sekarang. Akibatnya, kita telah dihadapkan kepada dunia mukminin yang kacau balau.
Saya pernah bca hadits dalam Ibn Majah, isinya tentang makna ahlussunnah (sebagaimana yang sering dikenal sebagai perkataan Hasan Albasri, padahal dalam riwayat ini dari Sayidina Ali) sebagai Attashdiiq bilqalbi Al-iqraar billisaan Al amal bir arkan (aw kama qola).. dari Rijalnya ada yang dikenal sebagai Zahid dan Adiib. Saya lupa persis namanya. Oleh semua imam ahli hadits tidak diterima riwayatnya, karena dia pernah terprovokasi sehingga mengungkapkan kebencian terhdap Utsman ra. Namun hanya Yahya bin Muin dan Ibn Majah memandangnya sebagai tsiqah dan tidak tertuduh. Coba bayangkan...sebab kepala yang hitam Abdurrahman bin Muljim...dipuji oleh para ahli hadits dari Sunni. Tetapi hanya terpancing provokasi, seorang Zahid dan Adiib yang tidak menyukai Utsman dihancurkan reputasinya oleh kebanyakan imam ahli hadits. Bandingkan...sebuah hukuman atas kesalahan lidah (si Zahid dan Adiib) dengan sebuah kesalahan tangan (Bin Muljim cs)... Kesalalahan tangan Bin Muljim yang semestinya dibawa kepada Mahkamah Qisas...dipuji-puji... Mana 'Adalah Imron bin Thohin? Sementara kesalahan lisaan si Zahiid ini terus dipelihara sampai menghancurkan keadilan keilmuan sampai hari ini. Coba simak lagi pernyataan yang ditulis Mas Ghofur dari si pemilik kata-kata yang menyanjung Abdurrahman bin Muljim. Perkataan itu tidak normal dan tidak wajar bagi seseorang yang menyadari betapa pentingnya hukum ditegakkan. Dari sini jelas AKAR TERORISME atau DUKUNGAN terhadap sikap terorisme nyata benar dari semangat Sunni sudah muncul sejak saat itu. Dari sini jelas AKAR DUALISME HUKUM sebagai PANGLIMA sudah ada dari kalangan Sunni sejak saat itu. Saya menduga INI SEBAB KEMUNDURAN DUNIA Mukminin yang tidak pernah disadari oleh orang-orang terdahulu. Maka saya sadar, kalau ada pihak-pihak kecewa dengan Islam kemudian murtad... atau ada pihak-pihak yang menuduh Islam dengan label-label buruk dan kebencian. Mari kita menyadari..bahwa ada ketidak-adilan pada prinsip-prinsip keilmuan yang kita pegang hari ini. Wallaahu a'lam. ________________________________ From: AbduL GHofuR <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, October 13, 2009 4:23:05 AM Subject: Re: [kmnu2000] Adakah Khawarij menyusup ke Ahlussunnah walJamaah? Ketika faksi2 dalam Islam berselisih, mereka berlomba2 mencari pembenarannya dalam Alquran dan hadits. Pemalsu2 hadits bermunculan. Masing2 faksi mencurigai kelompok yang lain. Syiah menuduh Sunni memalsukan hadits2 yang memuja Muawiyah, dan sebaliknya Sunni menuduh Syiah memalsukan hadits2 yang menyucikan Imam Aly AS. Dari sini lahir sikap saling mencurigai. Sunni tak mau menerima Syiah, dan sebaliknya Syiah tak menerima Sunni. Masing2 memiliki haditsnya sendiri2. Sunny cenderung bisa menerima Khawarij karena perselisihan dengannya tidak terlalu meruncing. Akan tetapi bagi Syiah, mereka adalah pembunuh Imam Besarnya, Sayidina 'Aly AS. Muawiyah nyaris kalah kalau saja tidak muncul Khawarij. Salah satu sikap Sunny yang dianggap Syiah tidak fair adalah penerimaan mereka terhadap perawi khawarij, dan cenderung antipati terhadap perawi Syiah. Padahal keduanya sama2 ahli bid'ah dalam pandangan Sunny. Akan tetapi Sunny berdalih, bahwa menurut "pengalaman" mereka, khawarij jauh lebih bisa dipercaya daripada Syiah. Ada bid'ah yang dalam dirinya terkandung unsur2 yang menjadikan pelakunya kehilangan otoritas membawa berita, seperti zina dan suka berbohong. Tapi ada juga bidah yang tidak demikian, seperti bid'ah2 yang lahir dari perbedaan akidah dan memahami agama. Syiisme dan khawarijisme, setidaknya dalam pandangan Imam Ghozali dan Ibn Hajar, bukan bid'ah yang dengan sendirinya menjadikan penganutnya kehilangan hak meriwayatkan hadits. Jadi permasalahannya bukan untung-tidaknya menerima riwayat seorang Imran. ---- Original Message ----- From: "sofwan nadi" <de_a...@yahoo. com> To: <kmnu2...@yahoogroup s.com> Sent: Monday, October 12, 2009 12:01 PM Subject: Re: [kmnu2000] Adakah Khawarij menyusup ke Ahlussunnah walJamaah? Terima kasih, Mas. Satu kesulitan masih tersisa. Mengapa para kiyai mustholahul hadits membuat kriteria 'Adalah begitu rupa sehingga berbenturan dengan fakta tersebut? Kalau seorang pelajar bodoh seperti saya, sehingga ikut memainkan kriteria 'Adalah untuk mendloifkan Imron bin Thohin, apa bahayanya? Padahal tanpa Imron bin Thohin dan semua kaum Khawarij dikeluarkan dari hadits-hadits yang diambil...apa ruginya bagi Islam? Allah tidak pernah rugi untuk dikufuri dan tidak pernah untung untuk disembah... Karena itu, mengapa kita ketakutan Islam ini runtuh bila tidak mengambil berita-berita dari kaum Khawarij? Saya membaca buku Musthofa Assiba'i... Beliau disana membela sangat Abu Huroiroh dengan pernyataan.. .menghancurkan kredibilitas Abu Huroiroh itu berarti akan menghancurkan sendi-sendi Islam karena beribu-ribu riwayat daripadanya (aw kama qoola) Setelah membaca pernyataan Assiba'i, saya tercenung, betapa hebatnya Abu Huroiroh...sehingga menentukan keuntungan bagi Allah dan kerugian atas-Nya.... . (Cam-kan pencenungan saya tsb). Padahal maha suci Allah dari kriteria seperti itu. Saya bukan Mu'tazili, Syi'i atau manapun... Saya hanya sedih banyak pernayataan para ustadz/ muallif yang tidak sejalan dengan aqidah yang meng qudus kan Allah. [Non-text portions of this message have been removed]
