Poros Tengil.
Dari pendukung poros 'tengil'-nya saja sudah bisa ditebak, bahwa poros
'jadi-jadian' ini memang tak ubahnya cacing-cacing sekarat yang mencoba
meronta karena hampir habisnya izin edarnya di persada demokrasi negara ini
yang segera bangkit dalam tempo dekat ini.
Para pemrakarsa poros 'tengil', secara riwayat, amat gampang dipelajari,
kalau mereka tak lebih orang-orang yang bakal takut, bukan saja tak bakal
dapat peran di era Indonesia Baru mendatang, tetapi juga karena catatan
riwayat yang sedemikian buruk dan busuk, sehingga bakal jadi bulan-bulanan
yang amat tak sedap di masa depan negeri ini.
Partai 'Persatean Perbambungan', misalnya, punya kaok-kaok yang sedemikian
kentalnya terhadap kelompok SQ. Dan ketika kedok mereka bakal terbuka,
mengingat pasar demokrasi di kelompok partai Gulungan Karton yang semakin
transparan perpecahannya, maka niat untuk mendukung HBB pun diubah agar tak
terlalu transparan, dengan membentuk Poros Tengil yang seolah merupakan
alternatif.
Adakah sebuah koinsidensi, jika ketika dengan ramainya Poros Tengil ini
mencalonkan Gus Dur, tetapi serta merta ada salah satu ketua Partai
Persatean Perbambungan berteriak 'Awas ada Jebakan kepada HBB' manakala Gus
Dur mengintrodusir 'ampunan politis' terhadap HMS ? Sebuah upaya untuk
melindungi sang Bos yang riil ?
Sebenarnya kesempatan demi kesempatan untuk membuat mereka segara 'insyaf'
dengan pindah gerbong reformasi sudah tersedia. Tetapi justru sampai saat
terakhir, hanya berbilang tak lebih dari 100 hari, mereka masih dengan
sangat ngeyel dan melakukan kalkulasi-kalkulasi yang sangat sinting. Saya
berani memastikan, dengan tingkatan kemiringan dan kesintingan seperti ini,
lalu pada saatnya dibilas (bukan dilibas) oleh praktek-praktek demokratis di
Indonesia Baru nanti, bisa dipastikan mereka akan melengkapi barisan AgMif
sebagai gurem-gurem yang cuma bikin gatal.
Masihkah kita percayai Poros Tengil ini ?
Triman
>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Usul Gus Dur: Ampuni Soeharto
>Date: Sat, 7 Aug 1999 18:55:03 +0700
>
>Akan hilang karena melawan hakekatnya!
>
>Polarisasi kelompok yang tampak dalam kemunculan berbagai partai Islam itu
>beserta distribusi suaranya telah menunjukkan hakekat perbedaannya.
>
>Kalau sekonyong-konyong muncul keinginan untuk bergabung maka hal itu lebih
>berorientasi pada kepentingan sempit jangka pendek para elit politiknya.
>Metamorfosa Fraksi Islam ke Poros Tengah disamping mengindikasikan
>polarisasi itu juga menunjukkan orientasi itu.
>
>Semasa Orba para Elit politk PPP dan PDI pada dasarnya telah menikmati the
>existing benefit dan mereka takut kehilangan. Dukungan PPP ke Habibie
>semakin memperjelas posisinya. Oleh karena itu, ketika tujuan akhir keompok
>berbeda dengan tujuan individu masing-masing elit politik maka kelompok itu
>tidak mungkin membangun kesepakatan.
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!