On 12/6/10, Utian Ayuba <[email protected]> wrote: > On 12/06/2010 01:21 PM, Arema wrote: >> >> Kalau sudah sampai di sini maka diskusi jadi beralih ke masalah >> profesionalisme vs komunitas. Masih mau dilanjutkan? >> > > lanjut saja Pak. ruang "harddisk" saya masih cukup ngunduh surel dari > mailing list ini :)
Nah ini, saya tertarik sekali dengan "profesionalisme" ini, terus terang saya juga orang yg ingin perfek mengerjakan sesuatu dan cenderung jenuh mengulang-ngulang pelatihan yang itu2 juga, untuk lembaga yang sama, dan untuk orang yang kemarin-kemarin itu juga. Bagaimanakah sebuah lembaga seperti KPLI yg loose, minim resource, bisa profesional? Bagaimana mengatasi ini? berhubung pelatihan cenderung menjadi proyek untuk mencari makan, bukan murni untuk "berubah". Apakah kita harus turut serta (untuk "menggugurkan kewajiban" kita) dan ikut mencari makan? Atau tidak ikut serta, dan terhindar dari, setidaknya menjadi pendukung tidak langsung kegiatan "mencari makan" ini? -- Pewaris Han Liong Sip Pat Ciang http://ntb.linux.or.id | http://groups.google.com/group/kpli-ntb/ | http://kplintb.wordpress.com | http://www.facebook.com/group.php?gid=297454120330 -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

