-----Original Message-----
From: Dadang Darmawan <[EMAIL PROTECTED]>
Akankah setelah reformasi ini kita akan kembali seperti ini ?
Harapan saya tentu saja tidak, ambil yang baik dari sistem orde baru,
jika ada
yang salah -diperbaiki dan disempurnakan.
======================================
Tanggapan:
Reformasi kita akan belajar dari kesalahan baik Soekarno maupun
Soeharto! Kita berterima kasih kepada mereka karena mereka telah
memberi contoh bagaimana kesalahan itu dibuat agar dengan demikian
generasi Indonesia yad tidak akan mengulanginya.
Hulu masalah itu terletak pada beberapa pasal dalam UUD 45 yang
memungkinkan presiden berkuasa tidak terbatas. Seperti Buyung telah
menyebutnya: "bahkan Soekarno yang demokratispun bisa terjebak". Nah
apalagi Soeharto yang berpendidikan formal tidak sekaliber Soekarno
ditambah dengan latar belakang militer yang tidak demokratis.
Hulu masalah itu memungkinkan Soekarno untuk mewujudkan ambisi-ambisi
politiknya at all cost seperti Character and Nation Building,
Berdikari, Penyatuan Nusantara secara militer dan diplomatik,
Sosialisme ala Indoensia, Penyatuan unsur Nasionalis-Agama-Komunis,
Perlawanan terhadap Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme dengan
konferensi Asia Afrika, Ganefo, dan Conefo (yang gagal ditengah
jalan).
Hulu masalah itu juga memungkinkan Soeharto untuk mewujudkan
ambisi-ambisi pribadinya untuk mengoreksi kesalahan Soekarno dengan
tesisnya yaitu pengutamaan pembangunan ekonomi yang dilandasai oleh
stabilitas poltik yang didukung oleh ABRI, Birokrasi, dan dominasi
Golkar di lembaga perwakilan rakyat. Lagi, UUD 45 secara
konstitusional memungkinkan Soeharto untuk memusatkan kekuasaan pada
dirinya.
Perbedaan mencolok antara Soekarno dengan Soeharto adalah pada warisan
masalah yang ditinggalkan dan jumlah kekayaan keluarga dan kroninya.
Soeharto memulai Orba dengan membersihkan seluruh anasir Orla dari
simpul-simpul kekuasaan untuk mewujudkan tesisnya. Hasilnya sangat
efektif.
Di sisi yang lain, Habibie yang ingin memperbaiki keadaan dengan
membentuk Kabinet Reformasi tidak belajar dari pengalaman Soeharto
agar manajemen reformasinya menjadi efektif. Ia masih menggunakan
unsur-unsur Orba dalam kabinetnya sehingga hasilnya maju kena mundur
juga kena. Atau, karena ia sendiri masih merasa bagian dan berhutang
budi pada Orba?
Kini, kaum reformis sudah mempunyai pengalaman empirik dari Soekarno,
Soeharto dan Habibie. Bila reformasi total itu ingin berjalan seperti
diharapkan sejak dicanangkannya maka warisan budaya Orba itu memang
harus dibersihkan mulai dari simpul-simpul kekuasaan agar hulu masalah
itu bisa diselesaikan.
��
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!