--- Yap <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> ----- Original Message -----
> che:
> > Selain itu banyak sekali hak-hak Presiden (mengangkat mentri,
> memberi
> > gelar, memberi amnesti, dll) yang harus dikonsultasikan dengan
> dewan
> > dahulu.
> 
> yap:
> Ini lebih baik daripada diserahkan pada tim ad hoc sehingga bisa
> diplintir
> sesuka hati.
> Presiden mestinya memang 'cuma' excecutor dari konsep siap pakai
> yang
> disajikan MPR dan DPR. Bahkan fungsi Bappenas sebagai bagian
> Pemerintah juga
> aneh. Mestinya dia independent kaya BI, MA dan sebagainya.
> Perangkapan
> fungsi perencanaan dan pelaksanaan adalah vertical integration yang
> sangat
> berpotensi frauds.

Anda ini guyon he-he... Yang saya sebutkan contohnya khan hal yang
sepele, mengangkat mentri, memberi gelaran kok musti dikonsultasikan
dengan DPR/MPR dahulu. Nanti terjadi lagi mentri diteror atasannya
sendiri. Yang saya heran hal-hal yang mendasar seperti LOI dengan
IMF, DPR atau MPR tidak berkoar-koar, padahal semuanya itu menyangkut
hidup orang banyak yang 'memberikan kedaulatannya' kepada anggota
parlemen itu. Kenaikan BBM dan listrik itu, tidak ada usaha yang
serius dari DPR untuk memperjuangkan nasib orang yang diwakilinya

> 
> yap:
> Kalau mau jadi Presiden yang dapatkan dulu pengaruh 75% suara MPR
> untuk
> merubah klausul itu. Bisa instant kok. Belum lagi sejuta cara
> lainnya,
> seperti supersemar misalnya. Hemat Energi.

Termasuk RUU Kepresidenan ini ?

> BTW, ngapain juga repot repot jadi Presiden, gajinya aja lebih
> kecil dari
> Ketua BPPN. Untuk standard dunia, penghasilannya juga nggak satu
> persennya
> Lee Iacocca, Bill Gate atau meteor lainnya.
> Jadi Presiden itu enak kalau sudah matang kejiwaan dan kaya raya,
> sehingga
> bisa sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan bangsa.
> Selama masih
> ada keinginan main sirkus, ya jadi pelawak sajalah. Nggak semua
> harus jadi
> Presiden kan? Ada juga yang memilih jadi pesinden.

Meski gajinya kecil, masih banyak yang ingin lho. Jangan lupa pula
dengan gaji kecil itu juga bisa membuat orang sangat kaya menjadi
peminta-minta seperti pengemis. Meski gaji kecil gengsinya dong.... 

> 
> che:
> >Dalam RUU ini pimpinan Majelis punya banyak privilege. Dan bahkan
> bisa
> menggantikan kedudukan Presiden dan Wapres
> > bila keadaan memungkinkan.
> > Kesan yang mendalam dalam RUU Kepresidenan ini adanya usaha untuk
> > memanipulasi kedaulatan rakyat yang tercermin dalam pemilihan
> umum,
> > menjadi kedaulatan rakyat lewat perwakilan (MPR), kemudian
> > wakil-wakil itu menyerahkan kedaulatannya lagi kepada para
> pimpinan
> > MPR. Jelasnya rakyat-->wakil rakyat-->wakil-wakil rakyat (alias
> > pimpinan MPR). Lihat bab V dan terutama bab IX. Padahal MPR
> menurut
> > UUD 1945 tidak begitu. Atau beginikah model kudeta ala Jawa dan
> > Hitler halus dan meninabobokkan ?
> 
> yap:
> Tenang saja, kita masih berproses. Lebih berkonsentrasi
> meningkatkan
> kemampuan diri dan lingkungan, maka Insya Allah hanya yang
> terbaiklah yang
> terjadi disini. Selalu ada peluang untuk menjadi lebih baik.
> Berilah
> kontribusi ketika berada pada posisi dan waktu yang tepat.

Ini serius, guyon, nyindir, atau apa ?

> 
> yap:
> Nggak juga. Kita harus pandai bersyukur. Banyak kebaikan yang sudah
> terjadi.
> Kita berpeluang untuk menambahnya sekarang dan kelak.

Memang kita musti bersyukur (Ini untuk menghibur diri dan
mendinginkan hati, daripada terbakar emosi). Walaupun banyak sekali
kebaikan yang sudah terjadi tapi sering sekali kebaikan itu disabot
oleh para bangsawan negeri. Pemilu jujur disabot, pemerintahan ?
pemerintahan gado-gado, enggak jelas siapa atasan siapa bawahan. RUU
Kepresidenan yang menjungkirbalikkan teori yang sudah mapan selama
ini dlsb. Semuanya mengindikasikan uncertainty. Semua berubah (memang
hanya perubahan yang abadi), hanya sayang di Indonesia yang berubah
adalah sendi-sendi kehidupan, yakni etika dan moral, terutama
elitnya. Sedangkan di luar itu, malah tetap, dan sedikit berubah,
paling orang sekarang bebas mengritik. Pers bebas nulis, meski sering
menitikberatkan pada sensasinya. Hukum ? Belum ada kemajuan yang
berarti. Soeharto, bank bali,sofyan, texmaco, 26 Juli, Tanjung Priok,
aduh banyak bener. Ekonomi ? Silakan anda komentari.

Lama-lama saya jadi percaya omongan seorang diplomat karir RI yang
ketemu di Zurich dulu dan sekarang jadi orang no. 1 RI untuk Jepang
sana. Melihat krisis multi dimensi seperti itu, 10 tahun ini yang ada
adalah ketidakpastian. Keadaan darurat. Jaman Orba darurat militer
malu-malu, sekarang mah gawat darurat beneran.




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke