> WAM:
> Tidak ada mahasiswa yang mau disebut sebagai _calon
> orang bego_.
> Mereka akan senang disebut _calon intelektual_. Dan
> saya tahu Martin
> adalah mahasiswa. Jadi, syah-syah saja saya menyebut
> Martin sebagai calon
> ientelektual. Apa salahnya dia jadi politisi? Tidak
> ada yang salah. Tapi,
> seorang politisi bukanlah orang yang pantas disebut
> _intelektual_, apalagi
> orang yang jujur. From time to time, politisi adalah
> penipu. Tidak peduli
> pada partai mana politisi itu bergabung.
Dengan menafikan seseorang sebagai bukan intelektual
tapi politisi, cepat-cepat otak saya menyimpulkan,
bahwa lawan dari intelektual adalah politisi.
Ternyata, lawan dari intelektual adalah bego. Jadi
tambah mumet saya ngikuti posting orang ini.
> WAM:
> Yak.
> Bagus, kalau anda sudah mau mengakui hal itu.
> Selama ini tidak pernah ada orang, apalagi orang
> PDI-P, yang mau mengakui
> bahwa itu adalah rekaan PDI-P. Catat ya, dalam
> diskusi di milis ini saya
> akan memakai kata2 anda, bahwa PDI-P yang memberi
> kriteria!
Wong aku cuma bilang, biarkan saja orang bikin
kriteria sendiri-sendiri. Kalau ngolok-olok, ya jangan
ikut-ikut. Tapi kalau mau ikut-ikut bikin kriteria, ya
jangan ngolok-ngolok. Itu saja maksud saya. Ndak ada
hubungannya dengan aku ini PDI Perjuangan atau tidak.
Seperti aku juga nggak terlalu mikir PDI Perjuangan
dijuluki partai preman. Ngapin repot-repot mbela PDI
Perjuangan, wong aku ini bukan anggota partai
tersebut. Nyoblos, sih, iya...
>
> Dan jika begitu masalahnya, tidak jadi persoalan
> juga bukan, kalau ada
> orang yang kemudian mengatakan PDI-P partai preman?
> Toh tidak ada kriteria
> yang obyektif. Semaunya orang lah untuk mencap suatu
> partai/kelompok itu
> masuk mana.
Ndak masyaalaahhhh.....
(sambil gaya lek-secolek-omo...)
>
> Tepat sekali dugaan saya, bahwa politisi bukan lah
> orang/kelompok yang
> bisa disebut intelek. Mereka omong atau berbuat
> dengan kriteria mereka
> sendiri.
Apa hipotesis yang dilakukan oleh seorang peneliti itu
bukan bermula dari kriteria buatannya sendiri? Lalu,
bagaimana dengan sejumlah dalil yang diberi nama
penemunya? Mereka memakai kriterianya sendiri dan
bukan intelek? Boleh dong aku istigfar...?
>A palagi untuk disebut sebagai kelompok yang
> jujur. Anda sendiri
> sudah menjawab, ya semau PDI-P lah. Sungguh, anda
> memperkuat pandangan
> saya bahwa politisi adalah kelompok masyarakat yang
> perlu dimaki-maki
> karena mereka bukan orang jujur.
Ya, ada 700 politisi di MPR. Dan kita hidup berdasar
GBHN produk mereka. Jadi, negeri ini benar-benar
produk orang-orang tidak jujur. Jika benar begitu,
istigfar lagi dong aku...
> WAM:
> Tidak, saya bukan tidak suka sama organisasinya.
> Saya tidak pernah usul
> agar PDI-P dibubarkan. Saya hanya tidak suka pada
> ketidakjujuran tindakan
> personilnya.
>
> Terlalu berlebihankah buat anda?
Maaf, kalau situ bukan Orde Baru. Biasanya orang Orde
Baru itu suka ngengkel, srekalan, dan ganti-ganti
sasaran diskusi. Ngawur pol, pendeknya...
> WAM:
> Dari semula saya menanyakan, apa sih kriterianya
> agar seseorang/kelompok
> itu disebut _Putih_? Kini semuanya sudah jelas. Anda
> sudah menjawab, PDI-P
> lah yang memberi kriteria. Dan, kata anda, terserah
> PDI-P juga lah untuk
> menentukan siapa yang _putih_ siapa yang hitam.
> Bagus. Semua menjadi lebih
> jelas. Seperti tebakan saya. Kalau tidak searah
> dengan PDI-P, ya bukan
> _Putih_. Jadi, tidak ada kriteria obyektifnya.
Hanya karena situ ndak paham, lalu bilang orang lain
ndak obyektif? Kalau mau sedikit tenang, dan tidak
terlalu 'intelek', gampang kok memahami kriteria
hitam-putih, baik Golkar atau PAN itu. Tapi kalau cara
menanggapi model kebelet-be'ol begini, ya rada pusing
orang lain membacanya..
> Seperti dugaan saya, apa
> sih kriteria _money politic_? Kok saya nggak pernah
> dengar kriteria
> obyektifnya. Yang saya tangkap, sesuatu itu baru
> menjadi _money politic_
> kalau pelakunya adalah Golkar. Sementara jika
> pelakunya bukan Golkar
> menjadi syah-syah saja. Ini kan melecehkan
> intelektual. Tidak perlu
> menjadi simpatisan Golkar untuk bisa berfikir
> obyektif.
Nambah menu, nih ?
> WAM:
> Kenapa anda repot2 jadi jubirnya Martin?
> Martin sendiri tenang2 belum menjawab posting saya
> kok.
> Saya nanya Martin, apa sih kriteria PAN Putih itu?
> Dia belum njawab. Kok anda kebakaran jenggot
> sendiri.
> Terserah anda lah mau memilah saya kemana.
> Yang jelas, anda selain ketahuan pro PDI-P juga
> ketahuan tidak bisa
> memakai rasio. (Pro-PDI-P sih syah saja, tapi, tidak
> bisa menggunakan
> rasio? Kayak politisi saja).
>
> > Gitu saja kok repot..... (niru-niru)
>
> WAM:
> Nggak tuh, saya nggak repot.
> Anda saja yang ganjen. Tunggu komentarnya Martin,
> baru anda nulis.
>
Anda curang. Mestinya kalimat 'Martin dulu baru situ'
ditaruh di bagian atas dari posting. Bahkan ditambah
dengan klausul 'khusus untuk Martin'.
Gini ini kan aku jadi malu. Udah nulis banyak,
ternyata cuma 'ganjen' saja.
Tapi bener, kok, aku nulis di milis ini selain buat
situ, juga menyediakan kesempatan kepada orang lain
untuk ambil bagian. Udah lama 'kuli-tinta' ini sepi.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Thousands of Stores. Millions of Products. All in one place.
Yahoo! Shopping: http://shopping.yahoo.com
-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!