On 11/27/2011 11:02 AM, Preman Terminal wrote:
On Sun, Nov 27, 2011 at 7:44 AM, Ahmad Sofyan<[email protected]> wrote:
Sesat di mananya ya? Kesimpulan tersebut tidak mengharuskan, tapi '_perlu_'.
Atau saya ralat: aplikasi desktop _harus_ dikompilasi statik, sehingga menjadi
aplikasi portabel yang bisa diinstal tanpa dependensi aplikasi lain (kalau ini
mengharuskan, biar fasis sekalian :-)) Gimana pak, apakah saya masih
menyesatkan? :-)
Mungkin sampean bisa memulai utk membuat distro yg mewujudkan ide
sampean ini Pak. Kalau hasilnya baik, tentu nanti bakal banyak yg mengikuti.
Atau mungkin sudah ada iso yg bisa diunduh Pak?
Maaf minta ijin gali kubur lagi.
Sebenarnya ada beberapa tim pengembang yang menggunakan paradigma ini.
Menurut saya untuk masalah ini tidak perlu saklek antara harus kompilasi
statik atau dynamic linking. Kita lihat kebutuhan aplikasinya dan sifat
library pendukungnya seperti apa. Untuk library populer yang sering
digunakan, shared library tentunya lebih menguntungkan, tapi tidak
simpel juga pada praktiknya.
Dari pengalaman, setidaknya ada dua kasus saat dependensi terasa
mengganggu. Pertama, ada aplikasi yang benar-benar butuh satu versi
spesifik library (karena sifat library dependensinya), begitu upgrade
langsung mogok karena harus pakai file .so versi sekian dan butuh fungsi
anu yang sudah berubah namanya di versi lainnya. Saya mikirnya sih,
kenapa tiap bikin versi baru harus bikin perubahan sedemikian
drastisnya, sampai-sampai aplikasi lainnya harus di-compile ulang, atau
malah dimodifikasi dari source.
Kedua, ada aplikasi berbasis DE tertentu, yang kadang butuh package
besarnya sekian megabyte, sekedar untuk eyecandy (evince butuh
gnome-icon-theme). Kebayang betapa borosnya kalau kita pakai WM dengan
mayoritas aplikasi GTK/Gnome dan cuma butuh satu aplikasi KDE,tapi
aplikasi KDE satu ini 'menyeret' puluhan dependensi segede gajah.
--
今私は風になる 夢の果てまで
ヒュルラリラもっと強くなれ ヒュルラリラ目指すarcadia
--
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis