Rumus Bahagia

Ada begitu banyak pendapat tentang bagaimana cara menjadi bahagia. Sebagian
ahli menuliskan metode mereka yang menganjurkan para pembacanya untuk
menerapkan suatu gaya hidup tertentu untuk dapat merasakan kebahagiaan dalam
kehidupan ini. Kitab suci agama-agama dunia mengajarkan para pemeluknya
ritual-ritual dan disiplin yang mereka yakini dapat membawa para pengikutnya
ke arah kebahagiaan sejati, di dunia ini maupun yang akan datang.

Di tengah-tengah keramaian itu, Buddha menawarkan sebuah rumusan sederhana
tentang bagaimana cara menjadi bahagia dalam hidup ini.

Pada suatu ketika, Raja Pasenadi yang datang mengunjungi-Nya berkata bahwa
dia selalu merasa senang setiap kali datang ke wihara untuk mengunjungi
Buddha. Karena sang raja akan selalu melihat wajah-wajah para bhikkhu yang
bahagia, yang selalu cerah dan tersenyum, yang berbeda dengan apa yang
pernah sang raja saksikan di wajah-wajah dari petapa lainnya.

Lalu Buddha menjelaskan bahwa para bhikkhu dapat memancarkan kebahagiaan
karena para bhikkhu tidak menyesali masa lalu, tidak mencemaskan masa depan,
dan senantiasa hidup dalam kedamaian di masa kini.

Tidak menyesali masa lalu
Tidak mencemaskan masa depan
Senantiasa hidup dalam kedamaian di masa kini

Sebuah formula kebahagiaan yang sederhana dan mudah diingat, bukan? Tetapi
yang selalu sulit diterapkan dengan sungguh-sungguh, sebab  kita terlalu
terbiasa untuk menyesali masa lalu. Karena kita selalu cemas terhadap masa
depan, dan karena kita sudah lupa bagaimana cara untuk duduk tenang di saat
ini.

Maka, berbahagialah mereka yang di siang hari terlalu sibuk untuk menyesali
masa lalu, dan di malam hari  terlalu mengantuk untuk mencemaskan masa
depan.

Chuang 160507
Sudah baca novel ABG Buddhis?


Kirim email ke