Lippogate
Peristiwa Baligate membuat Golkar dan kelompok pendukung Habibie seolah
tertahan langkahnya. Kontan saja Baramuli pun bikin manuver, namun
seperti biasa, manuver itu justru banyak jebloknya. Lebih-lebih dia ini
seolah-olah sudah jadi target oleh siapa saja, bahkan dari kalangan
dalam Golkar. Suka atau tidak, berbagai kecaman dan hujatan pun muncul
ke tubuh beringin, lebih-lebih ke sasaran utama, Habibie, dan tim
(siluman) sukses. Dalam hal ini, dari kalangan yang begitu demen sama
Habibie, lebih suka melihat apa yang dilakukan oleh PDI Perjuangan (tak
etis, katanya), dibanding dengan perjuangan kalangan dalam Golkar
sendiri (yang ingin menanam benih bagi Pemilu 2004).
Itulah sebabnya, mengapa justru pihak-pihak yang mengeluarkan
pendapat-pendapat yang membuat peristiwa Bank Bali menjadi lebih
transparan-lah yang kemudian jadi sasaran, dari mereka yang mencoba
membela Habibie dan Tim Suksesnya. Tetapi, jelas bukan Pradjoto, meski
beliau lah yang sangat berjasa menguak serba tak bagus ini. Yang jadi
sasaran adalah PDI Perjuangan. Ini harus dihentikan, agar Mega tak
mulus melenggang. Lippogate pun dihembuskan, dengan imbuhan kata
bersayap, 'ada kasus yang serupa dengan Bank Bali, yang dilakukan oleh
partai sangat besar, yang selama ini rajin menghujat Golkar'.
Aku jadi tak paham, di mana 'keserupaan' tersebut adanya. Taruh kata
daftar yang beredar yang berisi penyumbang-penyumbang, bahkan ada
anak-anak Soeharto serta kroni, itu benar, tetap tak serupa dengan
kasus Bank Bali.
Jika kita hanya melihat 'Bank Bali menyumbang Golkar', lalu 'ada orang
Lippo menyumbang PDI Perjuangan', memang bisa disebut serupa. Padahal,
soal Bank Bali, sejak awal masalahnya adalah 'adanya tindakan tak
terpuji, penggunaan dalih cessie (sebut saja makelar), yang
memanfaatkan jalur orang dalam, pemerintah, dan oknum Golkar, untuk
mengeluarkan tagihan Bank Bali yang dijamin pemerintah'.
Padahal, tanpa harus ada makelar, wajiblah pemerintah membayar jaminan
itu. Jika semua lambat terbayar, karena duitnya belum cukup atau masih
dipelajari, ya semua dibuat lambat. Jangan dibikin cepat, dan mesti ada
pelincir segala.
Selain itu, soal cessie pun caranya tidak begitu. bayar Bank Bali dulu,
terserah mau diskon berapa sesuai janji, lalu tagih sendiri ke BPPN.
Lha ini cessie model EGP, caranya dengan mengkondisikan orang dalam
BPPN, dengan tekanan pemerintah, lalu kalau duit keluar, baru datang
minta.
Cara-cara ini jelas memperburuk citra upaya pemulihan ekonomi negeri
ini. Respon-nya langsung kelihatan di perdagangan valuta. Harga-harga
langsung naik, dan ekonomi kembali termehek-mehek. Juga membuat
kepercayaan IMF dan Bank Dunia rada-rada luntur.
Melihat kasus Bank Bali, harus demikian.
Bagaimana Lippogate ?
Taruh kata edaran mengenai daftar penyumbang PDI Perjuangan itu benar,
sama sekali tidak bisa diserupakan dengan kasus Bank Bali. Tak ada
rekayasa, atau obok-obok paksa yang memalukan citra bangsa. Bahkan tak
membuat pasar valuta jadi kaget. Biasa saja.
Sumbangan ke rekening PDI Perjuangan bisa dilakukan oleh siapa saja,
dengan terang, atau sembunyi. Nomor rekening itu dipublikasikan luas,
bahkan melalui iklan di semua suratkabar besar negeri ini, sebagai cara
untuk menggali dana. Dan kalau tiba-tiba Anda iseng memasukkan miliaran
rupiah Anda ke sana, pun bebas saja keluar masuknya. Apa iya PDI
Perjuangan lalu memasang orangnya di semua bank, untuk menolak
kedatangan Anda, kan tidak.
Pengusaha-pengusaha besar, yang memiliki jaringan bisnis sangat besar,
pasti berharap untuk tetap aman melakukan bisnis di pemerintah baru
mendatang. Ada bagusnya mereka menyumbang, agar ada saling kepercayaan
yang bukan berarti menjual diri. Jika mereka melihat PDI Perjuangan-lah
yang pasti memimpin negeri ini, kenapa salah kalau mereka menyumbang ke
partai ini. Jika mereka tak melihat potensi PDI Perjuangan, pasti
mereka tak melakukan tindakan tersebut.
Yang harus dilakukan oleh PDI Perjuangan sekarang adalah memeriksa
rekeningnya, benarkah masuk duit dari orang-orang yang ada dalam daftar
yang beredar itu. Demi kejujuran hati nurani perjuangan PDI Perjuangan,
yang diamanatkan oleh rakyat sangat kecil negeri ini, kembalikan
sumbangan itu. Hanya dari mereka, yang benar-benar simpatisan PDI
Perjuangan sajalah yang boleh diterima. Sumbangan dari keluarga
Soeharto, tolak sama sekali.
Aku, pencoblos PDI Perjuangan, masih rela untuk miskin. Jutaan petani,
tukang becak, pengasong, kuli, juga masih rela miskin. Sumbangan itu,
jika benar-benar ada, kembalikan.
Gigih
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!