On Fri, 28 Jan 2000 [EMAIL PROTECTED] wrote:
> Ikut nimbrung ya ...
> Soal teriak-teriak Maluku, ada 2 pendapat yang sepertinya benar dan
> menyejukkan suasana :
> 1> "Jangan membuat keruh suasana dalam masyarakat, buatlah berita yang
> menyejukkan."
> So: Beritanya harus dikecil-kecilkan sehingga bagi banyak orang terkesan
> tidak ada apa-apa.
WAM:
Dan ini telah dikembangkan oleh Gus Dur.
Korban Maluku Utara cuma lima katanya.
Gus Dur sih nggak akan tahu beda lima dan limaratus.
Tergantung yang kasih bisikan saja.
Saya sih usul saja, kalau yang begini ini mau dikembangkan, mari kita
bikin konvensi: kalau yang mati dibawah limaribu, kita bilang korbannnya
lima. Di bawah itu, kita bilang saja nggak ada korban. Korban luka atau
harta benda, kita bilang saja nggak ada. Dus, peristiwa Doulos tidak
pernah ada.
> Ya, mungkin saja lalu suasana di luar Maluku tetap tenang dan damai (bagi
> yang belum tahu).
> Sementara di Maluku sendiri, pihak yang tertindas makin habis karena tak ada
> bantuan dan dukungan dari luar (minimal dukungan moril). Pihak yang menindas
> makin leluasa melakukan praktek penindasannya. Pada akhirnya mungkin salah
> satu pihak akan habis dan saat itulah bisa tercipta perdamaian (karena sudah
> tidak ada yang akan diperangi).
WAM:
Makanya saya selalu bilang pada mereka yang mengajak untuk membuat berita
yang menyejukkan: adakah saudara anda yang mati dibunuh di Maluku? Jika
tidak, tidak usahlah mengajari untuk membuat berita menyejukkan. Kalau
memang yang mati seratus, kenapa mesti memperkecil jumlah itu? Memperbesar
jumlah korban memang salah. Begitu juga mengecil-kecilkan korban.
> 2> "Biarkan persoalan Maluku diselesaikan oleh mereka sendiri, pihak luar
> tidak usah ikut campur"
> Jadi biarkan sajalah, kalau mereka mau damai bagus lah. Tapi kalau ternyata
> malah ditafsirkan salah-satu/kedua pihak (terutama pihak yang menindas)
> bahwa itu berarti kesempatan untuk menghabisi pihak lawan sampai ke
> akar-akarnya ? Tanpa ada halangan dari pihak luar (kan masalah internal) ?
WAM:
Benar.
Kenapa kalau yang jadi korban orang Nasrani, pemerintah seperti
tergopoh-gopoh?
Kalau memang semuanya akan diserahkan ke masyarakat, kenapa kemarin di
Mataram tidak dibiarkan saja? Biar saja ada rumah dibakari atau orang
dibunuhi. Nanti toh masyarakat akan capai dan menyelesaikan sendiri.
Marilah kita berfikir dengan memakai tolok ukur yang sama.
> So, menurut Bung Icoes (dan bung-bung yang lain) teriak-teriak yang benar
> itu yang bagaimana ya ?
WAM:
Yang benar menurut versi mereka ya biarkan saja orang dibunuhi. Kalau yang
akan dibunuh habis kan berhenti sendiri.
> Salam
> AriefD
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!