On Thu, 10 Jun 1999, Phantom Stranger wrote:
> From: Abdur Rahim <[EMAIL PROTECTED]>
> > Al Maidah :51
> > "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi
> > dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah
> > pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil
> > mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
> > mereka."
> > [Masih banyak ayat lain, namun satu ayat di atas cukup mewakili]
> --------------------------------------------------------------------
> apa yang dimaksud dengan pemimpin disini?
> apakah pemimpin agama, ataukah pemimpin negara?
> kalo pemimpin agama ya jelas lah, ritualnya aja beda dll..
>
Alhamdulillah pemilu telah berakhir. Dengan demikian kita dapat
memperbincangkan hal ini tanpa ada tuduhan apriori sebagai memanfaatkan
agama untuk kepentingan politik.
Saya tertarik pada komentar Sdr. Yudhi yg menyarankan pegang erat2
pendapat anda dan simpan energi anda. Dengan demikian jika sudah jelas
argumen masing-masing pihak, sebaiknya diskusi tentang masalah ini kita
akhiri, tinggal kita masing2 membuka hati sehingga kebenaran yang datang
tidak terhalangi oleh kepentingan duniawi masing2.
Jika anda non muslim rasanya tidak pada tempatnya jika saya menyampaikan
surat Al Maidah:51 ini dengan harapan untuk anda ikuti. Surat tersebut
dilampirkan dalam imel ini hanya dengan harapan agar pihak non muslim
dapat memahami landasan berpikir kaum muslimin. Ajakan yg tepat bagi pihak
non muslim tentunya adalah ajakan untuk masuk Islam. Namun ajakan ini juga
rasanya kurang tepat untuk disampaikan secara singkat dalam sebuah imel.
Oleh karena itu kepada non muslim saya hanya mampu mengajak untuk
memikirkan kembali mengapa kita menganut suatu agama. Apakah hanya karena
kita terlahir menganut agama tersebut, kemudian lingkungan kita juga
memeluk agama yang sama; atau karena agama tersebut telah kita pelajari
dan kita yakini kebenarannya. Tentu anjuran ini dapat bermakna dua
arah, artinya seorang muslim juga dianjurkan utk memikirkan kembali
mengapa ia memilih agama tersebut. Mari kita membuka diri.
Sedangkan untuk kaum muslimin, pertama-tama saya hanya mengajak agar kita
menjalankan agama yang telah kita yakini kebenarannya ini secara
menyeluruh. Mengimani - meyakini dan mengamalkan - hanya sebagian isi Al
Qur'an dan mengingkari bagian yang lain dapat membawa kita kepada
kekufuran. Jadi jika kita telah meyakini bahwa suatu hal adalah kebenaran
dari Allah (bukan hanya pendapat manusia), maka jangan tunda lagi untuk
mengamalkannya. Jangan seperti Abu Thalib yg yakin bahwa Rasulullah adalah
benar, namun enggan mengikuti ajarannya hanya karena memperhatikan
kedudukannya dalam kaumnya.
Ada baiknya kita sering berdo'a, ya Allah tunjukkanlah yg benar adalah
benar dan berilah kekuatan utk mengikutinya; dan tunjukkanlah yg bathil
adalah bathil dan berilah kekuatan utk menjauhinya.
Akhirnya diskusi tentang surat Al Maidah:51 kita mulai. Saya tidak akan
menyatakan pendapat saya pribadi, namun saya hanya ingin mengutip pendapat
para ulama. (Ma'af saya belum menemukan banyak referensi)
Pemimpin dalam surat tsb ditulis sebagai auliya, bentuk jama' dari wali.
Sinonim al-waliyyu dalam bahasa Arab adalah al-Maula, yang bisa berarti
Rabb, raja, tuan, yang memberi nikmat, budak yg dimerdekakan, pemberi
pertolongan, pecinta, pengikut, tetangga, anak paman, sekutu, teman,
menantu, budak, dan yang diberi nikmat. Dalam semua makna tersebut
terdapat unsur pertolongan dan kecintaan di dalamnya (lihat Al Wala' wal
Bara' fil-Islam; min mafahim aqidatis-salaf, Muhammad bin Sa'id bin Salim
Al-Qahthany).
Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa al-walayah kebalikan dari al-'adawah. Asal
pengertian dari al-walayah adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan asal
pengertian al-'adawah adalah kebencian dan kejauhan. Al wali artinya yang
dekat.
Khusus mengenai surat al maidah di atas, Sayyid Quthb mengomentari bahwa
tidak mungkin apabila orang Muslim sampai mengikuti orang2 Yahudi dan
Nasrani dalam masalah agama (sama seperti yg diungkapkan dalam imelnya
Sdri. Eva). Yang dimaksudkan di sini adalah wala' dalam tukar-menukar
pertolongan dan hubungan perjanjian. Lebih lanjut ia berkata bahwa walayah
yg dilarang di sini adalah walayah saling tolong-menolong dan saling
mengadakan persekutuan dengan mereka, tidak berkaitan dg makna mengikuti
agama mereka.
Sedang dalam tafsir Ibnu Katsier (terjemah singkat) hanya ditulis sebagai
berikut :
Dalam ayat ini jelas Allah melarang hamba-Nya yg beriman berwali,
berlindung, bersandar, berpemimpin pada semua musuh Islam baik dari kaum
Yahudi maupun Nashara, mereka saling berwali atau bertolongan di antara
sesama mereka. ....
Juga dikisahkan tentang Abu Musa Al'asy'ari yang mempunyai penulis seorang
Kristen. Mengetahui hal ini Umar bin Khathab membentaknya dan memukul
pupunya sambil berkata "Keluarkan dia dari sini", kemudian membaca
Al Maidah:51.
Jadi pemahaman seorang Umar bin Khathab tentang ayat tsb menyebabkannya
bertindak sedemikian. Padahal hanya sebagai seorang penulis, apalagi
menjadi pengatur negara (pembuat undang-undang).
Udah.
Saya tidak menemukan keterangan2 lain yg lebih spesifik. Saya anggap hal2
di atas cukup bagi kita utk menarik kesimpulan. Sebenarnya saya ingin
melihat tafsir Quraisy Shihab, Hamka, dll tentang hal ini, namun saya
belum memperolehnya.
Sekarang tinggal bagaimana sikap kita. Dalam ayat selanjutnya (ayat 55)
dikatakan wali kamu (diartikan penolong) hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan
orang2 yg beriman, yg mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya
mereka tunduk (kepada Allah).
Wallahu a'lam
beDoer
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!