Melihat santunnya para pemuka Aceh mengorganisir gerakan ini, dimana dengan
kerumunan lebih dari sejuta massa mereka bukan langsung berproklamasi ria,
tetapi masih dalam taraf menuntut referendum, kita pantas menaruh rasa
hormat yang tulus.
Dengan mempertimbangkan situasi yang ada dan upaya yang telah dilakukan tim
Jakarta, seberapa besar optimisme yang masih tersisa agar Aceh tetap dalam
kesatuan Republik?
Dapatkah opini merdeka yang sudah semakin mengental tetapi sangat santun ini
dirobah dengan opini tetap dalam kesatuan RI?
Yap
>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Gus Dur : Gorbachev atau Kohl?
>Date: Sat, 13 Nov 1999 06:57:46 +0700
>
>
>----- Original Message -----
>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>
> > Itulah mengapa saya masih mencari tahu mengapa pembenaran
>perlunya
> > referendum Aceh ini menggunakan referensi Timtim. Saya ingin
>melihat apakah
> > pembenaran ini tidak akan menjadikan Indonesia 'berantakan'
>seperti Uni
> > Sovyet dan Balkan?
> >
> Mungkin rakyat Aceh sudah tidak peduli lagi dengan apa yang
>namanya negara Indonesia itu berkaitan dengan pengalaman masa
>lalu. Jadi, yang lebih penting lagi adalah pemahaman yang sama
>mengenai akibat yang akan terjadi bila opsi referendum
>(baca:merdeka) itu dilaksanakan. Saya melihat bahwa ada
>pluralisasi disana. sebagai contoh, pendukung refrendum
>menyatakan tidak dibelakang HAM. Nah, kini saatnya para doktor
>politik dan sosiologi menunjukkan kemampuannya untuk memberi
>solusi dan bukan hanya berkomentar lewat media masa bak bintang
>sinetron.
>
> > Atau memang ada pembenaran mengapa referendum dengan opsi
>merdeka perlu
> > dilaksanakan di Aceh?
> >
> Ini yang refot untuk menjawab. Padahal, kalau kita melihat UU
>mengenai Aceh (dari milis federal).
>
> UU No 1/1945
> UU No 22/1948
> UU No 3/1950
> UU No 1/1957
> Penpres No 6/1959
> UU No 18/1965
> UU No 5/1974
> UU No 22/1999 (New Otonomi Penuh)
> UU No 25/1999 (New Pembagian Keuangan Pusat Daerah)
>
> pada dasarnya sudah membuat DIA (Daerah Istimewa Aceh)
>menjadi self managed. Hanya saja UU diluar 22 dan 25 itu belum
>bisa dilihat efektifitas pelaksanaannya oleh elit pemimpin formal
>dan informal rakyat Aceh berdasar pengalaman selama Soegarto dan
>Habibie, sedang UU 22 dan 25 itu belum sempat diimplementasikan
>karena tuntutan referendum itu. Di sisi yang lain, wakil rakyat
>Aceh yang masih bisa berunding meminta pemerintah pusat hanya
>boleh mengurusi masalah moneter dan ancaman dari luar. Jadi
>sebenarnya masih ada celah yang memungkinkan untuk ketemu.
>
> > Eskalasi suhu politik di Aceh harus dicermati sama intensifnya
>dengan
> > beberapa kawasan lain Indonesia, seperti halnya Riau, Makassar
>dan Irian
> > untuk saat ini. Dan bukan tidak mungkin kawasan lain akan
>mengamati dengan
> > seksama model solusi yang akan diterapkan di Aceh.
> > Bukankah kalau 'sekedar' Brunei, bisa menjadi negara kaya raya,
>akan memicu
> > pula pemikiran saudara kita dikawasan Kalimantan lainnya?
> >
> Beberapa teman dari Riau sudah mengatakan hal itu. Inilah
>Bung, salah satu biaya mahal yang harus dibayar oleh bangsa ini.
>Tumpes kelor model Orba dimana spirit and nation building bagi
>bangsa yang berangkat dari heterogenitas geografi, antropologi,
>dan religi itu dihilangkan karena dianggap berbau Soekarno.
>Padahal, itu adalah asumsi yang harus dipenuhi bagi kelestarian
>dan kesatuan NKRI.
>
> > Model solusi itulah yang sekarang sangat ditunggu, tidak cukup
>sekedar
> > parade pernyataan dalam waktu yang semakin menyempit ini.
> >
> Benar sekali! Namun, ini terpulang kepada media masa dan
>editornya.
>
>
> ��
> >
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!