Salam, On Dec 5, 2010, at 11:27 PM, Resza Ciptadi wrote:
>> Kalau sudah banyak yang terbiasa menggunakan FOSS maka beralih ke full >> platform itu cuma masalah waktu. > > Kurang sreg sama ini menurut saya ini statement yang utopis, coba > tanya teman2 kemarin d ILC yang bilang mendingan dapet 1 PC yang di > install linux daripada 100 PC dual boot, bukti empirik teman2 yang > terlibat dalam berbagai migrasi di berbagai daerah dan istitusi > membuktikan pernyataan diatas bagus dalam gagasan tapi gagal d > implementasi. Mudah sekali ya melabeli orang. Lain padang lain belalang :)) Yakin kegagalannya PASTI karena masalah dual boot? Bukan karena proses pendampingan yang tidak konsisten sehingga gagal menanamkan mindset baru dan karena strategi merubah kulturnya tidak jalan? Jangan merasa dengan sekali pelatihan semua masalah akan selesai dan dunia menjadi semakin baik :)) seringkali perubahan kultur hanya terjadi apabila ada program berkelanjutan setelah masa training diikuti pendampingan yang prosesnya bisa berbulan-bulan bahkan untuk suatu organisasi yang kecil (< 20 PC), apalagi yang lebih besar dan ini tergantung mentalitas peserta migrasinya serta komitmen politik dan motivasi dari pimpinannya plus anggaran Salah satu proyek migrasi besar yang dilakukan kawan-kawan di beberapa daerah mengalami masalah ini. Sekalipun semua PC sudah dimigrasikan ke Linux, dalam seminggu dijamin kembali ke platform lama. Gimana mau gak kembali? Aktivis Linux yang promosi hanya hadir pada saat migrasi tanpa proses pendampingan. Atau aktivis lokalnya hanya sesekali datang. Help desk internal di instansi yang melakukan migrasi tidak terbentuk. Tidak ada trainer internet. Tidak ada program internalisasi (pembiasaan) dan pendampingan (trouble shooting) dan lebih parah lagi teknisinya gak ada yang mengerti Linux termasuk tukang service di luar yang jadi langganan kantor tersebut. Masih ingat kabar proyek PLOS dan sejenisnya yang setiap tahun terkendala masalah anggaran, kekurangan SDM, tidak melibatkan sumber daya lokal sehingga justru ditolak dan tidak mendapat dukungan komunitas dlsb.? Coba dicermati lagi, masalahnya adalah kesalahan strategi dan kegagalan proses migrasi. Jangan dual boot jadi kambiang hitam nan tjongek :)) Itu namanya terlalu menyederhanakan persoalan bukan evaluasi komprehensif. Maka kembali kepada tugas aktivis itu apa? Dia adalah pemberi solusi sesuai ideologi yang diyakininya. Dia disebut berhasil manakala mampu memenuhi harapan dan kebutuhan audiensnya dengan sebagian atau keseluruhan solusi yang ditawarkannya baik secara langsung, tidak langsung maupun bertahap menyesuaikan dengan situasi dan kondisi sehingga selaras, tepat, sesuai dengan proses perubahan kultur dan paradigma. Itulah yang disebut dengan strategi, bukan utopis. Kalau anda benar-benar di lapangan akan paham, aktivis yang egois tidak akan pernah diterima apalagi berhasil. Kita ini melayani audiens bukan justru minta dituruti. Jadi ada kendala lain lagi sebenarnya yaitu kapasitas si aktivis itu sendiri. Ada yang sedemikian egoisnya sehingga hanya mau menggunakan distro tertentu dan memaksakan segala masalah harus diselesaikan lewat console. Ya akhirnya hanya dia sendiri yang bisa melakukan itu dan audiens tidak puas karena jadi tergantung pada selera satu orang. Padahal maunya audiens kebutuhannya dipenuhi, masalahnya diatasi. Persoalan lain yang menjadi kendala misalnya masalah kelembagaan KPLi atau aktivis FOSS/Linux lainnya. Misalnya suatu proyek pendampingan membutuhkan kelengkapan administrasi, masalahnya kebanyakan organisasi ini hanya berupa gerombolan/crowd tanpa badan hukum sehingga tentu saja secara formal tidak mungkin bisa dilibatkan. Nanti pertanggungjawaban administratifnya bagaimana? Apa mau berjamaah menginap di tahanan KPK? Ini sejak jaman ILC tahun jebot juga tetap jadi perdebatan tanpa ada solusi yang benar-benar komprehensif. Semua cuma curhat dan berkeluh kesah. Sementara organisasi tanpa bentuk ini juga sifatnya loose loose atau dalam bahasa kerennya "nggak profesional", ibarat datang tak diundang, pulang gak diantar, dipanggil gak pernah respon, diharapkan tak pernah nongol, eh dimaki malah datang :)) apalagi kalau status aktivisnya mahasiswa. Maka pas proyeknya dead line eh mudik liburan atau lagi ujian atau banyak tugas. Capek deh. Ini beda kondisinya kalau mau membandingkan dengan migrasi yang ditangani secara profesional, dalam konteks project komersial oleh perusahaan bukan dimotori oleh aktivis. Dalam solusi komersial ini orientasinya tentu saja kepuasan pelanggan adalah nomor satu. Sehingga apabila lingkungannya masih meminta dual boot, asal kontraktor tetap dibayar tidak ada masalah. Bahkan bisa jadi pelanggan memilih distro enterprise bukan versi komunitas yang gratisan. Bukan satu dua yang tetap menggunakan aplikasi non FOSS alias berbayar alias proprietary walau berjalan di atas platform Linux ataupun sebaliknya menggunakan aplikasi FOSS tapi platformnya tetap proprietary. Bisa pula menghendaki implementasi terbatas misalnya hanya di satu divisi saja, lain departemen tetap menggunakan platform propietary misalnya karena tuntutan kebutuhan bisnis. Seperti kutipan saya di awal thread, moral of the story: dunia tak seluas daun kelor. Tidak salah mempertahankan idealisme, tetapi jangan lupa aktivis hidup di dunia nyata yang sebagian besarnya adalah kepentingan orang lain. >> Jadi saya setuju memperbanyak pengguna FOSS namun khusus untuk Linux sebagai >> platform OS sebaiknya bertahap mengikuti kebutuhan dan menyesuaikan dengan >> situasi. Memilih strategi yang paling bersahabat :)) > > yah itu yang paling bersahabat bikin d-link dan kawan2nya rasanya ga > ada yang nanya kalo beli d-link ini OSnya windows bukan, atau orang > beli android nanya ini dalemnya windows kah ...?? Totally nggak nyambung. Produk appliance yang sudah jadi apapun jeroannya jelas bukan lahan pekerjaan aktivis. Itu tugasnya tim marketing, teknisi, operator, vendor, kontraktor, mereka punya itu semua :)) _______ Regards, M. Salahuddien -- Berhenti langganan: [email protected] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

