Salam,

On Dec 5, 2010, at 5:42 PM, adi wrote:

> On Sun, Dec 05, 2010 at 06:38:20AM +0700, Arema wrote:
>> Anak saya misalnya, sejak kecil menggunakan Linux pada PC dan
>> MacOS pada laptop tetapi mereka juga terampil menggunakan
>> Windows karena tuntutan kurikulum akademik yang tidak mudah
>> merubahnya karena kompleksitas masalah menyangkut banyak
>> kepentingan. Menyesuaikan saja dengan kebutuhannya.
> 
> justru itu, ayo mempromosikan linux saja. jumlah pengguna itu
> menentukan kemampuan bargaining. tidak semua anak semujur anak
> anda lho. anak saya di rumah terpaksa pakai imaginasi saja
> menyamakan openoffice dengan microsoft office di sekolah.
> sementara ini, orang masih berargumen bahwa pengguna windows
> jauh lebih banyak, jadi menganggap minoritas (linux) tidak
> penting.

Nah ini lebih bermutu :))

Setuju. Karena kebetulan saya punya fasilitas maka cara promosinya adalah 
mengajak guru dan orang tua siswa gantian ikut pelatihan pengenalan, 
penggunaan/pemanfaatan (termasuk pendekatan dual boot dan pembiasaan aplikasi 
FOSS di platform proprietary), kalau sudah siap baru migrasi. Prosesnya 
panjang, mengurai kompleksitas satu per satu dan pada akhirnya semua ada karena 
terpenuhi kebutuhannya. Bukan karena hal lain. Bagaimana keberhasilan 
menjadikan FOSS dan Linux sebagai solusi itu sangat bergantung bagaimana kita 
selaku aktivis menjalankan proses tersebut.

Jaman sekarang WOTK, wakil orang tua siswa di sekolah pun punya pengaruh besar 
untuk menentukan pilihan platform dan aplikasi apa yang akan digunakan di 
laboratorium sekolah. Jadi cuma bicara sama pihak sekolah dan guru saja 
kemungkinan bisa gagal. Apalagi kalau pembangunan laboratorium sepenuhnya 
dibiayai oleh WOTK, kebanyakan ingin gampangnya saja biar lekas beres pakai 
yang paling umum dipakai supaya anaknya nanti tidak canggung dan menjadi "orang 
aneh" diantara sebayanya karena pelajaran komputernya tidak lazim. Ini fakta 
yang langsung dialami aktivis.

Dari berbagai pengalaman semacam itu, saya merasakan pendekatan hard core yang 
over confidence dari aktivis itu sendiri justru menjadi pemicu kegagalan 
terbesar. Menghormati pengguna platform lain, tepatnya berusaha mengerti adanya 
kebutuhan tersebut sehingga kita mampu menawarkan alternatif solusi yang tepat 
adalah salah satu kunci keberhasilan.

> makanya saya nggak habis pikir kalau berkontribusi itu diartikan
> sebagai ikut mengembangkan linux (ikut aktif sebagai pengembang)
> saja. sungguh tidak masuk akal. bargaining linux itu ada kalau
> pengguna banyak. itu sudah.

Kalau saya nggak sanggup jadi pengembang. Kelas saya cuma pengguna 
hangat-hangat tahi ayam :)) Tapi mendukung para pengembang itu bisa saya 
lakukan. Apalagi bisa menjual karya para pengembang itu lebih bahagia lagi. Itu 
juga kontribusi memperbanyak pengguna juga kan? Kira-kira pengakuan kapasitas 
saya sebagai aktivis seperti itu. 

> ok, kenapa linux? karena memungkinkan platform yang terbuka untuk
> semua bisa terlibat di dalamnya. termasuk microsoft dll. kalau
> mau. dan sayangnya tidak sebaliknya.

Kalau saya, berhasil mengajak pengguna aplikasi pada platform proprietary untuk 
beralih menggunakan FOSS itu sudah suatu keberhasilan. Pilihan platform 
seringkali sulit untuk diubah seperti misalnya ketergantungan support terhadap 
hardware dari principalnya (karena bundled OEM) serta keterlanjuran investasi 
(untuk sebagian perusahaan tidak boleh mempercepat masa pakai/depresiasi suatu 
inventaris - termasuk itu OS dan aplikasinya). Sehingga pendekatan dual boot 
dan FOSS pada platform proprietary seringkali tidak bisa dihindarkan. Tapi 
kalau beralih aplikasinya saja biasanya lebih mungkin. Setidaknya ini bisa 
bertahan sampai pengadaan untuk masa berikutnya, baru bisa didorong untuk full 
platform FOSS semua dengan OS Linux. Ini proses, masalah strategi implementasi 
tidak bisa dipaksa. Lha kalau dihadapkan sama ideologi ya pasti buyar :))

> kompleksitas akan berubah menjadi mudah kalau semakin hari
> semakin banyak orang menggunakan linux. mari menjadi pengguna
> linux yang fanatik. ya, menjadi pengguna saja. nggak susah
> kan :-) kita sudah merasakan kesulitan di awal-awal era flash dan
> skype. jumlah pengguna adalah faktor penentu utama.

Kalau sudah banyak yang terbiasa menggunakan FOSS maka beralih ke full platform 
itu cuma masalah waktu.

Jadi saya setuju memperbanyak pengguna FOSS namun khusus untuk Linux sebagai 
platform OS sebaiknya bertahap mengikuti kebutuhan dan menyesuaikan dengan 
situasi. Memilih strategi yang paling bersahabat :))

_______
Regards,

M. Salahuddien


--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke