On Mon, 2004-06-14 at 09:13, Frans Thamura wrote: > > emang, tetapi IGOS kan seperti kerajaan sendiri, saya aja ngga ada yang > kenal, Pak Rus mungkin yang ada disana pada kenal. :) > > Setahu saya orang eBDesk yang bercokol kuat, sampai minta jadi pembicara > open source segala. >
Siapapun itu, dibelakan IGOS, saya sih ... silahkan saja. Saya berharap, mereka yang dibelakan IGOS, mengerti betul apa itu Open Source :) > > Apa ini cuma omong doang ... Saya harap tidak seperti itu ... ! > > Ini yang diributkan, negara kita terkenal karena banyak orang pemerintah > yang omong doang. > Wah, kalau sampai bener tuh Omong Doang ... Malu juga saya, kasih info ke IOSN ... hik ... hik ... hik ... Omong-omong, apa ada orang IGOS disini ? Apa mereka juga menyaring dan memantau pembicaraan di linux.or.id ?? Sebaiknya sebelum mulai sih dengan IGOS, dengar dulu lah ... sana-sini. > > Apakah Java sudah diklasifikasikan Open Source Software ? > > belom, :( hick hick, hidup didunia banci :( > > posisi java didunia open source, agak aneh, mungkin Pak Toosa juga bisa > bantu, wong beliau juga buka usaha di Java :) > > saat ini mungkin kata yang tepat adalah endoresment technology. > > > > Saya rasa belum ... (kalau saya tidak salah baca dan dengar ... ) > > memang, banyak yang ngga percaya dengan open source tuh di sana, karena > open source udah jadi banyak agenda kepentingan bisnis. > Memang seperti itu pak alamiahnya. Kembali ke bisnis, karena orang masih perlu makan. :) > jadi saya pikir open source dan sosialis capitalis sudah jadi satu :) > Oh ... sampean baca tidak salah satu buku "Understanding open source software development", pengarangnya saya lupa, lain waktu saya update deh. Dalam salah satu alineanya, disebutkan, atau dipadankan Open Source dengan Komunisme ... hehehehe .... > > Coba lihat sumber bangsa sendiri. > > > > Ada WinBI, ada Trustix Merdeka, dan ada RimbaLinux. > > WinBI, kalau tidak hati-hati ... bisa-bisa di utak-utik sama Microsoft > > karena pake terminologi "window" atau "windows" ... > > Saya malah ngga setuju, pakai itu, karena dari pengalaman buat open > source, negara indonesia itu paling kurang commitmentnya, kalau misalnya > server IGOS pakai WinBi, masih ok, karena hosting web simple, tetapi untuk > yang lebih serius ngga deh, saya mah mendingan pakai Fedora, walaupun > lebih jelek. > Wajarlah, ada yang setuju ada yang enggak. Namanya juga manusia. Nasionalisme harus didepan dulu kalau mau membangun bangsa. Support salah satu, atau gunakan salah satu saja, kemudian mobilisasi sumber daya untuk menggunakan yang satu itu, dengan niat untuk selalu memperbaiki. Mau berbasiskan pada Fedora, Debian, bagi saya ... sami mawon pak, monggo ... Hal utama, jangan cuma retorika saja ... > Saya rasa daripada buat distro, mendingan ngeDebian aja. Contoh gerakan di > UI oleh Pak Ibam bagus tuh. > > daripada jadi kepala ayam, mendingan jadi salah satu bagian dari naga. > sisiknya juga ngga apa2. > > > > RimbaLinux, baru saja saya upload link-nya ke IOSN, dan ternyata admin > > mereka pun cukup tanggap setelah diberitahu oleh saya ... > > wah baru tahu nih, rimba linux, backingnya siapa yah. :) > gak tahu ya, siapa yang back up. Saya sdh sempat bincang dengan mereka beberapa kali. Termasuk minta Server OS -nya ... :) > > > > Saya, secara pribadi, pilih satu diantara tiga itu untuk didukung oleh > > Industri di Indonesia. Ajak Industri untuk patungan mengembangkan salah > > satu distro Linux diatas. Lihat contoh, bagaimana OSDN - Open Source > > Development Network didukung oleh perusahaan-perusahaan besar di US. > > saya tunggu gerakan relationship management dari para distro ini, > pengalaman saya, berat jack, harus agresif juga mereka agar bisa bersaing. > > kenapa ngga join asianux. > AsiaNux juga ok. Tapi, sebaiknya kita joint dengan produk yang dibawa, atau bendera yang dibawa. China dengan Red Flag, Jepang dengan MiracleLinux, nah, kalau kita mau ikutan ... apa flag yang digunakan. Trustix Merdeka ... sampai dimana mereka ini ya ? > > Saya memimpikan ada BSA (Business Software Alliance) di Indonesia. > > Kalau mau jahil mengusik penggunaan Linux, laporkan saja perusahaan- > > perusahaan pemerintah, ataupun BUMN yang diketahui menggunakan produk M$ > > bajakan. Kalau di MY sini, siapa yang melaporkan, dijamin rahasianya > > dan mendapat 20.000 RM (kira-kira 44 juta Rp). Wow ... > > BSA udah ada tuh, tetapi BSA, Aspiluki itu di Indonesia dianggap identik > dengan M$. > Justru itu maksudnya ... Atau, Aspiluki cuma Omong Doang juga .... hahaha. > Inget omongan Pak Djarot, selaku ketua Aspiluki, hati hati menggunakan > product Open Source, kalimatnya netral sih, tetapi terlihat dukungan ke > open source kurang jack. > Loh, pak Frans, Aspiluki memang gak perlu mendukung Open Source. Yang pendukung Open Source itu, komunitas ... pak. Oleh sebab itu, Debian dan Fedora bisa jalan. Oleh sebab itu pula, Linux core selalu keluar versi terbaru ... Kembali lagi permasalahan Bisnis. Sampai dimana kinerja Aspiluki ?? Kok, para BUMN yang kasat mata saja menggunakan software bajakan ... diam saja. Heran ? Sampai dimana Aspiluki ... sowan sama kantor-kantor pemerintah ... Microsoft ... itu mahal sekali ... Secara pribadi, kita, baca para pelakon bisnis akan keberatan membayar lisensi produk-produknya karena memang uangnya tidak ada ... Turning point, ini yang akan terjadi. Orang-orang ini akan menengok Linux. Karena hanya itu solusi yang sementara ini ada. > > Itu saja pak Frans .... > > Untuk itu, kita dukung BSA, kalau perlu pemerintah pun mendukung operasi > > BSA di negeri ini ... Dijamin, Linux menjamur ... :-)) > > Dukung BSA = dukung M$ jack. > Tentu dong ... tapi, lihat turning point -nya. > harus kuat team linux indonesia berpolitik di kancah politik dimana M$ > bercokol, karena selain pemain lama, dia juga duitnya gede jack. Politikus kita memang bisa dibeli Microsoft ... silahkan saja. Suruh semua anak bangsa negeri ini pake Microsoft ... silahkan. Dijamin, ... pembajakan bertambah marak ... dan yang masuk penjara karena pembajakan juga bertambah banyak ... (kalau hukum dijalankan, tentunya dengan mendukung Microsoft). Apa rakyat pengguna IT tidak mau belajar ? Perhatikan politik di Indonesia. Secara tak disadari ... bertanya pada diri sendiri. Apakah setelah 1997, resesi ekonomi yang begitu hebatnya ... kok bangsa ini tidak ambruk, hancur lebur ... korupsi masih ada, yang kelaparan masih ada, yang bisnis tambah maju pun masih ada ... yang beli BMW pun masih banyak ... Wah ... kayaknya sudah melenceng deh. Sorry ... maaf seribu maaf ... Salam ++ pit ++ -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

