On Fri, 28 Jan 2000, Harrist _ wrote:
> Sebenarnya konflik Maluku (dan juga beberapa daerah di Indonesia) ini jelas-jelas
> bukan masalah SARA. Alasannya, karena dari fakta sejarah telah membuktikan
> bahwa selama ini mereka dapat hidup berdampingan dengan baik. Tetapi
> konflik tersebut serta merta muncul dimana-mana seiring dengan tumbangnya
> orde baru tumbang (maaf buat yang pro orde baru) serta merta konflik
> bernuansa SARA itu muncul dimana-mana.
WAM:
Terserah, anda mau mendakwa saya pro Orba atau enggak.
Yang jelas, saya hanya ingin menunjukkan keanehan sinyalemen anda.
Jika konflik serta merta pecah setelah Orba tumbang, kok serta merta anda
menuduh Orba sebagai biangnya? Kenapa anda tidak mengatakan: tuh lihat,
begitu Orba nggak ada, semua ribut. Artinya, bisa saja Orba malah menjadi
sesuatu yang sebetulnya bagus, kan? Jika kita tidak terlebih dulu
tendensius, Orba bisa saja dalam posisi yang baik atau buruk. Tidak serta
merta ditempatkan dalam posisi buruk.
Sebagai analogi, apakah polisi lalu lintas serta merta dapat disalahkan
kalau terjadi pelanggaran di jalan yang kebetulan tidak dijaga? Padahal,
ketika dijaga, pelanggaran tidak pernah terjadi. Kenapa tidak si pelanggar
sendiri yang disalahkan?
Tapi, berfikir tendensius kan tidak dilarang.
Saya sih percaya, masalahnya bukan di Orde Baru atau bukan. Andai tentara
sekarang diberi wewenang seperti dulu, tembak para perusuh, pasti
kerusuhan tidak akan muncul sesering sekarang. Di Maluku, perusuh seperti
diberi hati.
> Lalu kita lihat siapa sebenarnya yang akan diuntungkan dengan adanya konflik ini?
> 1. Orang kristenkah? atau orang islam kah? degan membunuhi umat yang lain mereka
>dapat
> menguasai wilayah/ negara? atau ada keuntungan lain?
WAM:
Kalau orang Kristen yang berhasil membasmi orang Islam di Maluku, jelas
orang Kristen yang diuntungkan di Maluku. Dan sebaliknya. Kita tidak
bicara dalam skope nasional. Karena yang terjadi bukan konflik skala
nasional.
> 2. Orang-orang pro orde baru yang dengan berlarut-larutnya konflik ini
> maka negara akan berantakan sehingga beberapa hal (korupsi, masalah
> pengadilan HAM, dll.) tidak bisa diusut, ataupun tidak menginginkan
> pemerintahan pasca orde baru yang berhasil?, atau
WAM:
Orang-orang Orba, seperti definisi anda, bisa jadi beruntung. Tapi, apakah
cuma mereka? Bagaimana dengan orang2 non Orba? Lagipula, kalau memang
bukan mereka yang menciptakan kerusuhan itu, ya apa salahnya? Lihat juga
jawaban no. 3 saya.
> 3. Para pengusaha koran/majalah yang pingin agar omzetnya tinggi?
WAM:
Kalau mereka untung karena masalah Maluku, so what?
Memangnya mereka yang membuat rusuh?
> Rasanya jawaban no 2 yang paling pas. Untuk lebih jelasnya saya copykan pernyataan
>pak
> Menag dibawah ini.
WAM:
Terserah saja lah.
Kalau menurut saya sih, semua jawaban akan pas kalau dibikin pas.
Kalau Menag (yang kebetulan beragama Islam) mengatakan agama bukan akar
konflik, suruh saja dia datang ke Maluku, menyatu ke kelompok Kristen, dan
berteriak lah sebagai orang Islam. Kalau dia nggak disabet golok, baru
saya percaya pada omongannya.
> Salam,
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!