Oh, jelas tidak, tidak sesederhana itu memang. Di buku Ajahn Brahm juga dijelaskan, meskipun tampaknya satu atau lebih ciri2 Arahat terlihat pada diri seseorang hal tsb tidak lantas dpt meyakinkan bahwa orang tsb adalah Arahat. Perlu pengujian yg lama yg mungkin malah seumur hidup utk melihat apakah kualitas2 keArahatan memang ada atau sekadar cuma nampak sekilas saja. Di buku Mindfulness... ada cerita ttg seorang bhikkhu terkenal yg dihormati sebagai pakar meditasi. Bhikkhu ini pernah bikin heboh sebuah wihara hutan di Thailand krn telah dgn yakin sekali menyatakan dua orang anak kampung sebagai dua orang Arahat, yg lantas dlm beberapa saat setelah itu ditemukan fakta bahwa dua orang anak tsb hanyalah manusia biasa yg belum mencapai tingkat kesucian apa pun.
Kita manusia sering terjebak pada dua kubub dari terlalu tinggi menilai pencapaian diri dan terlalu memandang remeh pencapaian kita. Kita yg belum terbebas dari delusi tidak akan pernah dpt memandang segala sesuatu sebagai adanya, jadi penilaian kita selalu bias dan terdelusi. Sedangkan seorang Buddha telah bebas dari semua itu, sebab itu Beliau mampu melihat dgn jernih dan apa adanya segala hal, termasuk juga soal keArahatan. Biar jelas soal ini, baiknya edisi Indoneis buku tsb ditunggu. Gak rugi, ada tanda tangan dan pesan singkat dari Ajahn Brahm khusus utk para pembaca Indonesia. Salam Chuang Sudah baca novel ABG Buddhis? http://trioratana.blogspot.com ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Cc: <[email protected]> Sent: Saturday, June 16, 2007 10:29 AM Subject: Re: [MABINDO] Bukan Arahat > Bro Chuang, > Walaupun demikian ciri yang dapat dijelaskan, namun itu hanya bisa > digunakan satu arah. > > Ketika orang terlihat takut dan marah, maka jelas ia bukan arahat. > Namun, apakah ketika orang tidak terlihat takut dan marah lantas orang itu > sudah arahat? > > Lagi pula takut dan marah kan gak bisa kelihatan, yang bisa kelihatan > adalah ekspresi dari takut dan marah itu. >
