Dengan tujuan yang sama, kita dapat memilih banyak alternatif solusi.
Kekerasan salah satunya. Keterus terangan dan keterbukaan pilihan lain lagi.
Tetapi, hidup diranah Asia ini ada satu hal yang sedapat mungkin
dihindarkan, yaitu membuat orang lain kehilangan muka, seberapa salah dan
terkutuknya orang itu. Itulah mengapa hidup dikawasan ini orang dituntut
tidak sekedar pandai, tetapi harus pandai pandai. Juga tak elok menepuk dan
membusung dada.

Ini berkaitan dengan warna sosial budaya yang sudah given, apapun agamanya,
apapun rasnya, seberapa tinggipun status sosialnya dan sebagainya. Inilah
commonality Asia. Jangan membuat loose face, seberapa benarpun Anda,
seberapa salahpun "lawan" Anda.

Bahwa ada aliran (orang yang sifatnya) keras, terus terang, fundamentalis
dan sebagainya itu memang fenomena dunia. Tetapi kalau sifat itu
diimplementasikan secara telanjang, akan menimbulkan rasa aneh dan kurang
nyaman dibanyak hati orang sekitarnya. Sekalipun kebenarannya diakui namun
caranya dinilai kurang bijak.

Orang Jawa bilang: ngono yo ngono... (jangan semata mata), orang Sunda
bilang: beunang laukna herang caina (tercapai sasaran tanpa mengeruhkan
suasana), dan banyak phrase sejenis dari etnik etnik lainnya, mengisyaratkan
perlunya dicapai tujuan dan ditegakkan prinsip yang diyakini dengan cara
yang terpuji.

Kalau cuma sekedar bicara benar, banyak yang tahu, asal mau, tetapi
diperlukan cara yang bijak untuk menyatakan kebenaran itu. Kebenaran memang
harus ditegakkan, tetapi terlalu vulgar untuk mengharapkan orang lain
mengakui kesalahannya secara terbuka. Ada yang bisa begitu, tetapi tidak
banyak, sehingga tidak menjadi nilai yang diterima umum, alias tidak lazim.

Membuat pernyataan dengan bahasa keras, membantah dengan bahasa keras dan
sebagainya memang lebih mudah daripada mencari solusi yang win win tanpa
mengorbankan prinsip, karena untuk memperoleh solusi win-win dibutuhkan
seni, kearifan, ketulusan, keteguhan jiwa dan  wawasan daripada sekedar
kepandaian otak dan ketajaman daya analisis.

Apa susahnya saling memaki, kalau perlu dengan emosi, dengan menggunakan
bahasa bahasa terang. Tetapi betulkah manfaatnya akan lebih besar dari
mudharatnya? Betulkan dapat dihasilkan solusi yang permanen? Bersama sama
dalam wacana dimilis ini kita dapat meningkatkan kualitas diri menjadi
sekeras baja dan selembut sutera.

Saya tidak pernah berpendapat bahwa milis ini tidak bisa mengubah apa-apa.
Banyak manfaat yang saya dapatkan dari wacana ini, sehingga milis ini juga
telah turut mewarnai perobahan dalam diri saya. Alangkah ruginya kita kalau
menganggap milis ini tidak mengubah apa apa, tetapi tetap aktif diwacana
ini. Artinya dengan sengaja melakukan perbuatan sia sia. Dalam bertukar
informasi disini, sekurangnya kita berpeluang untuk berlomba dalam
kebajikan, saling menasihati dalam kebaikan serta kesabaran.

Begitupun terpulang kepada pribadi masing masing, dengan segala referensi
dan nilai-nilai yang diyakini, untuk tampil bagaimana dan ingin dikenal dan
dikenang sebagai apa oleh kita semua.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi seluruh umat Islam, mohon maaf
lahir dan bathin. Sekaligus mohon ijin untuk lengser sementara dari milis
ini, karena pekerjaan diseberang lautan sudah menanti. Kalau ada sumur
diladang, bolehlah beta menumpang mandi.

MARHABAN YA RAMADHAN.

Wassalam,
yap

----------------------------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.

----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, 23 November 2000 7:47 WIB
Subject: [Kuli Tinta] Siri-Sori-Siri-Sori- Uneg-Uneg-Sorry

> From: "Ediwanto" <[EMAIL PROTECTED]>
>  From: Ali Martono<[EMAIL PROTECTED]>
> From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>    GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>  From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
> From: y@p @telkom.net >   From: Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "Brahmanta" <[EMAIL PROTECTED]>  From: y@p @telkom.net >
> From: "Slax Rakumanan" <[EMAIL PROTECTED]>  From: y@p <[EMAIL PROTECTED]>
> From: "��" <[EMAIL PROTECTED]>  From: Ali Martono
> <[EMAIL PROTECTED]>
> ( dan lain-lain , dan lain-lain).
> ==============================================================
> Saya kira kira kita semua sudah tahu siapa yang mulai bikin gara-gara main
> sabet pedang disana. Saya sama sekali nggak keberatan untuk mengingatkan
> yang lupa : Kelompok Kristen membantai kelompok Muslim yang sedang
> sembahyang Idul-Fitri.
>
> Untuk membuat perdamaian ( ini menurut pendapat saya ) diperlukan
keadilan,
> paling tidak keadilan nurani : Pihak yang bikin gara-gara itu dengan tulus
> ngaku salah. Yang seperti itu dilakukan orang-orang di Afrika Selatan
sana.
> Setelah itu diperlukan kelapangan hati dan saling-memaafkan dan saling
> mengubur dendam.
>
> Bagaimana bisa ada damai kalau yang diributkan cuma Laskar Jihad. Suatu
> kreatifitas amat kepepet dari pihak Muslim setelah ribuan anak-anaknya
> dibantai kaya kecoa. Di Poso umpamanya ?
>
> Ngomong-ngomong apakah ada indikasi pengakuan seperti itu dari pihak
> Kristen?  Diluar itu , kayanya kok males ngomong soal itu. Nurut Gus Dur
> saja: Biarkan "kreativitas" kedua belah pihak berkembang......(?)
>
> Ataukah saya memang lupa bahwa pihak Islam adalah yang membuat
> gara-gara dengan  pembantaian masal pada ummat Kristen di Ambon sana ?
> Saya sama sekali tidak keberatan buat diingatkan....
>
> =========================================================
> Salam,
> Kawan-Kawan Sekalian,
> Bila seseorang punya uneg-uneg seperti diatas itu, sebaiknya bagaimana,
ya?
> Katakanlah di Milis ini. Di bungkus rapat-rapat didalam dada, atau
> dimasukkan dalam lemari saja. Atau dikeluarkan saja nekad-nekadan. Dengan
> dikeluarkan apa ada efek positifnya ? Yang terang pasti digebugi
ramai-ramai
> seperti WAM sobat seiman saya yang teteg itu. Dan dianggap miring sedikit
> karena maju tanpa konco yang cukup ? Apakah manusia lain yang membaca itu
,
> umpamanya yang beragama Kristen, bisa mendapat suatu wawasan lain
umpamanya
> ? Atau cuma memperburuk situasi, memperkuat stereotip menyesatkan bahwa
> Muslim beneran itu mayoritasnya  punya adab dibawah standar? Atau
masa-bodo,
> biarkan semuanya terjadi saja begitu saja. Biarkanlah kenyataan mengajari
> kita semua. Bag-Bug-Bag-Bug-Bag-Bug. Pastilah semua ada akhirnya........
>
> Kengganan berkomunikasi , keengganan mengeluarkan isihati , seringkali
saya
> rasakan. Hal itu dengan lugu tapi menarik sekali penah diungkapkan oleh
Mas
> Gigih dulu: Milis ini tidak bisa mengubah apa-apa. Tapi, kalau semuanya
> tetap disimpan dalam hati, apakah kita pernah bisa saling mengerti ?
Secuil
> ideal seperti itulah yang selalu saja mendorong saya untuk terus bicara
> apa-adanya. Bicara bukan yang harum macam Y@p yang santun itu, tapi sering
> pedas dan pahit seperti diatas.
>
> Tapi apakah mungkin ada gunanya ?  Apakah kita sudah siap saling kenal ?
> Apakah kita siap melihat diri kita dan diri lain dari bermacam-macam arah
?
>
> Wassalam.
> Abdullah Hasan.



>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke