Sangat positif memang kalu kita menyikapi persoalan TIMTIM dengan kepala
dingin dan tentu tidak dengan menyudutkan kelompok atau oknum tertentu.
Hanya ada hal yang aneh yang saya lihat dari cara berpikir di negara kita
pada saat ini.
Dari cara pandang kita sendiri, sering terlihat seolah negara Indonesia
ini seperti suatu negara agama yang terdiri dari bangsa-bangsa, dan
bukanya bangsa yang terdiri dari berbagai agama dan berbagai suku dan
etnik.  Mengapa saya berpikir demikian?
Sering saya amati kalau ada persoalan di luar negeri kita bawakan kedalam
negeri. Salah satu contoh misalnya denga apa yang terjadi di Bosnia.
Langsung persoalan ini diaplikasikan di dalam negeri kita dengan ada yang
pro dan tentu ada yang kontra. Kita lupa bahwa yang bertikai tadi bukan
negara Indonesia tetapi kita ikut-ikutan bertikai jadinya dengan
mengorbankan sesama bangsa kita sendiri. Terkadang persoalan tadi sampai
berbuntut pada persoalan SARA.
Kalau saya (Batak) misalnya berdampingan dengan seorang teman saya suku
Jawa, hal yang paling kelihatan adalah kita bangsa apa dan bukan kita
beragama apa. Tetapi sering kali poin yang terakhir ini menjadi landasan
utama kita untuk berpikir.
Salah satu contoh daerah yang paling bagus dijadikan contoh sebagai daerah
yang demokratis adalah kota Medan - Sumut. Contoh yang paling nyata dapat
kita ambil dari kesebelasan PSMS Medan, tercatat hanya satu orang
Bataknya, yaitu Sahari Gultom sedangkan yang lainnya lebih didominasi oleh
suku kita Jawa dan hasilnya adalah buat masyarakat Sumatera Utara sendiri.
Dan hal lainnya yang saya perhatikan yang sedikit kontradiktif adalah dua
persoalan di bawah ini:
- Kita sering mengagungkan nama-nama orang dari negara lain tetapi
melecehkan orang Indonesia sendiri pada hal orang Indonesia tersebut dapat
penghargaan Internasional, contohnya Uskup Belo penerima hadiah Nobel
Internasional di bidang perdamaian, padahal Belo itu sudah terangterangan
mengatakan bahwa dia orang Indonesia. Tetapi kenyataan yang sering saya
perhatikan bahwa Belo ini sering dianggap rendah oleh bangsa kita sendiri.

- Sering saya lihat di Indonesia tentang anti Cina, pada hal kalau kita
sadari bahwa yang mengangkat reputasi indonesia di event Olah Raga
Internasional 'Olimpiade' adalah orang Indonesia etnis China - Susi
Susanty.

Mungkin banyak hal lain yang bersifat kontradiktif yang dapat mengubah
cara pandang kita bangsa Indonesia, dan tentu tidak tertutup kemungkinan
para penulis di milis ini, akan bangsa kita sendiri. 


 On Thu, 15 Apr 1999, Jopie J Bambang wrote:

> Sepertinya kita perlu lebih kepala dingin menyikapi masalah timtim...
> 
                            --del-
> Apalagi bagi orang-orang yang kurang bijak dan hanya memikirkan kepentingan
> sepihak seperti Xanana, Horta & Bello.
> 
                            -del- 
> Saya sependapat dengan PDI Perjuangan yang menentang segala  bentuk
> disintegrasi yang merusak Negara Kesatuan - yang penting justru membereskan
> pemerasan dan segala jenis pelanggaran hak asazi yang ada.


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke