Nama saja "Buku Putih", maka berdasarkan kondisi fisiknya tentu masih dapat 
diorek-orek agar lebigh bermakna. Oleh sebab itu tidak ada salahnya jikalau 
terminologi "Buku Putih" tetap digunakan. Hal ini khan membuka penafsiran bahwa si 
empunya pengarang dan penggagas tetap terbuka untuk diabul-abul "buku putih"nya itu. 
Jadi kita tidak perlu risau. Seperti "Buku putih" peristiwa G 30 S PKI itu khan muncul 
sebagai penangkis dari bukunya Manai Sophian yang ingin memberikan klarifikasi 
keterlibatan Pak Karno dalam peristiwa tersebut. 

Dalam Naskah "Buku putih" yang lain seperti yuang diterbiutkan oleh Sekretariat Negara 
tentang proses pembahasan RUUD 1945 - walaupun sampulnya hitam - khan juga ada 
keinginan dari si penerbit untuk mencoba menggali kembali sejarah terbentuknya UUD 
1945.

Dalam khasanah kepustakaan Buku mengenai sejarah terbentuknya UUD 1945, hanya buah 
pena dari Moh Yamin yang kontroversial itu. Akan tetapi "Buku putih" yang sampulnya 
hitam itu ternyata isinya justru sama persis denngan yang pernah ditulis oleh Moh. 
Yamin. Oleh sebab itu walaupun itu "buku Putih" toh kenyataannya tetap hitam legam, 
kabur, podo wae. Nah kita dipersilahkan untuk mengorek-orek buku putih tersebut 
berdasarkan pengetahuan kita masing-masing. Selaras dengan pengalaman hidup, situasi 
dan kondisi, kejujuran hati nurani (ini yang paling penting)dan yang terakhir fakta di 
lapangan yang tentunya berasal dari pihak-pihak yang terlibat secara langsung asalkan 
mereka tetap jujur.

"Buku putih" ibarat cek kosong yang haruis diisi dan ditambah oleh khalayak ramai 
sesuai dengan argumentasinya masing-masing.

MARILAH KITA MENGOBOK-OBOK "BUKU PUTIH' NYA SI PRABOWO, SYARWAN HAMID, FAISAL TANJUNG. 
UNTUK KEBENARAN FAKTUAL. Sekali buku putih tetap buku putih yang harus tetap 
diorek-orek kembali. 
--

On Mon, 20 Mar 2000 23:03:33   Daniel H.T. wrote:
>Salah satu berita yang hangat dan dijadikan bahan perdebatan adalah rencana
>diterbitkan buku putih oleh Prabowo Subianto. Demikian pula dengan rencana
>Syarwan Hamid dan Feisal Tandjung untuk melakukan hal yang sama. Kalau buku
>putih Prabowo akan berisi klarifikasi peristiwa kerusuhan Mei 1998 yang
>sangat memojokkannya, maka buku putih Syarwan dan Feisal rencananya akan
>mengklarifikasi peristiwa penyerbuan kantor PDI 27 Juli 1996 (Kudatuli),
>yang juga memojokkan mereka berdua sebagai otaknya. Kalau mundur ke
>belakang, masih ada apa yang disebut buku putih tentang peristiwa G30S/PKI
>yang diterbitkan oleh pemerintahan rezim Soeharto, di waktu rezim itu masih
>berkuasa. Semua buku-buku putih tersebut (akan) memamaparkan masing-masing
>peristiwa menurut versi pengarangnya. 
>Jika dua yang terakhir jadi terbit, maka setidaknya kita mempunyai tiga
>buku putih. Yang menjadi pertanyaannya adalah sudah tepatkan buku-buku tadi
>disebut "BUKU PUTIH"? Dari terminolgi "buku putih" asosiasi kita adalah
>seharusnya isinya sudah jelas, jernih dan relatif pasti tentang apa yang
>sebenarnya terjadi dalam peristiwa-peristiwa itu. Untuk mencapai taraf
>demikian, tentu saja harus melalui suatu penyelidikan yang independen,
>obyektif, serius, mendalam, komprehensif, dan tidak ditutup-tutupi. Ini
>hanya mungkin bisa tercapai kalau yang melakukan penyeledikan tadi berasal
>dari suatu tim khusus yang independen. Yang benar-benar bisa diandalkan dan
>dipercaya, serta tidak terlibat baik langsung, maupun tidak langsung pada
>masing-masing peristiwa. Tidak mungkin hasil yang dimaksud tersebut bisa
>dicapai kalau yang membuatnya justru dari satu-dua orang tertentu saja,
>apalagi dari mereka yang secara langsung terlibat. Tentu apa yang mereka
>tulis merupakan versi mereka sendiri. Keobyektifannya sangat lemah.
>Sehingga apa yang disebut "buku putih" yang seharusnya dapat menjernihkan
>suatu kejadian (yang masih gelap dan misterius), tidak akan pernah
>tercapai. Yang ada justru pembelaan diri dari pengarang-pengarangnya. Tidak
>mustahil berupaya untuk mencuci tangan dan menjadikan diri sendiri sebagai
>sosok pahlawan. 
>Dari apa yang diuraikan di atas, maka seharusnya baik untuk peristiwa
>G30S/PKI, kerusuhan Mei 1998, dan Kudatuli, TIDAK BOLEH menggunakan
>terminologi "BUKU PUTIH." Merupakan hak masing-masing pihak, termasuk
>Prabowo, Syarwan, dan Feisal, untuk menulis peristiwa-peristiwa tadi
>menurut versi mereka sendiri (termasuk pembelaan dirinya), tetapi adalah
>MENYESATKAN kalau buku-buku itu diberi nama "buku putih." Jangan
>menyalahgunakan suatu terminologi untuk mempengaruhi pandangan dan opini
>publik. sebab, peristiwa-peristiwa tadi sampai sekarang masih tetap
>menyimpan banyak misteri, dan saya yakin penulis-penulis itu tak akan bisa,
>atau tidak akan mau mengungkapkannya. Yang ada justru pembelaan diri
>mereka, dan akan menimbulkan misteri-misteri dan perdebatan-perdebatan baru.
>
>
>
>
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
>-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
http://www.eudoramail.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke