On Sun, 27 Nov 2011 07:44:03 +0700
Ahmad Sofyan <[email protected]> wrote:

> > 
> > glibc boleh sama versinya, tapi kalo gcc-nya beda & compile-flagnya beda
> > sama saja bo[kh]ong, ;-)
> > 
> 
> jadi dependensi yang sedemikian itu memang perlu kita terima apa adanya ya 
> pak :-)

tentu saja, khan itu pilihan.

> 
> >> 
> >> Point saya, pertama hardware semakin murah. Prosesor juga semakin kenceng, 
> >> semakin murah. Memory juga sama. Bahkan konon katanya Java yang dikenal 
> >> sangat haus (baca: boros *grin*) sumber daya itu, tetap dipelihara bahkan 
> >> dikembangkan terus, agar perusahaan prosesor bisa tetap hidup. Artinya 
> >> orang dipaksa untuk upgrade hardware terus..
> > [citation needed]
> > 
> 
> Makanya saya tulis konon, karena hanya saya baca di sebuah milis.. :-) 

makanya saya tulis seperti itu, biar saya juga bisa ikut baca.

> 
> > yang saya tahu, supaya performance Java dapat optimal, maka H/W harus
> > dioptimize untuk running Java apps.
> > 
> > dari mana anda dapat menyimpulkan h/w semakin murah? pengalaman sy
> > harga h/w dari jaman dulu (1990-an) sampe sekarang nggak berubah banyak
> > (sekitar 6-8jt-an). memang benar kita dapat memiliki sistem dengan
> > harga mulai dari 2jt-an, tapi apakah sesuai dengan kebutuhan kita?
> > 
> 
> Kalau yang ini, kita sama-sama tahu kayaknya. Coba bandingkan harga memory, 
> prosesor atau hard disk hari ini dan 4 tahun yang lalu.
> 

harganya (kurang/lebih) tetap kan? barang 4 tahun lalu sudah nggak ada
jaman sekarang, barang sekarang belum ada 4 tahun yang lalu.

> > 
> > sejak sy menggunakan sistem Linux tahun 1994 smp sekarang belum pernah
> > menerima kiriman .deb ataw .rpm tapi proaktif mengunduhnya dari sumber
> > kalo memang diperlukan. dan ada alien dan rpm2cpio yang dapat saya
> > andalkan.
> > 
> 
> Mungkin karena Anda akademisi di bidang informatika pak, dengan koneksi 
> Internet yang baik.. hal-hal seperti dependensi tidak akan menjadi masalah 
> untuk bapak. 
> 

awalnya anda menyatakan kerepotan saat menerima file .deb ataw .rpm,
apakah ini berkaitan dengan aplikasi proprietary? tidak perlu ada
masalah dependensi kalo kita "stick" pada distro.

> > apakah yang anda maksud "koneksi ke repositori" adalah internet?
> > repositori tidak cuma internet, bisa server lokal, bisa dvd/cd-set.
> > saya beli Mandriva Powerpack 2006 dapat 2dvd+10cd+dokumentasi digunakan
> > di Merauke yang koneksi internetnya un-reliable tidak ada masalah.
> > 
> 
> Justru karena kondisi dependensi yang seperti ini, membuat kita harus membawa 
> DVD kemana-mana. Dan jika ada teman yang mau instal aplikasi, harus 
> memastikan distronya sama dengan DVD yang kita bawa. Kalau beda, tidak bisa 
> diinstal.
>  

so what gitu lo ;-) cd/dvd tersebut bisa ditumpahkan ke external hdd,
bisa bikin duplikatnya, dll. kalo ada teman anda yang beda distro, bisa
anda compile-kan langsung dari source-nya. bukankah aplikasi untuk
winxp juga tidak bisa diinstall pada winme?

> >> 
> >> Kesimpulannya, aplikasi2 user space perlu dikompilasi statik agar 
> >> independen, multi distro. Memudahkan pengguna.
> > 
> > kesimpulan yang menyesatkan ;-(
> > 
> 
> Sesat di mananya ya? Kesimpulan tersebut tidak mengharuskan, tapi '_perlu_'. 
> Atau saya ralat: aplikasi desktop _harus_ dikompilasi statik, sehingga 
> menjadi aplikasi portabel yang bisa diinstal tanpa dependensi aplikasi lain 
> (kalau ini mengharuskan, biar fasis sekalian :-)) Gimana pak, apakah saya 
> masih menyesatkan? :-)

menyesatkan! karena mudharat-nya lebih besar dari manfaat.

> 
> > sistem kita "already has library required," baik yang disediakan oleh
> > glibc, libgcc, maupun desktop-environment+X11. "Most of the time, your
> > application only need those library" jadi ngapain lagi maksain pake
> > library statik/privat.
> > 
> 
> Karena bapak lihat sendiri di visualisasi grafik awal thread ini, bahwa 
> aplikasi di Linux tidak hanya butuh glibc, libgcc maupun library X11 saja. 
> Tapi juga library antar aplikasi yang sering overkill. Kalau ada pengalaman 
> maintain beberapa paket (atau mungkin satu distro), akan paham betapa 
> ribetnya. Apalagi jika satu tar-ball menjadi banyak rpm atau deb.

saya pernah menjadi 'tester' distro RockLinux (www.rocklinux.org)
tahun 2002-an. distro ini mirip Gentoo yang compile sendiri dari source,
jadi 'distro' ini cuma menyediakan script2 untuk kompilasi plus patch
supaya mulus. tidak ada masalah dalam dependensi, cuma kompilasi-nya
lama bisa sampe 4hari (dengan pc athlon 550Mhz, ram 512mb, hdd 80gb),
karena satu aplikasi terkadang dikompail 3 kali.

beberapa kali saya bikin sendiri .rpm karena distronya sudah
out-of-support oleh vendor. kadang perlu ada penyesuaian (patch) agar
bisa dikompail dengan library lama, tapi ini tidak masalah.

> 
> > pengguna hanya perlu mengandalkan pada distro-nya, ngapain juga pusing
> > mikirin distro lain, developer melepas kodenya dalam bentuk tarbal,
> > tugas distro-lah yang mengemasnya apakah .rpm atau .deb atau yang lain.
> > 
> > itulah keindahan free-software.
> 
> Iya pak.. sayangnya keindahan itu satu paket dengan kelemahan. Sesama pemakai 
> blankOn yang beda versi aja sulit untuk tuker-tukeran aplikasi.
> 

that's natural!

> --
> Ahmad Sofyan

anda mencampur-adukan peran/fungsi developer, vendor (distro/packager)
dan user. ini yang membuat anda mengambil kesimpulan yang menyesatkan.
kalo anda mau mendalami lagi filosofi UNIX dan sistem operasi yang
benar, saya yakin anda tidak akan menyarankan untuk membuat aplikasi
dengan librari statik.

salam
YK

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke