Akuur,
Saya juga ikut menyaksikan; banyak orang di daerah saya, di Solo, yang rela
puasa karena uang makannya disumbangkan untuk perjuangannya Ibu Mega.   

> ----------
> From:         GIGIH NUSANTARA[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Friday, August 27, 1999 9:57 AM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Cc:   [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      [Kuli Tinta] Lippogate
> 
> Lippogate
> 
> Peristiwa Baligate membuat Golkar dan kelompok pendukung Habibie seolah
> tertahan langkahnya. Kontan saja Baramuli pun bikin manuver, namun
> seperti biasa, manuver itu justru banyak jebloknya. Lebih-lebih dia ini
> seolah-olah sudah jadi target oleh siapa saja, bahkan dari kalangan
> dalam Golkar. Suka atau tidak, berbagai kecaman dan hujatan pun muncul
> ke tubuh beringin, lebih-lebih ke sasaran utama, Habibie, dan tim
> (siluman) sukses. Dalam hal ini, dari kalangan yang begitu demen sama
> Habibie, lebih suka melihat apa yang dilakukan oleh PDI Perjuangan (tak
> etis, katanya), dibanding dengan perjuangan kalangan dalam Golkar
> sendiri (yang ingin menanam benih bagi Pemilu 2004).
> 
> Itulah sebabnya, mengapa justru pihak-pihak yang mengeluarkan
> pendapat-pendapat yang membuat peristiwa Bank Bali menjadi lebih
> transparan-lah yang kemudian jadi sasaran, dari mereka yang mencoba
> membela Habibie dan Tim Suksesnya. Tetapi, jelas bukan Pradjoto, meski
> beliau lah yang sangat berjasa menguak serba tak bagus ini. Yang jadi
> sasaran adalah PDI Perjuangan. Ini harus dihentikan, agar Mega tak
> mulus melenggang. Lippogate pun dihembuskan, dengan imbuhan kata
> bersayap, 'ada kasus yang serupa dengan Bank Bali, yang dilakukan oleh
> partai sangat besar, yang selama ini rajin menghujat Golkar'.
> 
> Aku jadi tak paham, di mana 'keserupaan' tersebut adanya. Taruh kata
> daftar yang beredar yang berisi penyumbang-penyumbang, bahkan ada
> anak-anak Soeharto serta kroni, itu benar, tetap tak serupa dengan
> kasus Bank Bali.
> 
> Jika kita hanya melihat 'Bank Bali menyumbang Golkar', lalu 'ada orang
> Lippo menyumbang PDI Perjuangan', memang bisa disebut serupa. Padahal,
> soal Bank Bali, sejak awal masalahnya adalah 'adanya tindakan tak
> terpuji, penggunaan dalih cessie (sebut saja makelar), yang
> memanfaatkan jalur orang dalam, pemerintah, dan oknum Golkar, untuk
> mengeluarkan tagihan Bank Bali yang dijamin pemerintah'.
> 
> Padahal, tanpa harus ada makelar, wajiblah pemerintah membayar jaminan
> itu. Jika semua lambat terbayar, karena duitnya belum cukup atau masih
> dipelajari, ya semua dibuat lambat. Jangan dibikin cepat, dan mesti ada
> pelincir segala.
> 
> Selain itu, soal cessie pun caranya tidak begitu. bayar Bank Bali dulu,
> terserah mau diskon berapa sesuai janji, lalu tagih sendiri ke BPPN.
> Lha ini cessie model EGP, caranya dengan mengkondisikan orang dalam
> BPPN, dengan tekanan pemerintah, lalu kalau duit keluar, baru datang
> minta.
> 
> Cara-cara ini jelas memperburuk citra upaya pemulihan ekonomi negeri
> ini. Respon-nya langsung kelihatan di perdagangan valuta. Harga-harga
> langsung naik, dan ekonomi kembali termehek-mehek. Juga membuat
> kepercayaan IMF dan Bank Dunia rada-rada luntur.
> 
> Melihat kasus Bank Bali, harus demikian.
> 
> Bagaimana Lippogate ?
> 
> Taruh kata edaran mengenai daftar penyumbang PDI Perjuangan itu benar,
> sama sekali tidak bisa diserupakan dengan kasus Bank Bali. Tak ada
> rekayasa, atau obok-obok paksa yang memalukan citra bangsa. Bahkan tak
> membuat pasar valuta jadi kaget. Biasa saja.
> 
> Sumbangan ke rekening PDI Perjuangan bisa dilakukan oleh siapa saja,
> dengan terang, atau sembunyi. Nomor rekening itu dipublikasikan luas,
> bahkan melalui iklan di semua suratkabar besar negeri ini, sebagai cara
> untuk menggali dana. Dan kalau tiba-tiba Anda iseng memasukkan miliaran
> rupiah Anda ke sana, pun bebas saja keluar masuknya. Apa iya PDI
> Perjuangan lalu memasang orangnya di semua bank, untuk menolak
> kedatangan Anda, kan tidak.
> 
> Pengusaha-pengusaha besar, yang memiliki jaringan bisnis sangat besar,
> pasti berharap untuk tetap aman melakukan bisnis di pemerintah baru
> mendatang. Ada bagusnya mereka menyumbang, agar ada saling kepercayaan
> yang bukan berarti menjual diri. Jika mereka melihat PDI Perjuangan-lah
> yang pasti memimpin negeri ini, kenapa salah kalau mereka menyumbang ke
> partai ini. Jika mereka tak melihat potensi PDI Perjuangan, pasti
> mereka tak melakukan tindakan tersebut. 
> 
> Yang harus dilakukan oleh PDI Perjuangan sekarang adalah memeriksa
> rekeningnya, benarkah masuk duit dari orang-orang yang ada dalam daftar
> yang beredar itu. Demi kejujuran hati nurani perjuangan PDI Perjuangan,
> yang diamanatkan oleh rakyat sangat kecil negeri ini, kembalikan
> sumbangan itu. Hanya dari mereka, yang benar-benar simpatisan PDI
> Perjuangan sajalah yang boleh diterima. Sumbangan dari keluarga
> Soeharto, tolak sama sekali.
> 
> Aku, pencoblos PDI Perjuangan, masih rela untuk miskin. Jutaan petani,
> tukang becak, pengasong, kuli, juga masih rela miskin. Sumbangan itu,
> jika benar-benar ada, kembalikan.
> 
> Gigih
> 
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Bid and sell for free at http://auctions.yahoo.com
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke