--- Yap <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> yap:
> akhirnya kan perlu revisi. That is the right time che, while people
> benefiting the learning points. It takes time, che. The question is
> how long and, whether we can afford it. Makanya nggak ada pilihan
lain bagi semua kecuali meningkatkan kemampuan diri, sambil sekali
sekali melongok apa yang dilakukan orang diatas  sana.
> Kalau bagus ya syukur, nggak ya syukur.

Saya setuju dengan anda, masalahnya hal tersebut akan berlangsung
berapa lama ? dan masyarakat akan mampu tahan berapa lama ? Hal yang
bagus dari Gus Dur adalah dia menyerahkan segala-galanya pada
masyarakat, pemerintah hanya menfasilitasi saja. Disitu GD berharap
agar dalam masyarakat timbul kesadaran untuk berpadu mewujudkan
ketentraman bersama, berkarya bersama demi kebaikan bersama.
Masyarakat altruistik. 

Saya jadi teringat pada bukunya Francis Fukuyama 'Trust', yang
bercerita bagaimana keterpaduan (cohesive) dalam masyarakat itu
muncul. Ternyata Fukuyama menemukan jawabannya yakni Trust, rasa
percaya satu sama lain. Nah pada pemilu lalu masyarakat kita ternyata
telah membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan suatu pemilu yang
jujur. Tapi apa lacur usaha bersama tersebut ternyata disabot. Ini
bukan perkara Megawati. Tapi ini masalah trust. Serta etika dan
moral. Rasa saling percaya itu ternyata diciderai oleh ulah elit
politik kita. Kita lihat saja pada pemilu yad, apakah masyarakat
pesimis, atau optimis dengan pemilu itu. Kalau pesimis ya mereka
sudah tidak percaya lagi, pada elit kita.

> yap:
> Ngapain juga musti emosi. Kita tolong saja diri sendiri dan
> lingkungan
> terdekat. Yang lain 'prek' aja.
> Emangnya dibulan ada cokelat?

Sebenarnya sih kalau mikir diri sendiri itu enggak ada yang perlu
dikhawatirkan. Saya hidup enak, enggak kurang apa. Kalau pulang masih
ada usaha ortu yang musti diteruskan, tapi saya ogah-ogahan. Terus
terang sampai sekarang saya masih teringat teman-teman saya, masih
terus-menerus memikirkan mereka. Mungkin itu hanya romantisme masa
lalu ya. Sering saya kepikiran pada orang-orang kecil, pelacur kelas
kambing, yang ada di belakang stasiun Wonokromo. Cak Gigih mesti
ngerti nih tempat itu. Banyak Mat Pithi disitu. Kalau malam alamak !
Juga teman lain di Tangerang, orang desa dari Wedi Klaten yang
diiming-imingi kerja enak di pabrik sepatu, gara-gara yang bawa orang
seiman. Tapi ternyata di Tangerang mereka terlunta-lunta. Rumah tipe
21 di Cimone diisi 15 orang. Beberapa di PHK dengan semena-mena.
Makan nasi lauk indomie. Ada yang ingin menjilat sok rajin dan
produktif tapi malah menjerumuskan teman sendiri. Apakah hal-hal itu
dipikirkan oleh orang-orang yang sekarang meributkan RUU Kepresidenan
itu ?

> yap:
> Mungkin saya dibilang kurang idealis, kurang nasionalis, atau
> kurang ajar, tetapi saya ingin kita semua kembali keposisi normal
sebagai manusia biasa.

Saya pun pingin jadi manusia biasa. Seperti orang-orang disini biasa.
Hati nurani mereka tidak terusik, harmonis, srasi selaras, seimbang
karena semuanya sudah mapan. Tapi tiap kali lihat Indonesia entah
kenapa hati nurani selalu ribut. Di Indonesia tiap hari kita disuruh
terus-menerus menelan hal-hal yang memperkosa hati nurani. Kita
dipaksa menerima hal-hal aneh sebagai suatu kebenaran. Kita bisa
hidup normal memang, tetapi dengan hati porak-poranda.
 
> yap:
> Dari sisi ekonomi, perubahan yang signifikan sekarang ini adalah
> pergantian
> pelaku dan moda. Kalau dulu ekonomi menghasilkan konglomerasi,
> sekarang
> menghasilkan pemain individu, tanpa formalitas, tanpa kantor, tanpa
> identitas kalau perlu. Kalau dulu bekerja diorganisasi remi (the
> organization men) menjadi dambaan banyak orang, sekarang work from
> home
> lebih menjanjikan more bundles of cash silently. Sekedar pembukanya
> begitu.

ah ini aku tahu, e-commerce ya ? Sekarang ini di Indonesia sedang
musim perusahaan ganti core business. Saham Lippolife naik gara-gara
masuk ke e-business itu. Yang lucunya kepindahan core bisnis itu baru
diributkan setelah Lippo menangguk banyak untung karena ketidaktahuan
atau mungkin kepongahan gengsi para pembeli saham. Sinar Mas kemarin
mulai bergandengan tangan dengan perusahaan amrik untuk masuk ke
e-business sektor pulp dan kertas. Orang yang biasanya jualan ayam
sekarang mau beli Yahoo. Aku enggak ngerti ini trend, ikut-ikutan,
atau hanya sekedar gengsi. Persis seperti bisnis ponsel. 

Atau bisnis narkoba ? Ini juga ngetrend lho. Diam tapi duwitnya
banyak. Apalagi para ABG sekarang senengnya pesta. Aku sampai
sekarang penasaran siapa yang nyebar-nyebar narkoba ini, dan apa
maunya. Apa golongan menengah ke atas generasinya mau dibikin teler,
biar nanti ribut sendiri, dan tidak ada generasi penerus. Masih
untung kalau kelas bawah bisa mengambil alih dan memimpin generasi
teler ini, tapi kalau yang bawah ikut-ikutan ribut yah yang ada cuma
anarki.

> che, besok pagi mentari akan terbit lagi, seperti hari lainnya. Dan
> hidup
> keseharian bukan hanya milik kita, tetapi juga kewajiban kita.
> Berhentilah
> gelisah, segera pastikan langkah, kemana kau mau. Bukan sekedar
> mikirin apa
> kata mereka.

Aku gelisah karena nuraniku terusik saja. Tapi saya setuju dengan
anda. Hari ini punya kesulitan sendiri. Hari esok punya kesulitan
yang lain. 
> 
> Cheers,
> yap
> 

Ciao
Che
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Talk to your friends online with Yahoo! Messenger.
http://im.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke