WAM:
Mirip yang terjadi di Kupang tahun lalu. Setelah acara di gereja,
mesjid
mesjid dibakari. Marilah kita nilai dengan standar yang sama. Jika
yang
terjadi di Mataram boleh disebut gendeng, begitu juga yang di Kupang.
Atau, jika kita mau membenarkan kejadian di Kupang, mari kita benarkan
pula kejadian di Mataram. Pilih mana?
*Tidak ada maksud saya memperbandingkan apalagi membuka masalah
lama. Yang jelas ada sesuatu yang aneh dalam kasus-kasus itu. Dan yang
jauh lebih aneh adalah kejadian di Maluku.
Di Kupang yang waktu itu diduga merupakan akibat lanjut dari peristiwa
Ketapang, Jakarta, jelas komposisi penduduk njomplang antara yang
islam (minoritas) dan kristen (mayoritas). Sesuatu (walaupun pahit dan
memualkan) ada logika yang yang dapat dibenarkan. Sementara
itu di Maluku Utara, maaf pengetahuan sejarah dan demografi saya
masih jauh di bawah setandar, hanya berdasarkan data BPS tahun
1995, setelah ikut survey kerawanan pangan untuk daerah Maluku,
penduduk muslim amat sangat mayoritas. Ini yang selama ini mengganggu
pikiran dan logika peperangan (kalau ada lho ya?) yang saya punyai.
Berani amat pasukan merah (istilah di Republika) mengusik kawanan
lebah hijau?
Dan dengung lebah itu mulai menggema ke mana-mana. Termasuk
yang di "njaban rangkah". Olehnya itu dengan pandangan yang
seimbangpun
tetap tidak bisa dipilih dan dibenarkan......
mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
langganan: [EMAIL PROTECTED];
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!