Hehe, jadi ramai soal bahasa & interpretasi ...
(Sorry, belum sempet balesin yg laen2, lagi seebook; tunggu aja yah).

Gini. Jangan remehin soal interpretasi/bahasa. It's more powerful than you
might think.
Realitas sosial adalah hasil pemilihan kosa kata dan interpretasi.

Contoh: penggunaan metafor 'sampah masyarakat' untuk menggambarkan mereka yg
terpinggirkan (secara sosial, politik, ekonomi, pendidikan, moral), bisa
memicu sebuah interpretasi kolektif bahwa orang2 itu 'disposable' bahkan
wajib dibasmi (saya kira inilah penggerak utama bawah sadar Soeharto atau
siapa pun yg menggerakkan fenomena penembak misterius awal 80-an lalu).

Hegemoni bahasa juga berperan dlm Orde Baru untuk memenjarakan ide2
alternatif. Ingat betapa susahnya menemukan demokrasi dalam penjara istilah
"Demokrasi Pancasila"?

Dah. Gitu dulu.

Salam,
Ferli

-----Original Message-----
From: Edi Purwono [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Wednesday, January 26, 2000 6:35 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] Ribut bahasa


Mbah,

Bukan sampeyan tah sing bikin ribut. Wong posting
mbandingin 'bakat' sama 'talenta' saja, kok direspon.
Mbok ya digujeng saja. Mbok ya dilihat, yang ngirim
postingan yang mbah nilai ngributin remeh-temeh itu
siapa. Itu kan lageyan beliau.

Salam

(Untung aku nggak ngomentari)

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke