Nah... Mas Ghofur sudah mengeluarkan beberapa informasi yang bermanfaat. Namun dalam sebuah diskusi...kita jangan terjebak kedalam pola Buku Pintar atau Kamus... Maksudnya hanya berkutat di sekitar pemunculan informasi-informasi.
Proses diskusi hendaknya menuju satu muara untuk mencari solusi bagi zaman kita sendiri yang berbeda dengan zaman dahulu. Bayangkan, ribuan judul kitab bisa ditumpuk di kantor PBNU, tetapi tidak mustahil tak pernah bermanfaat bagi solusi masalah umat. Yang ingin saya dudukkan masalahnya sekarang adalah zaman ini diselimuti fakta TERORISME DUNIA... Pakistan, Afganistan, Pilipina dan Nurdin M Top...Kemudian Jamaah-jamah baru yang semangatnya mengerikan. Mengapa itu terjadi? Mungkinkah profil-profil seperti itu akan bermunculan dari tengah-tengah santri NU? Untuk mencari solusi... ada baiknya kita mengambil pelajaran dari buku Filsafat Ilmu susunan Guru Besar IPB yang terkenal itu. Mulai dengan Epistemologi.... Yakni, membuat pertanyaan BIDIKAN mengapa asal-usul itu semua terjadi? Apa latar-belakang Khawarij, Syiah, Murjiah dan Sunni sehingga melahirkan perilaku-perilaku yang pernah tercatat dalam lembaran sejarah? Setelah itu...Lalu apa sikap yang kita pilih untuk menentukan solusi BARU bagi ZAMAN kita yang sendiri? Contoh. Khawarij... Mengapa mereka sampai membunuh Imam Ali? Dan sebelumnya, mengapa Khawarij juga yang membunuh Khalifah Utsman dan Umar? Mari kita membuat framework-nya. Misalnya dengan formula Al-Walaa dan Al-Baroo. Masing-masing aliran punya bobot yang tak seimbang pada salah satu dari Alwalaa atau Albaroo Pada sisi Al-Baroo. Khawarij memandang orang yang dikenai Al-Baroo sebagai pelaku dosa...bahkan sampai ke dosa besar...Terusnya kalau bikin susah: Bunuh. Nah ini rumus Khawarij. Ini fakta sejarah. Khawarij...mengajarkan pemeluknya tidak disiplin hukum... tidak tertib hukum... Bahkan bermadzhab GANDA dalam penegakkan hukum. Pada sisi Al-walaa. Syiah memandang orang yang dikenai Al-walaa harus dicintai sepenuh langit dan bumi. Membela dan memusuhi siapa saja yang menyerang kepada yang dikenai Al-walaa mereka. Dan itu harus dibuktikan dalam kebencian melalui pelajaran dan doa. Ini fakta Syiah. Dan ini berbahaya. Nah, NU dimana? Saya melihat, NU memiliki bobot yang lebih berat pada Al-walaa, tetapi tidak berakibat kepada kebencian seperti Syiah. NU benar-benar sangat adil dan bijak. Nah, kalau Sunni... Tunggu Mas, NU, kalau menurut saya bukan Sunni. Paling tidak, NU adalah aliran yang lebih adil dalam Sunni. Karena Sunni di Pakistan menyatakan, orang yang tidak suka pada Yazid berdosa besar, bahkan kufur. Saya tahu itu. Wahhabi juga Sunni. Jadi, santri NU jangan menggunakan sunni sebagai kaidah.... Sunni itu syubhat, karena berbeda di setiap wilayah. Sunni... ada yang menjaga Al-walaa kepada pihak yang mu'tamad untuk diberikan walaa (ini NU), dengan tetap menjaga diri jauh-jauh untuk tidak terperosok kedalam dilema al-baroo. Di sisi al-baroo, NU mendekati Murji'ah. Ini akibat pelajaran tasawuf yang kental dalam Sunni. Sampai batas tertentu, Murji'ah tidak salah. Bahkan Murji'ah sangat pandai menentukan aqabaat aulawiyat (skala prioritas) dalam memilah-milah yang dikenai sasaran fitnah. Inilah sebabnya NU sangat ideal dalam melihat kondisi dengan apa adanya. Sunni... ada yang menyamakan walaa dan baroo fifty-fifty... Demi keadilan... tetapi pada prakteknya...membutakan mata untuk melihat sejarah yang sebenarnya... Sehingga dia tidak pernah belajar dari sejarah... Tidak pernah bisa mengambil pelajaran maupun hikmah dari sejarah. Nah.. yang ini Sunni Wahhabi dan Pakistani. Nanti disambung lagi, Insyaa Allah. Wallahu a'lam ________________________________ From: AbduL GHofuR <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, October 13, 2009 7:30:59 PM Subject: Re: [kmnu2000] Adakah Khawarij menyusup ke Ahlussunnah walJamaah? Yang tidak berani bersikap adil bukan hanya Sunni, tapi juga Syiah. Kalau saya punya otoritas untuk mewakili umat Sunni, rasanya saya tidak ragu untuk meminta maaf atas tragedi sejarah kelam yang banyak merenggut ahlul bait. Sebaliknya, jika saya jadi alm. Ayatollah Khomaeni, saya akan mengajak umat Syiah untuk tidak berlarut2 menyucikan "ritual penyesalan" atas tragedi yang menimpa para pemimpin mereka. Apa yang kita saksikan di Irak adalah sejarah Umawiyah-Alawiyah yang terulang. 'Ittihaad Ulaama' Almuslimiin' di bawah Qardhawy yang pernah menjadi ajang temu Syiah-Sunni sekarang seperti bubar akibat tidak langsung dari pertikaian Sunni-Syiah di Irak. Dialog dia dengan Rafsanjani gagal total. Dinding tebal yang diwariskan oleh pertikaian Umawiyah-Alawiyah tak bisa dijebol oleh keduanya. = Ketika sedikit menampilkan sisi lain dari Abdurrahman bin Muljim tidak ada sedikitpun upaya membela dia. Apa yang patut dibanggakan dari sikap politis yang menghalalkan pembunuhan terhadap lawan. Saya hanya ingin menekankan bahwa yang bertikai saat itu adalah para kiyai, bahkan khawarij yang dibunuh karakternya baik oleh Sunni maupun Syiiah juga lahir dari jubah para kiyai. Barangkali jika membaca prosesi kematian Abdurrahman bin Muljim di tangan Alawiyin akan dimengerti mengapa saya menyebutnya kiyai. Empati kita kepada Alawiyin juga barangkali akan sedikit terkoreksi. Kemudian bukankah yang kita bicarakan adalah nilai riwayat Khawarij, dan bukan sikap politik dan akidahnya? Saya tak pernah menjumpai kelompok Sunni yang membela sikap politik dan akidah khawarij. Bahkan tak sedikit yang sampai pada penghakiman kekufaran mereka. === Yang Anda maksud dari perawi dalam Sunan Ibn Majah barangkali adalah Abdussalam bin Shaleh Alharawy. Memang banyak ulama Sunni yang menuduhnya sebagai pembohong, tapi tak sedikit ulama Sunni yang membelanya seperti Yahaya bin Ma'in, Imam Hakim, Al-'iraaqy, dan Imam Suyuthy. Kemudian, saya kira ia ditolak oleh banyak ulama Sunny bukan saja karena kesalahan lidah membenci Utsman ra, tapi lebih karena kedekatannya dengan Syiah. Ia adalah salah satu perawi utama jalur Syiah. Riwayat2 tentang keutamaan ahlul bait banyak yang melalui jalur periwayatannya. Saya mencoba membuka hadits2 dia dalam literatus Syiah, dan memang rasanya banyak yang tidak masuk akal. ----- Original Message ----- From: "sofwan nadi" <de_a...@yahoo. com> To: <kmnu2...@yahoogroup s.com> Sent: Tuesday, October 13, 2009 2:28 AM Subject: Re: [kmnu2000] Adakah Khawarij menyusup ke Ahlussunnah walJamaah? > Baik... Tapi ketidak-adilan sikap keilmuan kita terhadap Khawarij dan Syii > telah dipelihara sampai sekarang. Akibatnya, kita telah dihadapkan kepada > dunia mukminin yang kacau balau. > > Saya pernah bca hadits dalam Ibn Majah, isinya tentang makna ahlussunnah > (sebagaimana yang sering dikenal sebagai perkataan Hasan Albasri, padahal > dalam riwayat ini dari Sayidina Ali) sebagai Attashdiiq bilqalbi Al-iqraar > billisaan Al amal bir arkan (aw kama qola).. dari Rijalnya ada yang > dikenal sebagai Zahid dan Adiib. Saya lupa persis namanya. Oleh semua imam > ahli hadits tidak diterima riwayatnya, karena dia pernah terprovokasi > sehingga mengungkapkan kebencian terhdap Utsman ra. Namun hanya Yahya bin > Muin dan Ibn Majah memandangnya sebagai tsiqah dan tidak tertuduh. > > Coba bayangkan... sebab kepala yang hitam Abdurrahman bin Muljim...dipuji > oleh para ahli hadits dari Sunni. Tetapi hanya terpancing provokasi, > seorang Zahid dan Adiib yang tidak menyukai Utsman dihancurkan reputasinya > oleh kebanyakan imam ahli hadits. > > Bandingkan.. .sebuah hukuman atas kesalahan lidah (si Zahid dan Adiib) > dengan sebuah kesalahan tangan (Bin Muljim cs)... > Kesalalahan tangan Bin Muljim yang semestinya dibawa kepada Mahkamah > Qisas...dipuji- puji... Mana 'Adalah Imron bin Thohin? > Sementara kesalahan lisaan si Zahiid ini terus dipelihara sampai > menghancurkan keadilan keilmuan sampai hari ini. > > Coba simak lagi pernyataan yang ditulis Mas Ghofur dari si pemilik > kata-kata yang menyanjung Abdurrahman bin Muljim. Perkataan itu tidak > normal dan tidak wajar bagi seseorang yang menyadari betapa pentingnya > hukum ditegakkan. > > Dari sini jelas AKAR TERORISME atau DUKUNGAN terhadap sikap terorisme > nyata benar dari semangat Sunni sudah muncul sejak saat itu. > Dari sini jelas AKAR DUALISME HUKUM sebagai PANGLIMA sudah ada dari > kalangan Sunni sejak saat itu. > > Saya menduga INI SEBAB KEMUNDURAN DUNIA Mukminin yang tidak pernah > disadari oleh orang-orang terdahulu. > Maka saya sadar, kalau ada pihak-pihak kecewa dengan Islam kemudian > murtad... atau ada pihak-pihak yang menuduh Islam dengan label-label buruk > dan kebencian. > > Mari kita menyadari..bahwa ada ketidak-adilan pada prinsip-prinsip > keilmuan yang kita pegang hari ini. > > Wallaahu a'lam. > > > > [Non-text portions of this message have been removed]
