Saya setuju dengan Mas Umam. Tapi Mas Umam masih belum paham term ketenteraman 
yang saya ajukan.
Cermati lagi semua tulisan saya dengan baik.Kalau ada yang meragukan, tanyakan.





________________________________
From: Umam Zein <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sat, May 22, 2010 6:32:06 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran?

  
Mengenai term ‘ketentraman’ saya kurang sependapat dengan
Pak Sofwan.
- Dalam silogisme Aristoteles di atas kebenaran relatif masih
ada kebenaran universal.
- Dalam ushul fikih ada dalil qath’iy ada dalil dzanniy.
- Dalam tafsir terdapat ayat muhkamat dan mutasyabihat.
- Dalam fikih dijumpai hukum ta’abbudi dan ta’aqquli.

Pendek kata tidak seyogyanya kita menggebyah uyah obyek kebenaran
begitu saja. Masing-masing memiliki wilayahnya sendiri-sendiri. Ada kebenaran
nisbi yang penting sekali untuk memancing kreativitas berpikir dan berlomba 
mengemukakan
argumen yang akurat. Ada juga kebenaran hakiki yang menentramkan kita, yang
menjadi pegangan kita melangkah, tidak terombang-ambing dalam keraguan melulu 
(atau
dalam kebenaran ‘sementara’). Ketentraman berasal dari keyakinan, sedang
keyakinan tidaklah diperoleh selain dengan membenarkannya.

Yang merumuskan kebenaran adalah Allah SWT. Lalu bukankah
poin-poin terpentingnya telah diperlihatkan dalam al-Qur’an sebagai petunjuk
bagi umat manusia? Kita tentu tidak mengatakan bahwa ke-esaan Allah, haramnya
zina, wajibnya zakat, menghormati kedua orang tua adalah masih merupakan
kebenaran yang misteri. Imam Abu Nu’aim meriwayatkan dari Imam Syafi’i,
katanya, Imam Malik bin Anas, apabila kedatangan orang yang dalam agama
mengikuti seleranya saja, beliau berkata: “Tentang diri saya sendiri, saya
sudah mendapatkan kejelasan tentang agama dari Tuhanku. Sementara anda memilih
ragu-ragu. Pergilah saja kepada orang-orang yang masih ragu-ragu, dan debatlah
dia.”

Kebenaran yang dogmatif bukan berarti akan selalu kolot beropini
dan terjebak dalam fanatisme berpikir. Melainkan sebuah katrol agar tidak
terjebak dalam pola pikir skeptik. Bila kita memeluk Islam lalu ingin
mengetahui keakuratan dalil Islam misalnya, maka ya cukuplah dengan penasaran
saja. Jangan dengan meragukan Islamnya. Sebagaimana perkataan Nabi Ibrahim:
قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ
قَلْبِي
“Allah
berfirman: ‘Belum yakinkah kamu ?’ Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakinkannya,
akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).” (QS. Al-Baqarah:260)

Andai saja dalam berdiskusinya meneladani kembali sikap Imam
Syafi’ie tentunya tidak mudah terpancing untuk berdebat, apalagi berkomentar
sarkastik. Beliau mengingatkan: “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang kecuali
agar ia tepat , benar, dan tertolong serta ia mendapatkan penjagaan serta
pengawasan Allah, dan tidaklah aku berdebat dengan seseorang kecuali aku tidak
perduli apakah Allah akan menjelaskan kebenaran dari mulutku atau mulutnya.”
Berani jujurkah kita bahwa seringkali beropini hanya untuk menunjukkan 
eksistensi
pribadi atau kelompok? Atau lebih parah hanya untuk mengadu kepiawaian 
berargumen?

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke