Daniel:
|Bagi saya agama adalah urusan keimanan individu masing2.
|Kita berbeda kepercayaan, tetapi kita harus menghormati
|masing2 perbedaan itu. Omong kosong, kalau bilang harus
|dicari titik temu. Itu sia2. Saya percaya Yesus adalah
|Juru Selamat, Anda tidak percaya. Sebaliknya anda percaya
|Kanabian Muhammad, saya tidak. Saling menghormatilah. Kita
|tetap berteman di dalam perbedaan itu. Tidak usah saling
|menjelekkan ajaran masing2. Kalau ada individu yg berpoerilaku
|demikian, bukan agamanya yg salah tetapi orangnya itulah
|yg sesat. Jadi, jangan melihat perilaku orangnya (karena
|yg beragama pun bisa berperilaku jahat), tetapi lihatlah
|ajaran agamanya.
Bagi para ahli dialog agama, mereka biasanya merumuskan
dialog antar pemeluk berbeda agama itu paling afdol kalau
dimulai dari berbagai tingkat:
* Dialog KEHIDUPAN, hal ini bisa kita lihat dalam hidup
bersama orang-orang desa, atau keluarga rukun damai yg
anak-anaknya dan atau bersama orang tuanya memeluk berbagai
agama. Bagi mereka, mereka itu mutu relasi-lah yg paling
penting dlm penghayatan hidup mereka sehari-hari. Jadi
bukan ini agamaku, itu agamamu, yg ditekankan seolah-olah
tembok kokoh dipancang hingga tidak bisa berkomunikasi
sehat dan damai. Yah, mereka berinteraksi biasa saja,
masing-masing menghayati iman agamanya masing-masing.
Hasilnya bisa dilihat pada kemampuan mereka menciptakan
hidup damai bersama. Jadi mereka memegang prinsip yg
pertama adalah hidup bersaudara, baru iman masing-masing
menyumbangkan sebaik-baiknya pada mutu persaudaraan itu.
*Dialog KARYA, setelah prinsip pertama, kita adalah saudara
berjalan dgn mulus, maka bisa meningkat pada dialog karya.
Bersama-sama melalui kerja masing-masing atau bersama
menyumbangkan yg paling bagus untuk masyarakat, lewat
kantor, RT/RW, Organisasi, LSM dan macam-macam lainnya.
Masing-masing pemeluk agama berusaha menghayati iman
agamanya, dengan fokus; pelayanan, service, fungsi
terbaik apa yg bisa disumbangkan untuk kesejahteraan
masyarakat. Karena yang ditekankan adalah pelayanan,
fungsi dan service dan BUKAN power, kekuasaan, kedudukan
maka dialog karya ini diharapkan menjadi indah walaupun
dilakukan oleh pemeluk agama yg berbeda dan beragam.
*Dialog NILAI-NILAI, anda bisa melihat indahnya dialog
ini dalam komunitas LSM dan Gerakan pelayanan masyarakat
lainnya. Contoh mis: Gerakan Relawan Kemanusiaan.
Walaupun anggotanya dari berbagai pemeluk agama, namun
mereka bisa kompak, bagai saudara, karena bersama-sama
bersimpati pada korban. Nilai-nilai kemanusiaan yg universal,
dihayati, disharingkan, melalui lubuk hati masing-masing
iman pemeluk agama yg berbeda dan beragam. Titik temunya
akan sangat jelas dlm wujud: SOLIDARITAS, ungkapannya
bisa sangat kaya krn dilatar-belakangi penghayatan agama
yg berbeda-beda. Contoh ini bisa diteruskan dalam komunitas
pembela Hak Asasi Manusia, Lembaga Bantuan Hukum dll.
Nilai-nilai kehidupan yg dihayati bersama bisa macam-macam:
*bersimpati pada korban atau penghayatan bersama atas
korban-korban penindasan,
*keadilan
*nilai kejujuran: bersama menghancurkan korupsi,
*dst
*Dialog penghayatan AJARAN, IMAN: setelah melewati
tiga tingkatan itu, diharapkan para pemeluk agama yg
berbeda dan beragam semakin melihat, bahwa yg disebut
<surga manusiawi>, <keselamatan rohani>, ya akhirnya
diyakini tidak hanya terdapat pada satu agama saja.
Disini tentu diandaikan mereka-mereka itu sudah sampai
pada tingkat kematangan pengetahuan Teologi yg mendalam.
Dengan tetap saling menghormati, respek, menghargai
masing-masing pemeluk agama untuk tetap krasan pada
agamanya; lalu saling berdialog, mensharingkan penghayatan
iman masing-masing. Disini prinsipnya bukan lagi kalah
menang, "aku akan mempertobatkan kamu pada agamaku";
tapi lebih pada ingin merasakan, mengerti indahnya
penghayatan pemeluk agama lain; tanpa harus merasa
takut, ragu dsb.
Cerita-cerita diatas saya sampaikan krn dulu pernah
mencoba mengenal kekayaan berbagai penghayatan iman itu.
Saya pernah mengikuti ritual Kebatinan Jawa, punya
saudara Muslim, Kristen, dan ada teman-rekan dari
Kong Hu Cu, Buddha serta Hindu; bahkan yg komunispun
atau Atheis juga ada. Pada umumnya pernah ikut dalam
berbagai perayaan agama mereka, mewawancarai dengan
sikap respek, dan ingin belajar dari kekayaan
penghayatan iman agama lainnya. Dari situ kalau disuruh
cerita bisa saya sampaikan, apa yg indah dari Islam,
Buddha, Hindu, Kristen Protestan atau Pantekosta, Katolik,
Kebatinan, Hindu dsb. Tanpa harus membuat saya bimbang
dari krasan saya pada agama yg saya anut sekarang ini.
Begitu dulu dah ngowosnya,
Lik Uhu
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--