Bung Daniel,

Coba tanya ahli sejarah, sejak kapan eskalasi konflik yang
berlatar belakang agama semakin meningkat di Indonesia?

Dari sana mungkin kita bisa menemukan akar permasalahannya.


salam

��

----- Original Message -----
From: Daniel H.T <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 06, 2001 6:15 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Senggolan Berita 060401 (2)


Konflik di Ambon, setahu saya, adalah saling serang dan saling
bunuh (bagi
saya sesuatu yg sangat memprihatinkan dan konyol). Bukan satu
pihak yg
semata-mata menjadi korban. Dari konflik tsb muncul berbagai versi
yg
berbeda. Yg kebetulan beragama Islam bilang mereka yg diserang
lebih dulu,
sebaliknya yg kebetulan beragama Kristen juga bilang begitu.
Sekelompok
wartawan yg berbeda agam yg meliput di Ambon, baru2 ini mengadakan
pertemuan
di sebuah hotel di Bogor, dan mereka mengakui hal itu. Sulit u/
menentukan
secara tepat, siapa sebenarnya yg memulai. Wartawan yg beragama
Islam hanya
bisa meliput di wilayah yg dikuasai kelompok Islama, demikian juga
dng
wartawan yg beragama Kristen hanya bisa meliput di wilayah yg
dikuasai
kelompok Kristen. Sehingga sangat mudah muncul berita2 subyektif.

Di daerah asal saya, sewaktu saya masih duduk di bangku SMP, cukup
sering
terjadi perselisihan antarsuku Flores dng suku Makassar.
Perselisihan ini
tak jarang juga sampai pd konflik berdarah, yg menyebabkan
jatuhnya korban
jiwa. Pdhal biasanya hanya berawal dari hal sepele, seperti
bersinggungan di
pasar. Ironisnya pd peristiwa2 ini terjadi implementasi
solidaritas yg
salah, yakni individu2 yg terlibat secara langsung, akan dibantu
oleh
teman2-nya sesuku. Sehingga muncullah "perang suku" kecil2-an.
Kita semua
tau bahwa suku Flores umumnya beraga Kristen (Khatolik), sedangkan
Makassar
umumnya beragama Islam. Tetapi, sepanjang masa itu, perselisihan2
tsb tidak
membawa-bawa agama. Tidak pernah konflik tsb berkelanjutan dng isu
agama,
seperti sekarang ini.  Sehingga umumnya konflik tsb tak
berkepanjangan.
Pdhal korban jiwa tak jarang berjatuhan. Yg kemudian memunculkan
solidaritas
salah kaprah, seperti yg terjadi di Ambon dan beberapa tempat
lainnya.

Sesuatu yg memprihatinkan yg terdpt pd masyarakat ini adalah
sangat mudah
mengkaitkan segala sesuatu dng agama. Konflik antara dua org, yg
kebetulan
saja berbeda agama, bisa menjurus pd konflik (berdarah) di antara
dua
kelompok besar yg berbeda agama dng mengatasnamakan agama (membela
agama).
Pdhal dng jelas agama itu sendiri melarang kekerasan. Mis. si A
memeras si
B. Si B tidak mau memberi. Bahkan berani melawan A. A dng B pula
berkelahi.
Perkelahian itu berkembang dng memakai senjata tajam. Akhirnya si
A berhasil
dikalahkan si B. A tewas di tangan B. Isu yg muncul dan berkembang
adalah
org agama X membunuh org beragama Y. Seterusnya muncullah saling
serang dan
saling bunuh dng mengatasnamakan agama

Lihat saja, bagaimana ketika saya mendapat reaksi dari beberapa
orang anonim
yg mengirim e-mail gelap kpd saya, sbg reaksi kritik2 saya yg saya
lemparkan
di milis ini kpd kelompok Amien cs. Mereka memaki-maki saya dng
mengkait-kaitkan dng masalah agama. Kata2 kasar pun dilontarkan.
Seperti :
"Mampuslah Kristen!" Pdhal saya sedikit pun tak menyingung masalah
agama.
Kebetulan saja nama saya Daniel, yg rupanya diasosiakan dng
Kristen.

Konflik di Ambon melahirkan banyak buku ttg itu menurut versi
kelompok
Islam, tetapi beranikah, atau bagaimana yg akan terjadi jika
kelompok
Kristen juga melakukan hal yg sama (menerbitkan buku versi
mereka)? Tentu,
bisa melahirkan perang kata2 di antara kelompok ini lagi, yg tak
mustahil
meletuskan konflik fisik lagi.

Saya melihat di beberapa toko buku dijual bebas beberapa buku yg
isinya
menyudutkan kepercayaan Kristen. Misalnya yg isinya mengatakan
Alkitab itu
palsu, dan semacamnya. Bagaimana kalau pihak KRisten membuat dan
menjual
buku yg mirip yg menyudutkan ajaran Islam? Tentu, langsung
mendapat reaksi
keras.

Bagaimana dng seruan agar masing2 mengurus (ajaran) intern
masing2? Kalau di
satu pihak yg lain boleh bersuara, tetapi ketika 'lawannya'
bersuara, akan
mendpt rekasi keras. Bahkan dng ancaman bunuh?

Bagaimana dng alasan membela agama? Atau, bahkan membela Tuhan?
Bagi saya
ini menimbulkan pertanyaan sedemikian lemahkah agama, atau Tuhan
itu,
sehingga perlu dibela manusia?

Apakah membunuh atas nama agama itu dibenarkan? Anda mengatakan,
benar.
Jihad membela agama, seperti di Ambon adalah benar. Tetapi, tak
sedikit pula
org Islam yg tidak setuju dan menentangnya. Mereka lebih
berpendapat bahwa
apa yg terjadi di Ambon adalah konflik antar dua kelompok besar yg
mengatasnamakan agama masing2 sebagai pembenarnya. Apakah org
Islam yg tidak
setuju jihad itu, mau dihakimi sbg bukan Islam yg benar? Siapakah
kita, yg
berhak menghakimi org seperti itu?

Bagi saya agama adalah urusan keimanan individu masing2. Kita
berbeda
kepercayaan, tetapi kita harus menghormati masing2 perbedaan itu.
Omong
kosong, kalau bilang harus dicari titik temu. Itu sia2. Saya
percaya Yesus
adalah Juru Selamat, Anda tidak percaya. Sebaliknya anda percaya
Kanabian
Muhammad, saya tidak. Saling menghormatilah. Kita tetap berteman
di dalam
perbedaan itu. Tidak usah saling menjelekkan ajaran masing2. Kalau
ada
individu yg berpoerilaku demikian, bukan agamanya yg salah tetapi
orangnya
itulah yg sesat. Jadi, jangan melihat perilaku orangnya (karena yg
beragama
pun bisa berperilaku jahat), tetapi lihatlah ajaran agamanya.

----- Original Message -----
From: BKC1214 Nopi Hidayat
<[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, April 06, 2001 8:41 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Senggolan Berita 060401 (2)


>
>
> Konteks persoalannya beda!! bung, Jihad untuk membela Agama dari
> serangan Agama lain adalah wajib bagi kami, coba lihat kasus yg
terjadi
> dari kacamata agama beberapa waktu yg lalu seperti di Ambon,
Poso dan
> Kupang, orang2 yg kebetulan beragama Kristen banyak membunuhi
orang2
> Muslim,...apa pihak yg dibantai mau diam aja?? no man coba bung
pikir
> jika Bung sedang diposisi tersebut, Bung dibantai tanpa alasan
yg jelas,
> apa tindakan Bung diam juga?, makanya seruan jihad dikeluarkan
lebih2
> karena pemerintah tidak tegas menindak secara hukum siapa yg
salah
> (itulah kelemahan hukum buatan manusia).
>
> Satunya yg di NU, seruan jihad dikeluarkan hanya untuk
meng-counter
> lawan politik bukan membela agama?, tapi membela kekuasaan..atau
koreksi
> jika saya salah.
>
> Untuk yg di Monas, Maaf, sebaiknya jika ada kejadian di internal
Islam
> orang2 Kristen/Agama lain diam aja sih, urus sendiri2 agama
masing2,
> kan Islam tidak pernah merepotkan Agama lain, gitu aja kok
repot.
>
> Salam,
> ------
>
> Daniel,
> NU Jangan Tekuk Ayat Al Quran
>  Rais: Non Muslim Bilang Kok Islam Begitu
>
>  koridor.com [2 Apr, 15:09] Ketua Majelis Permusyawaratan
Rakyat-MPR Amien
>  Rais, mengingatkan kelompok Nahdlatul Ulama-NU, agar tidak
terlalu jauh
>  membawa agama Islam ke dalam persoalan politik praktis,
termasuk ancaman
>  resolusi jihad.
>
> = Kalau dulu ada guru SD kesulitan memberi contoh konkrit
peribahasa:
> "Kumbang di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada
tampak."
> Sekarang rasanya tidak lagi ... contoh konkritnya ini.
>
> = Ketika tempo hari AR menyerukan jihad di Monas, banyak kawan2
Kristen
> bilang:  "Apa iya Islam begitu?"
>
>



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--




...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke