On Sat, 5 Jun 1999, Tedy The Kion wrote:

> Tapi kalau gara-gara masalah keyakinan pribadi sampai melupakan hak
> keyakinan orang lain, maka masalahnya adalah korelasi antara KEYAKINAN
> AGAMIS dengan PENERAPANNYA. Ambilah contoh semisal orang ISLAM* menginginkan
> negara ini berdasarkan ke-ISLAM-an yang akan bisa berarti menolak
> 'aksesoris' kehidupan yang berwarna non-Islam (karena kalau menerima khan
> bisa jadi negara sekuler), jadi gimana nih hak keyakinan orang lainnya
> dibatasi oleh keyakinan ISLAMI? Apakah cocok jika jalan keluarnya adalah
> setiap keyakinan lain harus memaksakan diri untuk rela atau merelakan diri
> untuk dipaksa menjalani kehidupan yang bercorakkan keyakinan lain? Nah kan
> tentunya pemaksaan keyakinan yang tidak disengaja itu tentunya bertentangan
> dengan misalkan aturan untuk menghormati & menghargai hak sesama manusia
> yang tentunya existensi hal tersebut  universal, di tiap agama ada. Maka
> masalahnya kemudian berkembangan, antara KEYAKINAN (AGAMA) dan PENERAPAN
> yang seharusnya sejalan, saling melengkapi, tidak betubrukan antara dogma
> dan kenyataannya.
> 
> (* silahkan mengganti misalkan dengan: KRISTEN, HINDU, dll.)

Sepintas rasanya sulit, tapi ternyata VERY VERY DIFFICULT. Saya senang
juga nih ikutan milis ini (saya orang baru), setidaknya wawasan saya
bertambah. Saya akan mencoba menanggapi, tolong ditanggapi lagi agar
kita semakin 'cerdas'. (Tolong baca seluruh point secara lengkap, agar
diskusi yg mungkin timbul tidak sekedar masalah bahasa, namun masalah
esensi).

PERTAMA kita semua sepakat agama tidak akan dan tidak ditujukan untuk
menyengsarakan umat manusia. Jadi seharusnya tdk mungkin penerapan suatu
agama mengakibatkan hal tersebut. Kalau hal tsb terjadi, besar dugaan
penerapannya yg salah. Gimana sepakat ?

KEDUA yg dimaksud dg kesejahteraan (lawan kesengsaraan) umat manusia,
tidak selalu berarti apa2 yg selama ini disetujui oleh mayoritas manusia.
Artinya tdk boleh juga sesuatu yg 'diyakini/diduga' sbg kesejahteraan
mengalahkan sesuatu yg sudah pasti dlm agama. Contoh dlm kitab suci 
dikisahkan kaum luth menganggap homoseks/lesbian sbg suatu kelaziman,
namun kemudian diturunkan azab. Berarti saat itu 'hal tsb' disepakati sbg
'kesejahteraan', namun benar2 ditentang agama. Sepakat enggak ?

KETIGA ada hal2 universal ttg kesejahteraan umat manusia yg pasti adanya
& tdk mungkin bertentangan dg agama, seperti tdk adanya pemaksaan
keyakinan, tdk adanya penindasan sesama manusia, tdk adanya pengambilan
nyawa manusia scr semena-mena, dll. Sepakat kan ?

KEEMPAT ada keyakinan yg mungkin bertolak belakang. Nah ini agak berat utk
disepakati (mungkin). Misalnya keyakinan komunis pasti bertentangan dg
agama. Tapi tiap keyakinan tdk boleh saling memaksa (lihat point KETIGA),
yg boleh saling mengajak. Saya tetap meyakini bahwa org yg faham dg
agamanya mesti memberikan pencerahan kepada siapapun, terutama umatnya
sendiri, dalam hal ini utk membentengi umat dari komunisme. Masih sepakat?

KELIMA ini yg paling berat utk disepakati. Apakah memilih caleg non muslim
diperbolehkan bagi umat Islam ? Apakah ini suatu keyakinan, atau 
penerapan yg salah karena tdk sesuai dg kesejahteraan manusia ? Bagaimana
saya mesti mengartikan ayat di bawah, selain sbg suatu ajaran agama yg
pasti. (rasanya perlu saya kutip salah satu ayat dr Al Qur'an, maaf ini
terpaksa lho, mohon juga dibaca, apapun keyakinan anda, agar diskusi ini  
tetap berjalan) :

Al Maidah :51
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi
dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah
pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil
mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
mereka."
[Masih banyak ayat lain, namun satu ayat di atas cukup mewakili]

Di sini saya kira, saya ataupun anda, bukan ahli tafsir Al Qur'an, jadi
kita sepakati saja tafsir yg sudah ada.

KEENAM bagaimana kompromi yg mungkin timbul agar tdk ada yg dirugikan.
Kalau ayat di atas adalah keyakinan yg pasti, kmd demi menghargai umat
lain ayat tsb diabaikan umat Islam, berarti di sini umat Islam dirugikan.
Dan kalau keyakinan tsb dipaksakan utk diabaikan, berarti ada pemaksaan
thd keyakinan yg dimiliki umat Islam.
Namun kalau ayat ini diterapkan apakah benar umat lain merasa dirugikan ?  
Toh hanya umat Islam yg diseru utk memilih caleg muslim, & saya sempat
baca (lupa di mana), pemuka agama lain juga menyerukan hal serupa kepada
umatnya. Di sini saya berpendapat bahwa tdk ada yg dirugikan. Mudah2an
sepakat.

KETUJUH kita perlu melihat kondisi berikutnya dan alasan historis. Jika
kemudian mayoritas anggota DPR muslim apa yg terjadi ? Demikian pula jika
mayoritas anggota DPR non muslim apa yg terjadi ?
Kalau semua anggota DPR tsb - muslim & non muslim - menjalankan ajaran
agamanya dg baik, seharusnya akhirnya tdk ada yg dirugikan. 
Jadi sama saja dong memilih caleg muslim & non muslim ? Jawabannya beda dg
merujuk point KELIMA yg mrp keyakinan seorang muslim. Namun kalau kmd
sudah tjd, bahwa mayoritas anggota DPR muslim atau non muslim, kita
'terpaksa' menerima. Dan kita mengharapkan mereka tdk merugikan pihak
manapun dg menjalankan agamanya masing2 dg baik. 
Sedang alasan historis umat Islam tdk menerima caleg non muslim krn
kebijakan Orba dulu (zaman LB Murdani ke bawah), di mana umat Islam
dipinggirkan, cenderung merugikan pihak muslim (kasus Priok, dll). Namun
alasan historis ini bukan alasan utama. Karena mungkin itu adalah masalah
'person' birokrat zaman Orba dulu, bukan masalah agama. Jadi alasan utama
di sini adalah point KELIMA di atas.

Gimana ada tanggapan ? Mungkin uraian di atas agak dangkal, karena tulisan
langsung di depan komputer tdk dilakukan dg analisis mendalam.

beDoer



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke