Excellent analyses, bung Hasan. Great.
--
On Sun, 6 Jun 1999 21:17:31 Abdullah Hasan wrote:
>Wah , Bung Daniel , kelihatannya anda memaksa saya jadi ustat ? Saya jawab sebisa
>saya , ya ?
>
>Bolehkah wanita jadi Presiden dalam Islam ?
>
>Didalam agama Islam, hukum2 yang ada secara garis besar dibagi dua : Hukum2 yang
>terang jelas serta hukum2 yang didapat dari penafsiran . Termasuk dalam yang jelas
>adalah seperti Keesaan Tuhan, Menerima Muhammad atau Yesus sebagai Utusan dan
>AbdiNya, wajibnya sholat, dsb. Yang masuk kategori kedua adalah misalnya tatacara
>detail dari sholat, hukum jual beli , hukum2 soal zakat ( memberikan kelebihan harta
>pada negara / fakir miskin ), hak2 politik perempuan, dsb.
>
>Hukum kategori kedua, berkembang terus sesuai zaman. Hukum2 tersebut sangat sensitive
>pula terhadap sudut pandang dan intelektualitas dari sang pakar hukum . Hukum
>tersebut tentunya sensitive pula terhadap bumi dan waktu pijakan sang pakar.
>Muncullah kemudian istilah seperti "membumikan" hukum , dsb. Contohnya adalah dalam
>menjawab pertanyaan saudara :
>
>Dalam persoalan hak kepemimpinan dan politik perempuan dalam Islam terdapat ayat
>Quran yang dijadikan dasar : " Laki2 ( suami) itu adalah pemimpin terhadap perempuan
>( isteri) " : ( Annisa-34) . Tafsiran yang lebih awal menyimpulkan wanita tidak boleh
>jadi pemimpin. Tafsiran kontemporer mempertanyakan kesimpulan tersebut. Yang pertama
>apakah ayat tersebut tidak terbatas dalam konteks rumahtangga, suami isteri. Itupun
>dipertanyakan lagi karena lanjutan ayat tersebut antara lain :,,, karena suami
>memberikan nafkahnya kepada isterinya....." . Bagaimana kalau si isteri yang
>memberikan nafkahnya atau mencari nafkah bareng apakah batasan2 kewajiban
>kepemimpinan jadi gugur ?.
>
>Pemikir kontemporer-pun menggunakan ayat lain yang lebih jelas ( At-Taubah ayat 74)
>: " Dan orang-orang yang beriman , lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah
>awliya' bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh untuk mengerjakan yang makruf ,
>mencegah kemungkaran ........". Arti Awliya' itu mencakup kerjasama, bantuan dan
>penguasaan. Sedangkan menyuruh mengerjakan yang makruf , mencakup segala segi
>kebaikan mencakup memberikan kritik pada penguasa ( politik), dsb...
>
>Bung Danil, Para Netters,
>Yang diatas itu dari agama. Kalau didalam politik semuanya bisa macam2. Dalam
>politik segala yang bisa dipakai akan dipakai. Kelompok Islam bodoh sekali kalau
>tidak menggunakan tafsiran yang menguntungkankelompok politiknya . Kelompok lainpun
>juga sama bodohnya kalau menciptakan kebodoh2an yang bisa dimanfaatkan lawan
>politiknya. Isyu Sembahyangnya Mega di Puri adalah inovasi yang baik bagi lawan ,
>kebodohan bagi kelompok Mega. Isyu Caleg non-moslem inovasi bagi sekelompok partai,
>kelemahan bagi PDIP. Dsb.
>
>Demikian pula adalah sangat sah dan inovativ bila Mega menggunakan karisma bapaknya
>buat menarik suara. Adalah inovasi politik pula tampilan citra tertindas pada diri
>Mega yang bisa menarik kaum muda .
>Adalah amat tolol bagi Mega untuk mau berdebat dengan pakar2 seperti yang dilakukan
>oleh Amin Rais dan Yusril. Apa guna mempertontonkan "kebegoan" dalam menarik suara ?
> Para inteletual boleh menjerit atau menangis sekalipun , masa bodo!
>
>Dalam demokrasi, menarik kertas dalam kotak suara merupakan faktor terpenting. Kita
>tidak bisa cengeng terhadap berbagai inovasi politik yang lazim itu . Dalam negara
>maju Iklan TV dan Politik adalah dua hal yang erat berhubungan. Apa arti iklan ?
>Kita lebih dari tahu bahwa iklan adalah upaya "membujuk" untuk membeli barang yang
>kita punya dengan cara yang canggih dan halus.
>
>Yang diperlukan adalah pendidikan masyarakat . Lebih canggih masyarakat lebih sulit
>orang politik buat main "tipu" demikian. Masyarakat terdidik secara wajar tidak akan
>mudah membeli barang dengan bumbu ayat2 kitab suci. Bisa nek dengan sendirinya.
>Masyarakat terdidik tidak bakal mau membeli calon presiden yang cuma mampu diam
>membisu. Presiden membutuhkan kefasihan yang cukup buat menjelaskan kemampuan
>dirinya.
>
>Tapi optimislah ! Mudah2an bangsa ini mampu menjalankan lompatan demokrasi dan
>lompatan pendidikan disamping beberapa lompatan2 yang telah disebut seperti lompatan
>teknologi dan ekonomi.
>
>Wassalam.
>
>
>----- Original Message -----
>From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Sunday, June 06, 1999 11:44 AM
>Subject: [Kuli Tinta] Wanita Muslim Tidak Berkualitas sbg Presiden?
>
>
>> Perempuan oleh Islam katanya dilarang sebagai pimpinan pemerintahan.
>> Alasannya katanya, perempuan (Islam) tidak becus menjadi pimpinan. Padahal
>> dalam kenyataan seorang perempuan mampu untuk menjadi pimpinan
>> pemerintahan, apakah itu sebagai presiden, ataukah sebagai Perdana Menteri.
>> Demikian hal semacam ini tidak menjadi tabu di negara-negara yang mayoritas
>> penduduknya beragama Kristen atau non-muslim lainnya. Kita mengambil
>> sedikit contoh saja, seperti "wanita besi" dari Inggris atau PM Margareth
>> Thatcher, kemudian ada Presiden Philipina Ny. Qorazon Aquino. Bahkan
>> sebenarnya, Islam pun (pernah) punya PM dari Pakistan yang sangat ulet dan
>> solid sampai sekarang.
>>
>> Kalau memang wanita (muslim) tidak boleh menjadi presiden karena katanya
>> tidak becus, atau apapun alasannya, berarti jelas ada diskriminasi gender,
>> dan berarti pula secara tidak langsung mengakui kualitas wanita (muslim)
>> kalah dengan perempuan-perempuan di negara-negara non-muslim. Bagaimana
>> ini? Ada yang bisa jelaskan? Pak Abdullah Hasan di Kuli-Tinta, mungkin?
>>
>> Daniel H.T.
>>
>>
>>
>> ______________________________________________________________________
>> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>
>> PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!