Terimakasih atas tanggapannya, untuk detail saya jawab di bawah..

--------------------Martin Manurung---------------------------
E-mail: [EMAIL PROTECTED] & [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
_________________________________________
                "If anyone wants to be first,
  he must be the very last, and the servant of all"

-----Original Message-----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 07 Desember 1998 17:18
Subject: Re: [Kuli Tinta] Tokoh yang Bisa Bingung: Tanggapan untuk Gus Dur


Bung Martin dan Para Netters,

Dalam tulisannya, Gus Dur berangkat dari kacamata orang  yang bingung
melihat "perjuangan' mahasiswa hari-hari terakhir ini. tidak karuan arahnya,
tidak jelas apa maunya, tidak jelas kapan berakhir dan kesudahannya.
Persoalan tersebut oleh sdr. Manurung dilihat dari sisi orang biasa dan dari
bukan orang biasa. Orang biasa tidak perlu bingung. Saudara Martin mengaku
dari kelompok orang biasa yang tidak bingung. Tapi kalimat2 dalam tanggapan
Sdr. Martin tampaknya melingkar-lingkar tidak mengerti apa yang bisa
membingungkan orang :

Martin:
Mungkin bagi anda tampak melingkar-lingkar. Saya kasih bahan bandingan, apa
kata Arief Budiman:


From: Arief Budiman <@asian.unimelb.edu.au>
Tulisan anda ini bagus, tidak menjelimet dan tepat sasarannya. Tapi, saya
kuatir KOMPAS tidak akan memuatnya. Kalau tidak dimuat, dapatkah tulisan
ini dikirim ke media lain: Tempo? Forum? Jawa Pos? Sayang kalau tidak
terbaca secara meluas.
Salam,
Arief Budiman

Atau, Wimar Witoelar sendiri:

From: Wimar Witoelar <@perspektif.net>
Menanggapi tulisan Martin yang cermat, memerlukan waktu yang sedang tidak
saya miliki. Tapi baiklah komentar sekilas sekaligus terhadap komentar
Satya:
Kalau saya harus polemik lawan Gus Dur, sama dengan saya tinju dengan Mike
Tyson. Mungkin berat badan saja yang sama (malah saya lebih) tapi diluar
itu, kita orang bias beda kelas dengan Gus Dur. Semua orang dari mulai Kiai
sampai Kepala Negara dan Direktur IMF antri ke rumah dia, kata-katanya bisa
membuat perang atau damai. Posisi tembak dan amunisi dia sangat beda dengan
kita. Karena dia boleh dibilang "the single biggest force in Indonesian
politics", jelas semua ucapamn dan langkahnya harus dihitung. Kalau kita
orang biasa, harus menyuarakan isi hati kita. Karena mau menghitung, tidak
punya data.
Saya cenderung mengatakan Gus Dur betul mengenai perhitungan politik, dan
dia salah mengenai penilaian gerakan mahasiswa (mungkin juga sengaja bicara
begitu karena dia - seperti kata Satya - wise dan skillful politician).
Saya katakan mahasiswa kecewa kepada kelompok Ciganjur, dan itu suatu
kenyataan. Saya tidak katakan bahwa kelompok Ciganjur harus turun ke jalan.
Who am I to dictate the Fantastic Four?
Masing-masing punya peran. Kalau tidak ada gerakan mahasiswa, tidak ada
pressure yang menjatuhkan Soeharto, membangkitkan Mega, memberikan lahan
bagi Amien, dan memberdayakan Sultan. Tidak ada TV swasta, Ira Koesno, PKB
dan PAN. Ingat, yang membuat itu semua bukan Habibie, tapi mahasiswa
melalui desakan massa yang diterjemahkan oleh wartawan, profesional,
pressure group, reformis dan orang biasa. Api perjuangan datang dari
mahasiswa, alat masak dan resep dan bahan masakan datang dari para tokoh
dan aktivis.
Kita perlu dua-duanya, kita perlu semuanya, dalam peran yang masing-masing
bisa jalankan dengan terbaik. Saya tidak bisa menjadi Kiai, Gus Dur tidak
bisa menjadi pemandu talk show. Dan Martin Manurung kalau sudah jadi
politikus tidak bisa menjadi moral force mahasiswa. Tapi sekarang, Martin
adalah pemikir dan penulis dan mahasiswa.**


dan lain-lain lah....

You:
Sepakat dengan Gus Dur bahwa mahasiswa bisa melengserkan Suharto, tidak bisa
membuat demokrasi. Yang harus membuat  Demokrasi adalah rakyat, tentunya
melalui wakil-wakilnya. Sekarang tidak ada lembaga wakil rakyat yang seperti
itu. .......
(  meloncat ke soal lain.... ) .

Martin:
Saya tidak meloncat bung. Tetapi saya mengatakan, bahwa lembaga wakil rakyat
MPR itu tidak legitimated, sehingga ditandai dengan penolakan SI MPR.
Mengapa SI MPR yang awalnya diminta mahasiswa tetapi kemudian ditolak?
Karena, SI MPR yang diharapkan adalah yang bisa memberikan peralihan
kekuasaan secara ideal menurut konstitusi. Soeharto harus dimintai
pertanggungjawaban, lalu diberhentikan, mandat kepresidenannya dicabut dan
diberikan pada presiden baru. Bukan peralihan kekuasaan negara seperti
menyerahkan sebuah souvenir. SI MPR kemarin hal itu tidak terjadi, malahan
Tap No. IV yang mengangkat Soeharto juga tidak dicabut. Jadi ada presiden
"de jure" Soeharto dan presiden "de facto" Habibie. Karena SI MPR tidak
melakukan hal itu (mengalihkan kekuasaan secara konstitusional) ditambah
tidak jelasnya ending Dwifungsi dan peradilan terhadap Soeharto atas segala
kejahatannya, maka SI MPR ditolak.

Catatan: Saya sendiri tidak dalam barisan yang sejak awal menolak SI MPR.
Tetapi, saya mempunyai 2 syarat sebagai parameter SI MPR itu bisa dikatakan
mengaspirasikan kehendak rakyat: (1) Minta Pertanggungjawaban Soeharto dan
cabut mandat darinya, karena pidato "berhenti" Soeharto itu tidak dapat
mencabut Tap MPR No. IV yang mengangkatnya, dan (2) Hapuskan Fraksi ABRI di
DPR, karena inkonstitusional, sebab semua anggota DPR harus dipilih dan
sebagai wujud awal penghapusan dwifungsi ABRI. Hal itu saya tulis di Tabloid
Gema Reformasi, sepekan sebelum SI MPR dengan judul tulisan, "Menuju
Indonesia Baru". Sayangnya 2 parameter itu tidak ada dalam SI MPR kemarin.

Tapi, walaupun saya tidak dalam barisan yang sejak awal menolak SI, saya
tidak dapat mengatakan bahwa menolak SI = menolak demokrasi. Sebab SI tidak
sama dengan Demokrasi. SI MPR yang hanya mengukuhkan status quo tidak dapat
disebut demokrasi.

You:
 Lalu sastra klasik :  pertanggungan jawab
presiden yang lengser, krisis konstitusional, kembali MPR jadi-jadian,
menuju penolakan SI MPR.

Martin:
Itu bukan sastra klasik. Yang klasik itu kan "pembulatan tekad", "gerakan
cinta rupiah" dll. Yang saya ungkapkan itu jelas adalah pokok-pokok
prinsipil yang seharusnya terjadi dalam suatu negara yang demokratis. Masak
presiden bisa mundur tanpa ada pertanggungjawaban. Pakai saja akal sehat
anda, seorang presiden berkuasa (meskipun cuma 3 bulan), lalu
sekonyong-konyong bila "aku berhenti" lalu enak aja ngeloyor tanpa
pertanggung jawaban kepada MPR yang memberinya mandat?

You:
Menolak SI tidak sama dengan menolak demokrasi....
Kemudian pendapat bahwa 4 tokoh Ciganjur hampir sama dengan suara MPR
jadian.
Ada beberapa kata kunci : SI adalah satu means untuk demokrasi. Pemilu
adalah satu means  untuk demokrasi.


Yang belum jelas  : Pakai apa kalau mau membuat demokrasi ?. Sdr. Manurung
belum menjabarkan hal itu dengan  jelas.  Apa mau pakai cara jalan
kelilingan Jakarta terus-menerus?. Atau pendudukan kota, lapangan terbang,
pelabuhan,jalan cendana, jalan thamrin, istana merdeka, dan seperti itu ?
Apa mau pakai sistim pemelorotan nilai rupiah?  Pemandegan sistim ekonomi ?
Atau pemilu? . Atau sekian korban nyawa lagi?.  Atau ada means lain?


Martin:
Demokrasi itu punya banyak cara dari mulai Pemilu sampai Revolusi. Dalam
tulisan saya itu, jelas saya katakan, bahwa saya setuju dengan Gus Dur agar
Pemilu diselenggarakan sebagai cara yang baik-baik untuk perubahan Indonesia
menuju demokrasi (kedaulatan rakyat). Karena itu, saya katakan, Pemilu nanti
jangan lagi dimain-mainkan oleh penguasa untuk kepentingannya sendiri.
Sebab, bermain-main (lagi) dengan Pemilu bisa membuat semua saluran
demokrasi yang dapat membawa perubahan secara "baik-baik" akan tersumbat.
Bila Pemilu masih dicurangi, direkayasa, diutak-atik, maka akumulasi
ketidak-adaan saluran demokrasi itu dapat bermuara pada Revolusi (meskipun
revolusi itu pun bisa "baik-baik").

You:
Tanpa penjelasan lebih lanjut yang teratur dan lebih cerdas,  email  yang
mengandung To:  dan cc. kepada belasan tokoh2 elit dan profesor2 negeri ini
cuma bisa membuat silau  dan kebingungan  dan prihatin orang biasa. Juga
kedudukan penggerak atau koordinator mahasiswa Kristen menambah lagi
pertanyaan saya. Apakah Martin Manurung itu masih bisa dimasukkan sebagai
orang biasa yang tidak bingung?.  Yang bingung mau kemana pakai kendaraan
apa?


Martin:
Maaf, saya tak mengerti, kenapa identitas saya sebagai koordinator
solidaritas mahasiswa Kristen anda persoalkan? To dan CC kepda "tokoh-tokoh"
itu bukan untuk membuat silau. Mereka memang teman diskusi saya, jadi saya
kirimkan kepada mereka agar dikomentari seperti yang saya kutip di atas.
Maksudnya kendaraan apa ya? Saya tidak mengerti, bahasa anda terlalu
melingkar-lingkar.



BTW, saya tidak "anti Gus Dur". In fact, sampai saat ini saya masih
mengagumi beliau sebagai seorang tokoh agama yang begitu mencintai bangsa
Indonesia. Beliau adalah tokoh yang bisa menjalin hubungan baik dengan
banyak kalangan dari segala agama, suku dan ras. Beliau adalah salah satu
pemimpin bangsa Indonesia yang selalu saya doakan kesehatannya agar dapat
terus berada bersama-sama bangsa Indonesia dalam setiap doa malam saya.
Pandangannya tentang gerakan mahasiswa yang berbeda dengan saya itulah yang
saya tanggapi.

Salam saya.
martin


---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Indonesia without violence!

Kirim email ke