Bung Martin dan Para Netters,
Catatan saya buat komentar tokoh2: 1. Kecuali Gus Dur, siapa tokoh lain yang
berani mengkritik Mahasiswa, "rezim murni yang tidak bisa salah"?.
2. Anda ini termasuk langka dikalangan mahasiswa: berusaha menulis apa yang
dimaui, meskipun bagi saya belum begitu jelas. tentunya dengan mencermati
komentar orang lain serta waktu yang cukup, harapan saya, anda kelak tidak
kalah
dengan  Arief Budiman.

Anda mengatakan means demokrasi bisa dari pemilu sampai revolusi . Anda
belum berani jelas mengatakan : Yang mana yang akan anda pakai ? Dari situ
kita secara teratur bisa mengarahkan langkah kita selanjutnya. Anda bilang
setuju pemilu yang  "baik". Kalau betul, kita bisa mengarah bagaimana kita
bisa mencapai yang "baik" itu. Meneropong RUU yang lagi dibahas, memberikan
pressure yang cukup, mempersiapkan medan penyelengaraannya, mempersiapkan
pengawasnya, dsb.
Kalau anda tidak berani mengatakan "dengan jelas" means apa yang anda pakai
, orang lain pasti bingung. Anda dan teman2 mahasiswapun pasti bingung
berada dikeadaan tanpa arah. Kecuali bagi yang teman2 anda yang memang hobi
dalam keadaan ngawur dan tidak menentu. Adalah kenyataan memprihatinkan
bahwa tidak sedikit mahasiswa sekarang adalah kelanjutan produk sosial
menyimpang : pelajar2 yang hobi tawuran, batu, dan kekerasan.

Yang saya maksudkan dengan masalah klasik adalah masalah pro-kontra yang
telah menghabiskan kolom koran dan majalah kita dalam beberapa bulan ini.
Juga telah menghabiskan jam-jam cendekiawan profesor2 kita. Sah-tidaknya
Habibie. Konstitusional dan tidak konstitusional.   Pertanggungan Jawab
Soeharto. Dll. yang anda bisa tambahkan lagi. Saya kira bukanlah arif kalau
kita mau ngotot pada pendapat2 yang masing2 punya pijakan ilmiah sendiri2.
Masalah2 itu  sebetulnya  hampir2 kita sepakati intinya bersama. Masalahnya
kan cuma
terletak pada yang anda namakan "means"-nya saja. Umpamanya kita sepakat MPR
sekarang tidak legitimate. "Means" apa yang akan dipakai untuk melengserkan
MPR tsb? Pemerintahan sekarang hasil MPR jadi2an hampir2 disepakati oleh
orang2 yang waras adalah tidak sepenuhnya legitimate. Means yang mana yang
akan dipakai untuk melengserkannya? Sebagian orang sudah pilih means : pil
sabar 6 bulan dan pil pemilu, karena tidak punya cara lain yang menjanjikan.
Dari sinilah penilaian "melingkar-lingkar" saya terhadap anda. Tidak setuju
ini, tidak setuju itu. Kritik sana kritik situ. Tapi maunya apa? Means apa
yang mau dipakai? Jangan cuma bilang bahwa means-nya banyak. Kalau memang
belum tahu dan tidak cukup kapasitas untuk itu,  akui saja, kemudian
dengarkan orang lain seperti Gus Dur  dll.  Kalau ada alternatif MEANS ,
sekali lagi : KATAKAN YANG TERATUR, tentunya bakal sangat menyumbang negeri
ini.

Saya setuju sekali apa yang dikatakan Bung Wimar. Kita ini masing2 punya
peran. Mahasiswa karena keluguannya dan "kebodohannya", amat bisa diandalkan
untuk membongkar
bangunan seperti rezim Sukarno atau Suharto. Tapi apakah dia bisa membangun
suatu sistim demokrasi seperti yang dipertanyakan oleh Gus Dur, saya kira
banyak orang biasa yang sudah tahu jawabannya. Sebaiknya mahasiswa memeriksa
dirinya. Atau teladani Bung Martin: coba-coba mengungkapkan isi kepalanya
secara teratur.

NB. Soal  menyebut identitas koordinator mahasiswa Kristen anda, saya cuma
mau bilang bahwa anda ini sudah tidak bisa dimasukkkan kedalam kategori
orang biasa: Anda sudah Elit
Politik. Jadi amat sangat mungkin termasuk orang2 yang bisa bingung.
Termasuk bertanya-tanya arti kata "kendaraan" yang saya pakai: maksud saya
kata lain dari means.
Terimakasih.

 Salam.

 Original Message -----
From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kuli Tinta List <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, December 08, 1998 8:39 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Tokoh yang Bisa Bingung: Tanggapan untuk Gus Dur


>Terimakasih atas tanggapannya, untuk detail saya jawab di bawah..
>
>--------------------Martin Manurung---------------------------
>E-mail: [EMAIL PROTECTED] & [EMAIL PROTECTED]
>Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
>_________________________________________
>                "If anyone wants to be first,
>  he must be the very last, and the servant of all"
>
>-----Original Message-----
>From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: 07 Desember 1998 17:18
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Tokoh yang Bisa Bingung: Tanggapan untuk Gus Dur
>
>
>Bung Martin dan Para Netters,
>
>Dalam tulisannya, Gus Dur berangkat dari kacamata orang  yang bingung
>melihat "perjuangan' mahasiswa hari-hari terakhir ini. tidak karuan
arahnya,
>tidak jelas apa maunya, tidak jelas kapan berakhir dan kesudahannya.
>Persoalan tersebut oleh sdr. Manurung dilihat dari sisi orang biasa dan
dari
>bukan orang biasa. Orang biasa tidak perlu bingung. Saudara Martin mengaku
>dari kelompok orang biasa yang tidak bingung. Tapi kalimat2 dalam tanggapan
>Sdr. Martin tampaknya melingkar-lingkar tidak mengerti apa yang bisa
>membingungkan orang :
>
>Martin:
>Mungkin bagi anda tampak melingkar-lingkar. Saya kasih bahan bandingan, apa
>kata Arief Budiman:
>
>
>From: Arief Budiman <@asian.unimelb.edu.au>
>Tulisan anda ini bagus, tidak menjelimet dan tepat sasarannya. Tapi, saya
>kuatir KOMPAS tidak akan memuatnya. Kalau tidak dimuat, dapatkah tulisan
>ini dikirim ke media lain: Tempo? Forum? Jawa Pos? Sayang kalau tidak
>terbaca secara meluas.
>Salam,
>Arief Budiman
>
>Atau, Wimar Witoelar sendiri:
>
>From: Wimar Witoelar <@perspektif.net>
>Menanggapi tulisan Martin yang cermat, memerlukan waktu yang sedang tidak
>saya miliki. Tapi baiklah komentar sekilas sekaligus terhadap komentar
>Satya:
>Kalau saya harus polemik lawan Gus Dur, sama dengan saya tinju dengan Mike
>Tyson. Mungkin berat badan saja yang sama (malah saya lebih) tapi diluar
>itu, kita orang bias beda kelas dengan Gus Dur. Semua orang dari mulai Kiai
>sampai Kepala Negara dan Direktur IMF antri ke rumah dia, kata-katanya bisa
>membuat perang atau damai. Posisi tembak dan amunisi dia sangat beda dengan
>kita. Karena dia boleh dibilang "the single biggest force in Indonesian
>politics", jelas semua ucapamn dan langkahnya harus dihitung. Kalau kita
>orang biasa, harus menyuarakan isi hati kita. Karena mau menghitung, tidak
>punya data.
>Saya cenderung mengatakan Gus Dur betul mengenai perhitungan politik, dan
>dia salah mengenai penilaian gerakan mahasiswa (mungkin juga sengaja bicara
>begitu karena dia - seperti kata Satya - wise dan skillful politician).
>Saya katakan mahasiswa kecewa kepada kelompok Ciganjur, dan itu suatu
>kenyataan. Saya tidak katakan bahwa kelompok Ciganjur harus turun ke jalan.
>Who am I to dictate the Fantastic Four?
>Masing-masing punya peran. Kalau tidak ada gerakan mahasiswa, tidak ada
>pressure yang menjatuhkan Soeharto, membangkitkan Mega, memberikan lahan
>bagi Amien, dan memberdayakan Sultan. Tidak ada TV swasta, Ira Koesno, PKB
>dan PAN. Ingat, yang membuat itu semua bukan Habibie, tapi mahasiswa
>melalui desakan massa yang diterjemahkan oleh wartawan, profesional,
>pressure group, reformis dan orang biasa. Api perjuangan datang dari
>mahasiswa, alat masak dan resep dan bahan masakan datang dari para tokoh
>dan aktivis.
>Kita perlu dua-duanya, kita perlu semuanya, dalam peran yang masing-masing
>bisa jalankan dengan terbaik. Saya tidak bisa menjadi Kiai, Gus Dur tidak
>bisa menjadi pemandu talk show. Dan Martin Manurung kalau sudah jadi
>politikus tidak bisa menjadi moral force mahasiswa. Tapi sekarang, Martin
>adalah pemikir dan penulis dan mahasiswa.**
>
>
>dan lain-lain lah....
>
>You:
>Sepakat dengan Gus Dur bahwa mahasiswa bisa melengserkan Suharto, tidak
bisa
>membuat demokrasi. Yang harus membuat  Demokrasi adalah rakyat, tentunya
>melalui wakil-wakilnya. Sekarang tidak ada lembaga wakil rakyat yang
seperti
>itu. .......
>(  meloncat ke soal lain.... ) .
>
>Martin:
>Saya tidak meloncat bung. Tetapi saya mengatakan, bahwa lembaga wakil
rakyat
>MPR itu tidak legitimated, sehingga ditandai dengan penolakan SI MPR.
>Mengapa SI MPR yang awalnya diminta mahasiswa tetapi kemudian ditolak?
>Karena, SI MPR yang diharapkan adalah yang bisa memberikan peralihan
>kekuasaan secara ideal menurut konstitusi. Soeharto harus dimintai
>pertanggungjawaban, lalu diberhentikan, mandat kepresidenannya dicabut dan
>diberikan pada presiden baru. Bukan peralihan kekuasaan negara seperti
>menyerahkan sebuah souvenir. SI MPR kemarin hal itu tidak terjadi, malahan
>Tap No. IV yang mengangkat Soeharto juga tidak dicabut. Jadi ada presiden
>"de jure" Soeharto dan presiden "de facto" Habibie. Karena SI MPR tidak
>melakukan hal itu (mengalihkan kekuasaan secara konstitusional) ditambah
>tidak jelasnya ending Dwifungsi dan peradilan terhadap Soeharto atas segala
>kejahatannya, maka SI MPR ditolak.
>
>Catatan: Saya sendiri tidak dalam barisan yang sejak awal menolak SI MPR.
>Tetapi, saya mempunyai 2 syarat sebagai parameter SI MPR itu bisa dikatakan
>mengaspirasikan kehendak rakyat: (1) Minta Pertanggungjawaban Soeharto dan
>cabut mandat darinya, karena pidato "berhenti" Soeharto itu tidak dapat
>mencabut Tap MPR No. IV yang mengangkatnya, dan (2) Hapuskan Fraksi ABRI di
>DPR, karena inkonstitusional, sebab semua anggota DPR harus dipilih dan
>sebagai wujud awal penghapusan dwifungsi ABRI. Hal itu saya tulis di
Tabloid
>Gema Reformasi, sepekan sebelum SI MPR dengan judul tulisan, "Menuju
>Indonesia Baru". Sayangnya 2 parameter itu tidak ada dalam SI MPR kemarin.
>
>Tapi, walaupun saya tidak dalam barisan yang sejak awal menolak SI, saya
>tidak dapat mengatakan bahwa menolak SI = menolak demokrasi. Sebab SI tidak
>sama dengan Demokrasi. SI MPR yang hanya mengukuhkan status quo tidak dapat
>disebut demokrasi.
>
>You:
> Lalu sastra klasik :  pertanggungan jawab
>presiden yang lengser, krisis konstitusional, kembali MPR jadi-jadian,
>menuju penolakan SI MPR.
>
>Martin:
>Itu bukan sastra klasik. Yang klasik itu kan "pembulatan tekad", "gerakan
>cinta rupiah" dll. Yang saya ungkapkan itu jelas adalah pokok-pokok
>prinsipil yang seharusnya terjadi dalam suatu negara yang demokratis. Masak
>presiden bisa mundur tanpa ada pertanggungjawaban. Pakai saja akal sehat
>anda, seorang presiden berkuasa (meskipun cuma 3 bulan), lalu
>sekonyong-konyong bila "aku berhenti" lalu enak aja ngeloyor tanpa
>pertanggung jawaban kepada MPR yang memberinya mandat?
>
>You:
>Menolak SI tidak sama dengan menolak demokrasi....
>Kemudian pendapat bahwa 4 tokoh Ciganjur hampir sama dengan suara MPR
>jadian.
>Ada beberapa kata kunci : SI adalah satu means untuk demokrasi. Pemilu
>adalah satu means  untuk demokrasi.
>
>
>Yang belum jelas  : Pakai apa kalau mau membuat demokrasi ?. Sdr. Manurung
>belum menjabarkan hal itu dengan  jelas.  Apa mau pakai cara jalan
>kelilingan Jakarta terus-menerus?. Atau pendudukan kota, lapangan terbang,
>pelabuhan,jalan cendana, jalan thamrin, istana merdeka, dan seperti itu ?
>Apa mau pakai sistim pemelorotan nilai rupiah?  Pemandegan sistim ekonomi ?
>Atau pemilu? . Atau sekian korban nyawa lagi?.  Atau ada means lain?
>
>
>Martin:
>Demokrasi itu punya banyak cara dari mulai Pemilu sampai Revolusi. Dalam
>tulisan saya itu, jelas saya katakan, bahwa saya setuju dengan Gus Dur agar
>Pemilu diselenggarakan sebagai cara yang baik-baik untuk perubahan
Indonesia
>menuju demokrasi (kedaulatan rakyat). Karena itu, saya katakan, Pemilu
nanti
>jangan lagi dimain-mainkan oleh penguasa untuk kepentingannya sendiri.
>Sebab, bermain-main (lagi) dengan Pemilu bisa membuat semua saluran
>demokrasi yang dapat membawa perubahan secara "baik-baik" akan tersumbat.
>Bila Pemilu masih dicurangi, direkayasa, diutak-atik, maka akumulasi
>ketidak-adaan saluran demokrasi itu dapat bermuara pada Revolusi (meskipun
>revolusi itu pun bisa "baik-baik").
>
>You:
>Tanpa penjelasan lebih lanjut yang teratur dan lebih cerdas,  email  yang
>mengandung To:  dan cc. kepada belasan tokoh2 elit dan profesor2 negeri ini
>cuma bisa membuat silau  dan kebingungan  dan prihatin orang biasa. Juga
>kedudukan penggerak atau koordinator mahasiswa Kristen menambah lagi
>pertanyaan saya. Apakah Martin Manurung itu masih bisa dimasukkan sebagai
>orang biasa yang tidak bingung?.  Yang bingung mau kemana pakai kendaraan
>apa?
>
>
>Martin:
>Maaf, saya tak mengerti, kenapa identitas saya sebagai koordinator
>solidaritas mahasiswa Kristen anda persoalkan? To dan CC kepda
"tokoh-tokoh"
>itu bukan untuk membuat silau. Mereka memang teman diskusi saya, jadi saya
>kirimkan kepada mereka agar dikomentari seperti yang saya kutip di atas.
>Maksudnya kendaraan apa ya? Saya tidak mengerti, bahasa anda terlalu
>melingkar-lingkar.
>
>
>
>BTW, saya tidak "anti Gus Dur". In fact, sampai saat ini saya masih
>mengagumi beliau sebagai seorang tokoh agama yang begitu mencintai bangsa
>Indonesia. Beliau adalah tokoh yang bisa menjalin hubungan baik dengan
>banyak kalangan dari segala agama, suku dan ras. Beliau adalah salah satu
>pemimpin bangsa Indonesia yang selalu saya doakan kesehatannya agar dapat
>terus berada bersama-sama bangsa Indonesia dalam setiap doa malam saya.
>Pandangannya tentang gerakan mahasiswa yang berbeda dengan saya itulah yang
>saya tanggapi.
>
>Salam saya.
>martin
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
>
>Indonesia without violence!
>
>



---------------------------------------------------------------------
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com 

Indonesia without violence!

Kirim email ke