Sebenarnya konflik Maluku (dan juga beberapa daerah di Indonesia) ini jelas-jelas 
bukan 
masalah SARA. Alasannya, karena dari fakta sejarah telah membuktikan bahwa selama ini 
mereka dapat hidup berdampingan dengan baik. Tetapi konflik tersebut serta merta 
muncul dimana-mana seiring dengan tumbangnya orde baru tumbang (maaf buat yang pro 
orde baru) serta merta konflik bernuansa SARA itu muncul dimana-mana.
Lalu kita lihat siapa sebenarnya yang akan diuntungkan dengan adanya konflik ini?
1. Orang kristenkah? atau orang islam kah? degan membunuhi umat yang lain mereka dapat 
menguasai wilayah/ negara? atau ada keuntungan lain?
2. Orang-orang pro orde baru yang dengan berlarut-larutnya konflik ini maka negara 
akan 
berantakan sehingga beberapa hal (korupsi, masalah pengadilan HAM, dll.) tidak bisa 
diusut, 
ataupun tidak menginginkan pemerintahan pasca orde baru yang berhasil?, atau
3. Para pengusaha koran/majalah yang pingin agar omzetnya tinggi?

Rasanya jawaban no 2 yang paling pas. Untuk lebih jelasnya saya copykan pernyataan pak 
Menag dibawah ini.
 
Salam,


-------------

AGAMA BUKAN AKAR KONFLIK

        MATARAM, (SiaR, 26/1/2000). Tak satu pun agama mengajarkan umatnya 
untuk melakukan pertumpahan darah. Akan tetapi agama selalu dijadikan 
salah satu dimensi konflik. Demikian dikemukakan Menteri Agama Tolchah 
Hasan di STAIN Mataram, Selasa (25/1) kemarin. Tolchan mengatakan sikap 
permusuhan mulai dikembangkan dengan persepsi antarumat lain agama. 
Misalnya jika umat Islam melawan Kristen menganggap dirinya sedang 
melakukan perang Sabil. 

        Jika kalah, maka akan mati syahid. Di lingkungan umat Kristen pun 
dikembangkan persepsi serupa sehingga permusuhan meruncing. "Kenapa kita 
tidak menciptakan sikap perdamaian," ujarnya. Menag mengatakan orang tak 
lagi saling bunuh antarumat beragama, bahkan antar mereka yang seagama. 
Dicontohkan masyarakat Timtim yang main bunuh di antara mereka, pun 
membakar tempat peribadatannya sendiri. Demikian halnya di Aceh. Sementara 
di Ambon Islam dan Kristen sulit dipertemukan. Namun itu bukan persoalan 
teologinya. Di Bali misalnya, Hindu mayoritas, namun hidupnya damai. 
Begitu halnya di NTB, Islam mayoritas namun damai. Hal serupa ada di NTT. 

        "Agama tidak bisa disebut akar konflik. Namun pasti ada sesuatu di 
belakang itu yang bukan karena faktor agama," cetus Tolchan Hasan. Ia 
mensitir deklarasi yang dimotori pemuda di Ambon yang menyebutkan bahwa 
kerusuhan di Ambon akibat konspirasi politik di mana agama menjadi alat 
dan rakyat dijadikan korban. Menag sekaligus mempertanyakan kenapa terjadi 
fenomena kekerasan yang menggunakan simbol agama. 

        Menurut Menag, perubahan perilaku masyarakat disebabkan munculnya 
trend global dalam kehidupan berbangsa seperti demokratisasi, HAM dan 
lingkungan hidup. Sebuah negara memberikan bantuan kepada negara lain 
tidak lepas dari pertanyaan sejauh mana negara bersangkutan melakukan 
demokratisasi. 

        Di Indonesia demokrasi secara eksplosif meledak dalam berbagai 
bentuk aksi unjuk rasa. Arus demokrasi tersebut sangat sulit dibendung. 
Karena itu ia mengingatkan kalangan dosen dalam hubungannya dengan 
mahasiswa tidak lagi menggunakan paradigma normatif, melainkan mengarah 
pada paradigma dialogis. *** 

---------- 
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html 

Get your Free E-mail at http://wheelweb.zzn.com
___________________________________________________________
Get your own Web-Based E-mail Service at http://www.zzn.com

-===  FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3  ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke