From: Tedy The Kion <[EMAIL PROTECTED]>
> Bung Abdullah Hasan,
> Apakah dapat saya simpulkan demikian dari tulisan Anda: Bahwa AGAMA sedang
> dijadikan ALAT (DIPERALAT) politik?
>
Bung Teddy,
Bagi banyak orang , ( termasuk saya , insyaallah paling sedikit cita-cita )
agama itu jadi satu merasuk kedalam daging, terus ketulang , terus lagi
lebih kedalam sampai menggigit nurani. Dia bukan baju yang dapat dicopot
saat tidur siang, atau berganti2 saat kita santai dan resepsi.
Bagi banyak orang, paling sedikit bagi banyak orang Islam, persoalan
kehidupan kenegaraan, persoalan kepemimpinan, persoalan politik, adalah
sangat erat menyangkut kehidupan keseharian yang amat berkaitan dengan
keyakinan keberagamaan.
Dari sudut pandang demikian, bercampurnya politik dan agama bagi saya adalah
persoalan amat sederhana. Tidak lebih dari soal aritmatika kelas satu
sekolah dasar. Dua tambah tiga adalah lima.
Bagi saya masalahnya bukan agama jadi alat politik atau bukan. Bukan
dicampurkannya agama dalam politik. Masalahnya agama jadi alat penipu atau
bukan.
Dalam konteks isyu caleg non-muslim PDIP :
Bila seseorang membuat ragu Kelompok Muslimin buat memilih PDIP dengan
menyampaikan fakta ( sekali lagi : fakta) banyaknya caleg non-muslim jadi
disana , bagi saya itu cara politik yang wajar2 saja.
Giliran PDIP meyakinkan pemilih Muslimin bahwa caleg non-Muslim itu sama
sekali tidak mengancam kehidupan orang2 Islam itu. ( Contohnya cara Kwik
Kian Gie yang dewasa dan simpatik menjelaskan seperti itu pada surat pembaca
Republika . Terus terang : saya percaya padanya).
Lain halnya bila seseorang sudah sampai men-vonis tanpa bukti bahwa caleg2
non-muslim tersebut memang punya skenario jelek terhadap orang2 Islam. Tanpa
bukti , itu adalah fitnah jahat yang menggunakan agama. Agama jadi alat
penipu.
Bung Teddy,
Bagi banyak orang Islam, agama adalah alat kalibrasi bagi bagi seluruh
kegiatan kehidupan ini. Apakah cocok kalau kita katakan : Lho ! Agama kok
diperalat !
Mudah-mudahan tambah jelas.
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!