**************
Wah ramai juga diskusi tentang senggolan berita yg menyangkut soal
agama ini ya. Thanks pada dua belah pihak, saya jadi bisa ikut belajar
kira-kira bagaimana diskursus ini berjalan. Jadi sebagai anggota yg
mau belajar mungkin saya lebih banyak ingin info lebih jauh atau
bertanya.
BKC1214 Nopi Hidayat wrote:
>
> Konteks persoalannya beda!! bung, Jihad untuk membela Agama dari
> serangan Agama lain adalah wajib bagi kami, coba lihat kasus yg terjadi
> dari kacamata agama beberapa waktu yg lalu seperti di Ambon, Poso dan
> Kupang, orang2 yg kebetulan beragama Kristen banyak membunuhi orang2
> Muslim,...apa pihak yg dibantai mau diam aja?? no man coba bung pikir
> jika Bung sedang diposisi tersebut, Bung dibantai tanpa alasan yg jelas,
> apa tindakan Bung diam juga?, makanya seruan jihad dikeluarkan lebih2
> karena pemerintah tidak tegas menindak secara hukum siapa yg salah
> (itulah kelemahan hukum buatan manusia).
Salah satu unsur yg menyebabkan pengikut agama mudah di adu-domba
adalah karena pertama mungkin info kurang akurat ya, tidak lengkap
tidak menyeluruh. Maka kalau boleh saya bertanya:
1. Yang di Poso itu kejadiannya bagaimana, saya betul kurang info ttg
hal ini?
2. Kalau yang di Kupang saya sedikit banyak tahu:
Orang-orang kristen dan katolik Kupang memberi reaksi emosional atas
berbagai pembakaran gedung Gereja di Jawa [total jenderal selama masa
Suharto, ditambah Habibie ada sekitar 500-an, nanti bisa dicari data
akuratnya. Tidak sulit krn ada data lengkap, kapan dimana dan bagaimana
nya]. Saya kira itu reaksi yg salah, dan Uskup Kupang lalu
meminta membantu membangun kembali mesji dan gedung-gedung yg dibakar.
Ada sumbangan dari pihak Kristen dan Katolik sekitar 1 milyard rupiah.
Lalu konkritnya orang-orang muda kristen yg nggak punya kerjaan,
akhirnya bekerja secara fisik membangun Mesjid dan gedung-gedung itu.
Apakah rekan-rekan Islam juga membantu membantu membangun kembali
gedung-gedung Gereja yg dibakar di Jawa? Kalau di Jatim saya lihat
rekan-rekan NU [banser NU] sibuk membantu menjaga Gereja dari
serangan para teroris berkedok agama. Terharu hati ini ketika satu
anggota banser mati syuhada akibat mau membuang bom yg akhirnya
meledak ditangannya di Mojokerto. Masyarakat Jawa Timur saya kira
belajar banyak, betapa kalau mereka tidak bersatu mudah sekali diadu-
domba oleh bajingan-bajingan jahat itu. Akhirnya relasi antar agama
di Jatim saya kira sangat bagus, bantu membantu dalam banyak hal.
Bahkan rekan-rekan remaja mesjid bekerja sama dgn para remaja atau
orang muda katolik dalam berbagai kegiatan, mis: pasar murah lebaran,
latihan kepemimpinan dsb.
Bung Nopi, data dari mana yg mengatakan ada yang mati dibantai di
Kupang?
Jangan-jangan itu data rekayasa, yang ada saya kira hanya pembakaran
kan?
Mohon pencerahan data akuratnya.
3. Masalah Ambon:
Mengapa hanya berhenti pada fakta pembantaian?
Kan disitu soalnya sudah seperti benang ruwet tidak karu-karuan.
Masih ingat ratusan kelompok preman dari Ambon pulang kampung setelah
tidak ada kerjaan lagi, pasca Suharto lengser.
Kalau dari tinjauan kepentingan para statusquo yg mempergunakan atau
memperalat agama utk kepentingannya ekonominya sendiri, bisa dilihat
deh tulisan-tulisan GJ. Adicondro. Begitupun sayap-sayap Angkatan
Darat dan Angkatan Laut mana saja yg memfasilitasi pembunuhan
berkepanjangan
itu.
Dari laporan antar pimpinan agama: Islam, Kristen, Katolik; yg
mengetahui
masalah Maluku, tak satupun alasan semata demi agama membantai pemeluk
agama lain ini keluar. Mereka melihat kenyataan ini sbg manipulasi,
adu domba kelompok elit Jakarta, dan antek-antek ORBA.
Mana yang benar, mohon pencerahannya.
> Untuk yg di Monas, Maaf, sebaiknya jika ada kejadian di internal Islam
> orang2 Kristen/Agama lain diam aja sih, urus sendiri2 agama masing2,
> kan Islam tidak pernah merepotkan Agama lain, gitu aja kok repot.
Lho yang di Monas itu kan pertemuan yg memakai mesjid untuk membicarakan
agenda nasional. Apakah ini hanya masalah internal Islam, wong hasil
dan kasak-kusuknya mempengaruhi nasib hidup semua warganegara entah itu
Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, Kong Hu Cu, Kebatinan dll.
Sebenarnya bagaimana tho pokok persoalannya disitu?
Apa mereka bicara ttg fatwa boleh tidaknya presiden wanita?
Atau mereka membicarakan masalah bangsa, mengapa tidak di gedung MPR/
DPR saja kalau yg dibicarakan masalah politik bangsa? Ini reaksi saya
baca dari pendapat Faisal Basri lho.
Terimakasih sebelumnya atas pencerahannya.
Salam:
Lik Uhu
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--