Salam sejahtera juga bagi Anda, mBah Soeloyo (semoga ini nama Anda
sebenarnya),
Terima kasih atas klarifikasinya. Spt Anda kutipkan lagi, sudah jelas bahwa
isi berita itu sendiri memang tidak menyebut kerusuhan sbg hasil tabligh
akbar, tapi *usai* tabligh akbar. Point saya, Anda memang sudah 'terbawa',
bukan oleh isi berita, tapi oleh presumsi tertentu.
Ini bukan usaha utk menjustifikasi peristiwa kerusuhan. Bagaimana pun,
setiap kerusuhan - di mana ada orang tak bersalah menjadi korban - tidak
bisa dibenarkan. Saya juga mengecam para pelaku kerusuhan yg tidak bisa
mengendalikan amarah dan dendam, tidak peduli dia beragama Islam atau tidak.
Qisas (hukum bunuh balas bunuh) dlm Islam, hanya berlaku bagi individu yg
sungguh2 bersalah melakukan pembunuhan (apa pun agama yg dianutnya), setelah
melalui pengadilan dan saksi2, itu pun dgn catatan bahwa 'memberi maaf itu
jauh lebih baik.'
Anda menyebut ttg tokoh2 (agama) yg menggunakan agama sbg alat politik.
OK-lah, saya juga tidak pernah setuju dgn cara2 spt itu. Tapi utk
interpretasi Anda bahwa AR menggerakkan sejuta umat dlm tabligh akbar
sebagai cara utk mendongkel Gus Dur, atau sbg pemicu kerusuhan lebih besar,
atau sbg bukti bahwa AR partisan, saya menentang itu. Kita bisa berpanjang
lebar berdebat soal ini dan saya yakin, tdk akan pernah bertemu pendapat,
karena ini masalah interpretasi yg rumit, kompleks, multidimensi.
Point saya, janganlah memulai suatu 'blame game' antar umat pemeluk agama.
Inilah yg terasa ketika membaca posting mBah (saya kutipkan lagi):
[membaca berita suaramerdeka (koran kebanggaan lho) rasanya tak ada lagi
penilaian, komentar atau analisis apapun atas kejadian kerusuhan di MATARAM
(pulau lombok) ini. suatu pulau NTB yang mayoritas penduduknya Islam.
melihat konotasi kejadiannya yang setelah tabligh akbar, dapatlah anda
simpulkan sendiri. massa memakar dan merusak rumah ibadah suatu agama (tanpa
disebutpun sudah tahu, karena dihubungkan dengan MALUKU UTARA). bagaimana
ini, setelah TABLIGH AKBAR malah MEMBAKAR?]
Janganlah Anda (apa pun agama Anda) memojokkan kaum muslim, spt halnya
janganlah kaum nasrani dipojokkan. Saling memojokkan tidak akan
menyelesaikan masalah, hanya akan memperburuk keadaan. Juga terutama karena
saya tidak percaya bahwa benar2 seorang Islam yg membunuh, atau benar2
seorang Nasrani yg membunuh.
Point saya memang benar2 'terisolasi' khusus utk *cara penyampaian* Anda yg
saya nilai kelewatan. Anda, Mas Edi, Mas Aswat, atau yg lainnya silakan
menilai bahwa ini bukan substansi masalahnya, tapi saya sungguh percaya
bahwa justru inilah substansi yg paling relevan buat kita penghuni milis:
don't start a blame game among those religions. Termasuk dlm 'blame game'
ini adalah mencela AR (sbg tokoh Islam), karena kaum muslim tidak akan rela
tokohnya dicerca, spt halnya kaum nasrani akan sangat keberatan kalau Uskup
Belo atau Romo Mangun (sbg tokoh Kristen) dicerca.
(Ngomong2 soal kaum muslim yg tidak rela tokohnya dicerca, mungkin Anda
adalah salah satu perkecualian. "Wong saya sendiri mengaku beragama Islam".
Tapi mengapa perlu ada kata 'mengaku' di situ? Kata 'mengaku' di situ koq
terasa mengganggu yah.)
Terakhir, harus saya akui bahwa saya juga mungkin kelewatan. Hari2 ini saya
merasa tdk enak hati dgn penilaian bahwa Anda menghina Islam. Harus saya
akui, hanya Tuhan yg tahu apa niat Anda sesungguhnya, bahwa ada kemungkinan
penilaian saya salah. Untuk ini, saya mohon maaf.
Peace,
Ferli
-----Original Message-----
From: mBah Soeloyo [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, January 18, 2000 8:55 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] HASIL TABLIGH AKBAR?
salam sejahtera Bung Ferli,
terimakasih atas penilaian posting saya pagi tadi dengan judul yang ternyata
menghasilkan interpretasi yang berlawanan dengan maksud awal pemilihan
judul. saya memilih judul begitu karena terbawa oleh isi berita yang memang
berkonotasi demikian:
[Peristiwa pembakaran tersebut terjadi ketika ribuan orang usai "tabligh
akbar" di lapangan umum Mataram yang dihadiri oleh sejumlah pimpinan pondok
pesantren terkenal di Lombok. Tabligh akbar tersebut dimaksudkan sebagai
solidaritas umat muslim NTB untuk saudara-saudara Islam di Maluku.]
Bukankah komplikasi psikologis yang Bung Ferli ungkapkan itu telah
menggerakkan muslimin Mataram mengadakan Tabligh Akbar? Jadi, mohon maaf
dengan cara berpikir primitif dan bodhon saya.
Yang sangat saya sayangkan sebenarnya, bahwa pemberitaannya pun demikian
caranya sehingga orang akan gampang sekali berassosiasi, bahwa dalam acara
TABLIGH AKBAR itu terjadi sesuatu "penyampaian" yang mengakibatkan massa
membakar rumah ibadah. Makanya saya mencoba melemparkannya ke milist tempat
ngeposnya KULI-TINTA. makanya di pawah posting, saya harapkan pembacanya
membuka pula berita termaksud. dengan sedikit harapan, saya bisa menangkap
"apakah ada peran kuli-tinta
dalam memperluas dan memperparah keadaan?" (maaf untuk rekan wartawan)
Bung Ferli,
sama sekali saya tidak bermaksud menyerang metode dakwah apalagi menyerang
agama islam, wong saya sendiri mengaku beragama islam! justru saya merasa
galau, sedih dan kebingungan dengan pemimpin-2
agama yang saya anut akhir-akhir ini, yang dengan mudah mengerahkan massa
dengan berkuduh agama. banyak pemimpin itu membuat agama sebagai komoditas
politik yang kentara sekali arah tujuan mereka.
Hanya sedikit pemimpin yang akhir-akhir ini memikirkan AGAMANYA bukan
sebatas ummatnya saja. Artinya memikirkan masa depan agama yang mereka
bawa-bawa itu. Salah satu contohnya ada di bagian
bawah berita itu, yaitu Cak Nur dengan pernyataan:
[Sementara Cendekiawan Prof Dr Nurcholish Madjid mengatakan meluasnya
kerusuhan bernuansa agama, seperti terjadi di Mataram, akan menghancurkan
kredibilitas Indonesia di dunia internasional.
"Implikasi kerusuhan itu akan dapat mengganggu dan menghancurkan apa yang
tengah dibina Presiden Gus Dur yang dengan susah payah menciptakan
kredibilitas internasional," katanya, menanggapi kerusuhan Mataram di sela
"halal bi halal" Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) di Jakarta, Senin
malam. Padahal, menurut Cak Nur, lawatan Gus Dur ke beberapa negara dalam
waktu terakhir merupakan upaya untuk membangun kredibilitas Indonesia di
mata dunia internasional agar mendorong investasi ke Indonesia.]
Potongan berita itupun mempengaruhi pemilihan subjeck di atas. Ditambah
dengan berita hari sebelumnya yang menyitir pernyataan Amien Rais di acara
halal bil halal UNMUH SURABAYA (kalau tak salah) yang isinya "di sekeliling
presiden banyak Abu Jahal, Abu Lahab dan Abu Sofyan". Apakah yang begini ini
pantas dikemukakan di acara saling bermaafan? Apalagi keluar dari salah
seorang pemimpin bangsa.
(kalau saya berfikir bodhon lagi, maka keluar ungkapan, bahwa di dekat para
Abu itu masih banyak musuh-musuhnya yang berlawanan yang juga dekat dengan
presiden)
Sekali lagi mohon maaf dan terimakasih,
salam,
mBah Soeloyo
----- Original Message -----
From: Ferli Iskandar <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, January 18, 2000 8:38 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] HASIL TABLIGH AKBAR?
Mbah Soeloyo,
Terus terang, insinuasi Anda sangat menyakitkan bagi saya sebagai seorang
muslim. Dengan menyebut 'Hasil Tabligh Akbar' (meski ini 'hanya' pertanyaan)
Anda sedang menyerang salah satu metoda dakwah Islam. Lepas dari kontroversi
benar atau salah (secara faktual) pernyataan tidak langsung itu, yg Anda
lakukan adalah penghinaan terhadap agama, dan bagaimana pun tindakan seperti
ini tidak dapat dibenarkan. Saya tidak melihat apa kontribusi dari
pernyataan Anda bagi perbaikan keadaan yg sudah genting antar umat beragama
ini.
Lebih jauh dari 'sekedar' masalah insinuasi berbau penghinaan, dari sudut
logika dasar, insinuasi ini adalah contoh kesalahan berpikir 'Bila
sesudahnya, maka karenanya.' Hanya karena kejadian A mendahului kejadian B,
maka dg gampang Anda menyimpulkan bahwa A adalah penyebab terjadinya B.
Kesalahan berpikir spt ini biasanya dilakukan anak kecil atau masyarakat
primitif, misalnya ketika setelah gerhana terjadi gempa bumi, maka mereka
simpulkan bahwa gerhana itulah penyebab gempa bumi.
Dalam kasus ini, Anda mengabaikan komplikasi psikologi massa yg sudah
menggumpal jauh hari sebelumnya. Dgn berita2 dan tanggapan2 yg cenderung
meremehkan pembantaian di Maluku, rasa keadilan kaum muslim benar2 memang
sungguh sedang terinjak-injak, sumpek, gampang meledak. Bila situasi
psikologis massa sudah seperti ini, tidak perlu ada tabligh akbar, kejadian
kecil seperti pertengkaran antar tetangga (berbeda agama) pun (misalnya)
bisa memicu kerusuhan seperti itu.
Ringkasnya, mestinya lebih adil untuk mengatakan 'Kerusuhan itu disebabkan
oleh komplikasi psikologi massa berkaitan dengan pembantaian di Maluku dan
rasa solidaritas antar sesama ummat yang salah sasaran.'
Anda sudah cukup dewasa dan terdidik untuk tidak melakukan oversimplifikasi.
Mestinya.
Salam,
Ferli
-----Original Message-----
From: mBah Soeloyo [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, January 18, 2000 6:12 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] HASIL TABLIGH AKBAR?
membaca berita suaramerdeka (koran kebanggaan lho)
rasanya tak ada lagi penilaian, komentar atau analisis apapun
atas kejadian kerusuhan di MATARAM (pulau lombok) ini.
suatu pulau NTB yang mayoritas penduduknya Islam.
melihat konotasi kejadiannya yang setelah tabligh akbar,
dapatlah anda simpulkan sendiri. massa memakar dan merusak
rumah ibadah suatu agama (tanpa disebutpun sudah tahu,
karena dihubungkan dengan MALUKU UTARA).
bagaimana ini, setelah TABLIGH AKBAR malah MEMBAKAR?
bukalah di:
http://www.suaramerdeka.com/harian/0001/18/nas13.htm
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!