Ya, pandangan sempit saya mengatakan bahwa referendum dengan salah satu opsi
merdeka adalah bagian dari hak self determination, mestinya hanya untuk
kawasan yang belum jelas statusnya. Kepulauan Spratley mungkin kawasan yang
tepat untuk referendum macam itu. Sayang penduduknya tadinya hampir nggak
ada, sehingga negara-negara yang berkepentingan, Cina, Vietnam, Philipines,
Malaysia dsb rame rame mengirim migrant kesana.
Dalam cara pandang seperti itu, referendum di Timtim masih mendapat lahan
pembenaran, yaitu dalam rangka self determination, walaupun bagi sebagian
bangsa Indonesia tadinya integrasi Timtim dianggap sudah final dengan adanya
Tap MPR, sehingga membuahkan penolakan pertanggung jawaban Habibie.
Akan halnya Aceh, kasusnya sangat berbeda, tidak ada masalah self
determination disana, karena dari awalnya kawasan ini merupakan bagian
integral Indonesia. Karena itu nggak layak menggunakan referendum Timtim
sebagai referensi.
Itulah mengapa saya masih mencari tahu mengapa pembenaran perlunya
referendum Aceh ini menggunakan referensi Timtim. Saya ingin melihat apakah
pembenaran ini tidak akan menjadikan Indonesia 'berantakan' seperti Uni
Sovyet dan Balkan?
Atau memang ada pembenaran mengapa referendum dengan opsi merdeka perlu
dilaksanakan di Aceh?
Eskalasi suhu politik di Aceh harus dicermati sama intensifnya dengan
beberapa kawasan lain Indonesia, seperti halnya Riau, Makassar dan Irian
untuk saat ini. Dan bukan tidak mungkin kawasan lain akan mengamati dengan
seksama model solusi yang akan diterapkan di Aceh.
Bukankah kalau 'sekedar' Brunei, bisa menjadi negara kaya raya, akan memicu
pula pemikiran saudara kita dikawasan Kalimantan lainnya?
Model solusi itulah yang sekarang sangat ditunggu, tidak cukup sekedar
parade pernyataan dalam waktu yang semakin menyempit ini.
Yap
>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Fri, 12 Nov 1999 03:42:54 +0700
>
>del
>Saya melihat bahwa tawaran referendum dari presiden HBB yang
>tidak meminta persetujuan MPR itu merupakan bagian dari strategi
>untuk menghantar HBB ke RI 1 disamping strategi Irama Suka
>Nusantara dan Strategi Jakarta (dukungan kelompok tertentu yang
>merepresentasi adanya eksistensi pendukung HBB). Sayang sekali,
>kalkulasi itu salah. Seandainya saja, harga yang harus dibayar
>oleh bangsa ini dengan kemunculan masalah baru itu diperhitungkan
>dalam what if analysis mereka maka saya percaya expected cost
>dari penawaran opsi itu pasti sangat besar sehingga mestinya opsi
>itu tidak akan ditawarkan pada saat itu bila kepentingan bangsa
>dan negara diperhitungkan.
>
>
>��
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!