On Monday, 28 February 2000 che <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Anda ini guyon he-he... Yang saya sebutkan contohnya khan hal yang
> sepele, mengangkat mentri, memberi gelaran kok musti dikonsultasikan
> dengan DPR/MPR dahulu. Nanti terjadi lagi mentri diteror atasannya
> sendiri. Yang saya heran hal-hal yang mendasar seperti LOI dengan
> IMF, DPR atau MPR tidak berkoar-koar, padahal semuanya itu menyangkut
> hidup orang banyak yang 'memberikan kedaulatannya' kepada anggota
> parlemen itu. Kenaikan BBM dan listrik itu, tidak ada usaha yang
> serius dari DPR untuk memperjuangkan nasib orang yang diwakilinya

yap:
Itu salah satu traumatical effect yang berlebihan atas dampak negatip
'kekuasaan satu tangan' yang berkepanjangan, saya kira. Makanya GD
membiarkan saja begitu, sekalian memberi pendidikan politik bagi orang
banyak. Ya semacam gerakan back to zero-lah. Presiden melepaskan 'semua'
hak prerogative-nya, dan let's see what may take place afterward.
Perubahannya nggak sulit kan, kalau terbukti cara ini menghadirkan lebih
banyak tokoh srimulat, ya diganti saja lagi aturannya. Gitu saja kok repot.
Gejalanya sudah mulai timbul, persis seperti concern Anda atas back log
beberapa pointers LOI IMF. Kalau makin banyak, banyak pula yang gelisah,
akhirnya kan perlu revisi. That is the right time che, while people
benefiting the learning points. It takes time, che. The question is how long
and, whether we can afford it.
Makanya nggak ada pilihan lain bagi semua kecuali meningkatkan kemampuan
diri, sambil sekali sekali melongok apa yang dilakukan orang diatas sana.
Kalau bagus ya syukur, nggak ya syukur.

> > yap:
> > Kalau mau jadi Presiden yang dapatkan dulu pengaruh 75% suara MPR
> > untuk
> > merubah klausul itu. Bisa instant kok. Belum lagi sejuta cara
> > lainnya,
> > seperti supersemar misalnya. Hemat Energi.
>
> Termasuk RUU Kepresidenan ini ?

yap:
Nggak semengerikan itu. Enaknya hidup di Indonesia kan begini ini. Selalu
saja yang mengundang tawa, termasuk produk hukum dan tingkah laku pejabat.
Mereka kan manusia yang masih taraf belajar juga. Apa salahnya diberi
kesempatan berbuat salah.

che:
> Meski gajinya kecil, masih banyak yang ingin lho. Jangan lupa pula
> dengan gaji kecil itu juga bisa membuat orang sangat kaya menjadi
> peminta-minta seperti pengemis. Meski gaji kecil gengsinya dong....

yap:
Nah loo, bukan gue yang ngomong!!!

> > yap:
> > Tenang saja, kita masih berproses. Lebih berkonsentrasi
> > meningkatkan
> > kemampuan diri dan lingkungan, maka Insya Allah hanya yang
> > terbaiklah yang
> > terjadi disini. Selalu ada peluang untuk menjadi lebih baik.
> > Berilah
> > kontribusi ketika berada pada posisi dan waktu yang tepat.
che:
> Ini serius, guyon, nyindir, atau apa ?

yap:
lebih tepatnya emphaty kali yaaa

che:
> Memang kita musti bersyukur (Ini untuk menghibur diri dan
> mendinginkan hati, daripada terbakar emosi).

yap:
Ngapain juga musti emosi. Kita tolong saja diri sendiri dan lingkungan
terdekat. Yang lain 'prek' aja.
Emangnya dibulan ada cokelat?

che:
> Pemilu jujur disabot, pemerintahan ?
> pemerintahan gado-gado, enggak jelas siapa atasan siapa bawahan. RUU
> Kepresidenan yang menjungkirbalikkan teori yang sudah mapan selama
> ini dlsb. Semuanya mengindikasikan uncertainty.
yap:
It's uncertainty that me life better. Percaya nggak che, dalam kekalutan
sejak medio 1997, kelompok saya justru make money and kindness more. Pandai
pandai sajalah bersyukur. Hidup itu nggak sulit kok. The clue is how to
adapt to it.
Uncertainty sejak medio 97 juga merupakan peluang yang dikapitalisir oleh
banyak tokoh, yang tadinya cuma 'gelandangan jalanan' kini berkantor di
jabatan resmi publik. Terjadi pergantian pemain yang sangat dramatis. Nah,
ngapain juga mau jadi massa yang cuma terbawa arus jadi penggembira.
Mungkin saya dibilang kurang idealis, kurang nasionalis, atau kurang ajar,
tetapi saya ingin kita semua kembali keposisi normal sebagai manusia biasa.
Nggak perlu semua jadi politisi kan? Dan gelaran-gelaran pahlawan atau tokoh
 atau sebutan bombastis lainnya kan cuma sekedar motivational means supaya
makin banyak yang mau berperan sebagai massa tanpa memikir dirinya sendiri.

che:
>Semua berubah (memang
> hanya perubahan yang abadi), hanya sayang di Indonesia yang berubah
> adalah sendi-sendi kehidupan, yakni etika dan moral, terutama
> elitnya. Sedangkan di luar itu, malah tetap, dan sedikit berubah,
> paling orang sekarang bebas mengritik. Pers bebas nulis, meski sering
> menitikberatkan pada sensasinya. Hukum ? Belum ada kemajuan yang
> berarti. Soeharto, bank bali,sofyan, texmaco, 26 Juli, Tanjung Priok,
> aduh banyak bener. Ekonomi ? Silakan anda komentari.

yap:
Wah saya bukan komentator che, walaupun bisa. Mestinya Anda kontak dulu
manajer saya untuk meneken kontraknya sebelum saya ngomong. Tetapi untuk
kali ini compliment gratis lah.
Dari sisi ekonomi, perubahan yang signifikan sekarang ini adalah pergantian
pelaku dan moda. Kalau dulu ekonomi menghasilkan konglomerasi, sekarang
menghasilkan pemain individu, tanpa formalitas, tanpa kantor, tanpa
identitas kalau perlu. Kalau dulu bekerja diorganisasi remi (the
organization men) menjadi dambaan banyak orang, sekarang work from home
lebih menjanjikan more bundles of cash silently. Sekedar pembukanya begitu.
Elaborasinya dapat dilengkapi sendiri, atau rame rame. Hanya orang yang
tidak mau berubah paradigmanya yang merasa negara kita ini sedang dilanda
krisis. Sayangnya yang masuk kelompok ini pretty huge. Ya salah sendiri.
Wake up everybody, keep your chin up!!! Gitu saja kok repot.
Siapa bilang talk show presenter, wartawan, penasehat hukum, analis politik,
tokoh politik dsb terimbas krisis. Siapa bilang koruptor orba dan kroninya
terimbas krisis? Dan koruptor orba jumlahnya sangat banyak, terutama di
Jakarta. Mereka justru menikmati booming dan windfall. Makanya nggak heran
kalau Yusuf Kalla harus cepat cepat menutup pintu bagi import mobil diatas
4000 cc dengan penumpang dibawah 10. Tahu kan che, itu bisa Porsche,
Ferrari, Jaguar, Lotus and the like. Kalau nggak buruan disetop kita akan
beruntung menyaksikan ribuan icon dunia itu menerobos jalur utama Jakarta
disela mobil comberan yang menghasilkan emisi karbon menyesakkan seperti
banyak dimiliki kebanyakan warga kita.
che, besok pagi mentari akan terbit lagi, seperti hari lainnya. Dan hidup
keseharian bukan hanya milik kita, tetapi juga kewajiban kita. Berhentilah
gelisah, segera pastikan langkah, kemana kau mau. Bukan sekedar mikirin apa
kata mereka.

Cheers,
yap




- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke