Salam kasih untuk semua saudaraku, Ingin rasanya memberikan masukan yang dapat kita bahas bersama, saya hanya ingin mengemukakan pendapat karena mungkin ada sedikit kekeliruan yang menyebabkan banyak orang berdalih "Buddha Sakyamuni makan daging".
Demikianlah pendapat saya: Seorang pelepas duniawi tiada lagi yang dilekat, tiada lagi yang disebut milikku, tiada lagi sang aku, tiada sesuatu yang membuatnya menjadi belenggu, tiada niat untuk melakukan satu tindakan yang dapat menimbulkan akibat pada kehidupan berikut, tiada lagi nafsu indera. Seorang pelepas duniawi tiada niat ingin memiliki sesuatu, semua telah dilepas, kesehariannya hidup sederhana, makan secukupnya, selalu sadar, selalu waspada, tindak-tanduknya didasari penuh kesadaran. Seorang pelepas duniawi menerima makan bukan dilihat dari apa yang dimakan, tetapi sebagai seorang pelepas duniawi selalu memberikan kesempatan kepada mereka yang ingin melakukan kebajikan, bahkan dengan niat tulus seseorang mempersembahkan racun sekalipun (dengan tidak menyadari bahwa makanan itu beracun) seorang pelepas duniawi menerimanya untuk dimakan, karena yang dinilai bukan lagi makanan apa yang diberikan melainkan dilihatnya kesempatan orang berdana untuk berkah orang yang memberikan. Seorang pelepas duniawi tidak ada lagi daging, sayur, benda, racun, madu, susu, dan lain sebagainya di matanya, selalu dihatinya terbuka lebar bagi mereka yang ingin melakukan kebajikan. Demikian lah seorang pelepas duniawi apalagi seorang Arahat Samma SamBuddha, Sakyamuni Buddha. Guru Buddha tidak pernah mengatakan dalam sutta manapun, bahwa beliau makan daging, kalau diketahuinya dari salah satu orang berdana dengan mengatakan bahwa ini adalah daging untuk dipersembahkan kepada Buddha, berarti ada niat dalam orang yang memberikan dengan memusnahakan kehidupan satu makhluk untuk kepentingan para Buddha, guru Buddha tidak akan menerimanya. Untuk itu saya ingin mengemukakan pendapat bahwa "Buddha Sakyamuni sendiri makan daging" itu adalah statement yang tidak tepat. Bagi mereka pelepas duniawi hanya menerima dari pemberian orang yang ingin berdana, bila yang diberikan untuk dimakan, maka dimakannya pemberian tersebut, bila yang diberikan untuk dipakai, maka dipakainya pemberian tersebut. Semoga bermanfaat. Salam Metta selalu, Akwang -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Herman Sent: Thursday, December 01, 2005 8:05 AM To: [email protected] Subject: Re: [MABINDO] Tidak Makan Daging --> Jadi Suci? Yang Benar Aja! ----- Original Message ----- From: [EMAIL PROTECTED] Saya barusan membaca satu bagian dari buku Ajaran Buddha Menuju Hidup Bahagia, karya Dr. Tan Choo Kim. pada halaman 12 terdapat kalimat sbb: Untuk menjadi suci, tentu saja kita tidak boleh mengkonsumsi daging sama sekali. Karena bila kita tidak ingin makan daging, maka hewan-hewan yang malang tersebut tidak mungkin disembelih.s Reply : Pagi, Oom Abin...ngaceng teruus nih ye Dari Sudut Theravada : = makan daging atau makan ulat belatung tidak ada urusan dengan tingkatan batin, apakah suci atau bejat. contoh Sakyamuni makan daging, Devadatta juga makan daging. Oom Abin dan Ogut juga makan daging. = seorang Dr. Tan hanya berpikir hukum bisnis penawaran & permintaan aja.....dia lupa dalam beberapa kebudayaan atau agama ada ritual tumbal/sesaji berbentuk binatang/manusia yang dibunuh untuk persembahan kepada "yang Supreme". contoh nyata : orang Hindu itu umumnya vegitarian....tetapi darah berceceren dialtar DEWI Durga dari sudat Mahayana : = Mahayana India tidak mengenal CIACia, pada awal masuk ke Tiongkok Biksu Mahayana org India (Mahabiksu Kumarajiva(Ciumoloshe), Mahabiksu Paramiti, Mahabiksu Bodhidharma dst) juga tidak mengenal dan mengajarkan Ciacia. Ciacia di Mahayana dimulai sejak Han WU Tie (Raja Asoka versi Tiongkok), beliau begitu "tersentuh hatinya" saat membaca Kitab Suci Leng Yen cing, dimana dikatakan bahwa semua mahluk itu bersaudara dalam proses tumumbal lahir tanpa achir, maka Raja memerintahkan untuk semua umat Mahayana untuk ber-vegitarian dan menjadi Tradisi Mahayana Tiongkok, Mahayana Jepang/Korea/ Vietnam juga tidak vegitarian. Inilah pemahaman dari para Sesepuh Mahayana Tiongkok mengenai vegitarian, yang merupakan pemahaman mendalam mengenai Hukum Karma tumimbal lahir : "Manusia makan daging kambing dimeja makan, Kambing makan manusia dikehidupan mendatang/ Anak makan daging mamah yang menjadi kambing, mamah makan daging anak yang jadi ayam dikehidupan mendatang/ Thus, Dr. Tan seharusnya menulis : makan daging atau makan rumput sama aja, tetapi berbahagialah kalau seseorang telah menyadari bahwa dengan menghindari makan daging, sesungguhnya dia adalah Murid Buddha yang telah menyadari dalam batinnya secara mendalam tentang hukum karma tumimbal lahir, sehingga timbul welas asihnya untuk tidak makan daging, dan takut menanam benih karma "makan-dimakan, balas-membalas, sehingga sulit untuk memutus rantai siklus 6 alam samsara tidak bisa terputuskan selamanya bagi orang pemakan daging.....karena setiap hari senang makan daging......yang notabene menenam benih "buruk".................yang harus dilunasi dalam kehidupan mendatang. note : Seorang Arahat juga belum bebas dari karma buruk....ada beberapa Arahat dibunuh/dirajam,,,,,ada Arahatin mati diperkosa,,,,dst:=====why........karena..... ? Buddha juga pernah mengalami kelaparan dan harus makan makanan kuda selama 3 bulan saat terjadi Pacelik 3 bulan (cerita Mamai) ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/b0VolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ** MABINDO - Forum Diskusi Masyarakat Buddhis Indonesia ** ** Kunjungi juga website global Mabindo di http://www.mabindo.org ** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/MABINDO/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
